Sumpah Pemuda: Riwayatmu Kini

Tanggal 8 September yang lalu, di pagi hari sebelum saya berangkat kerja,  saya bertanya kepada Rajul (anak saya) apakah ada pekerjaan rumah (tugas yang diberikan guru untuk dikerjakan di rumah) hari ini. “Tidak ada, Bunda. Hanya disuruh guru menghafalkan sumpah pemuda.”

Lantas Rajul membaca nyaring-nyaring sumpah pemuda tersebut:

Satu, kami putra putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia

Dua, kami putra putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia

Tiga, kami putra putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia

“Loh, bukannya pakai putra dan putri?” saya tanya kembali. “Terus sepertinya yang pertama itu, bukan tanah air deh, bertumpah darah yang satu.” Lanjut saya. Suami saya mengomentari “Sepertinya sudah ada perubahan. Kan kalau bertumpah darah konotasi nya ada pembunuhan. Jadi sepertinya sudah diganti. Seperti teks proklamasi, kan tahunnya juga ada perbedaan” “Benar juga, ayah.” saya pikir.

Nah loh? Bukannya yang ketiga juga bukan seperti mengaku berbahasa tetapi menunjung bahasa persatuan. Sedikit berdebat tentang teks sumpah pemuda, akhirnya saya berusaha untuk mencari teks sumpah pemuda yang asli melalui mesin pencari google. “Tuh, kan, Yah.” Saya bilang kepada suami saya. Memang benar yang Bunda bilang. Yang pertama tumpah darah, terus yang ketiga menjunjung.” Suami saya bilang, “Ya sudah, nanti kita jalan-jalan aja ke museum Sumpah Pemuda.”

Sebelum jalan-jalan, paling tidak akan saya tuliskan dulu, bagaimana teks orisinil dari sumpah pemuda. Ini saya ambil dari www.akhnurhadi.com. (numpang pakai ya… trims sebelumnya”.

gambar teks sumpah pemuda
gambar teks sumpah pemuda

Jelas dong, yang asli seperti yang saya sampaikan. Dengan kata lain, mengapa kok anak saya yang kelas 3 SD diminta menghafalkan teks yang “sedikit” berbeda ya?

Perubahan mulai muncul dalam buku Muhammad Yamin (Sumpah Indonesia Raja, 1955). Muhammad Yamin adalah tokoh yang ikut merumuskan teks Sumpah Pemuda 1928. Perubahan meliputi urutan, ejaan, dan pemakaian kata:

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa jang satu, Bangsa Indonesia;

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertanah air jang satu, Tumpah Darah Indonesia;

Kami putera dan puteri Indonesia mendjundjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.  

Perubahan selanjutnya terkadi pada Peringatan Sumpah Pemuda dalam masa Soekarno (1958). Teks itu mengalami perubahan menjadi:

Kami Putra-Putri Indonesia mengakui satu tanah air, tanah air Indonesia;

Kami Putra-Putri Indonesia mengakui satu bangsa, bangsa Indonesia;

Kami Putra-Putri Indonesia mengakui satu bahasa, bahasa Indonesia

Perubahan teks juga terjadi pada Orde Baru dengan versi Soeharto pada 1978. “yaitu mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia; mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia; mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia.”

Sampul buku http://komunitasbambu.com/katalog/komunitas-bambu/sumpah-pemuda/
Sampul buku http://komunitasbambu.com/katalog/komunitas-bambu/sumpah-pemuda/

Nah, kalau mau lebih lengkap bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi, lebih baik baca bukunya Keith Foulcher tentang Sumpah Pemuda: Makna & Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia)

… Tapi logikanya kalau ikrar pemuda ini diganti, kok ya jadi aneh. Berarti bukan sumpah (atau ikrar) pemuda 1928 dong. Walau masih bulan depan, saya ucapkan Selamat ulang tahun ke 87 Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2015. Semoga Pemuda Indonesia mampu menunjukkan jati dirinya dan membuktikan prestasinya.

Pulang dari kerja, saya bertanya lagi kepada anak saya tentang bagaimana hafalan Sumpah Pemuda-nya? Dia menjawab “Gak jadi, Bunda. Kata Bu Guru waktu sekolahnya sudah selesai. Belnya sudah berbunyi.”

Catatan: Saya tanya kepada salah seorang kolega, diperingati sebagai hari apakah tanggal 28 Oktober? Jawabannya: hmmmhhh hari Pahlawan. Saya katakan kalau hari Pahlawan itu 10 November. Dia menjawab lagi, Hari Kebangkitan Nasional yang kemudian dia ralat karena Kebangkitan Nasional katanya tanggal 20 Mei. Dia bingung, hari apa ya? Ketika saya tanya kepada Rajul dengan pertanyaan yang sama, dia menjawab: itu adalah hari lahirnya lagu Indonesia Raya, terus Kongres Pemuda yang pertama.

Bunda akan kasih jempol bunda buat Rajul.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s