Mereka pahlawanku, siapakah pahlawanmu?

“Selamat Hari Pahlawan, Semangat Kepahlawanan adalah Jiwa Ragaku” adalah tema yang diusung pada 2015 untuk memperingati Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November. Peringatan hari Pahlawan bukan hanya dengan upacara bendera dan kemudian mengheningkan cipta. (Saya ingat, terakhir upacara bendera adalah 17 Agustus 1995 di Lapangan Rotunda UI).

Kalau dulu para pahlawan adalah pejuang yang membela tanah air ini melawan para penjajah, saat ini tinggal semangatnya yang harus dipertahankan untuk membela bangsa dan negara ini mengingat hingga saat ini kita pun masih “dijajah” dengan banyak hal.

Mengapa dijajah? Kita belum bisa membebaskan diri kita dengan berbagai kepentingan penjajah, yang notabene bisa saja penjajah itu adalah diri kita sendiri. Saat kita mengagungkan dollar dan menganggap rupiah tidak lebih dari sekadar uang lecek yang dipakai hanya untuk berbelanja ditukang sayur atau membayar angkot karena memang harus dibayar kas maka kita masih dijajah.

Ketika kita lebih senang berwisata ke negara lain dengan alasan di negara ini obyek wisata tidak dikelola dengan profesional, maka kita tidak membela negara ini dengan mengubah pola pikir.

Coba kita sama-sama berpikir, apa yang akan kita dapatkan dengan eksplorasi ke tempat tujuan wisata domestik? Selain menikmatinya, kita bisa ikut memperbaikinya. Masalahnya, apakah kita masih peduli dengan itu semua.

Ketika kita menjual harta bangsa dan menggali membabi buta sumber daya alam, maka kita pantas mempertanyakan, apakah itu sifat kepahlawanan?

Ketika kita lebih senang menyisipkan bahasa asing atau bahkan pernuh berbahasa asing padahal dalam acara nasional, maka kita harus memikirkan kembali di mana letak rasa kebanggaan akan bahasa kita.

Lantas, siapakah pahlawan kita? Di benak saya, pahlawan bukan orang yang berjuang mengangkat senjata dan ketika dia wafat maka tempatnya di Taman Pemakanan Pahlawan. Tapi, dia yang membuat kita harus berpikir, menempatkan, dan bertindak sebagai orang Indonesia. Guru dan dosen yang mengajar dan mendidik tidak hanya untuk mendapatkan sertifikat profesinya, pengusaha kreatif yang terus-menerus membina usaha kecil sehingga menjadi berdaya, aparatur sipil negara yang melaksanakan semua aturan dengan kebajikannya, dan mahasiswa yang tidak hanya memilih kuliah di dalam kelas tetapi menempatkan diri sebagai mahasiswa yang peduli lingkungannya.

Setiap orang bisa mendefinisikan apa itu pahlawan, dan buat saya kita dapat menjadi pahlawan, untuk diri mereka sendiri, untuk orangtua yang tidak lelah mendidik dan memberikan kasih sayang, untuk pasangan yang selalu memberikan dorongan agar kita tetap berkarya, untuk guru-guru yang memberikan pengetahuan, untuk para tetangga yang telah menjadi keluarga terdekat, untuk para sahabat yang setia kepadanya, untuk teman yang pernah tidak sepaham, dan untuk para pemimpin bangsa yang memiliki komitmen membangun bangsa.

Rindu untuk orang-orang terkasih yang telah menjadi pahlawan terbaik dalam hidupku, Bapak, Mami, dan Bang Yasin.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s