Selamat jalan, Dek….

Saat saya menulis catatan ini, satu hari setelah kamu dipanggil Sang Pencipta. Saya yakin, kalau kamu membaca tulisan ini, kamu akan tahu, walaupun saya tidak pernah ada di samping kamu, tapi saya selalu ingat bahwa kamu adalah sama dengan saya. Sama-sama anak bapak dan mami. Kalau kita tidak pernah seiya sekata untuk banyak hal, bukan berarti kita tidak saling menyayangi, kan?

Sikap kita berdua seperti bumi dan langit. Tapi, tahukah kamu bahwa bumi dan langit walau berjauhan tetapi tetap terlihat dekat kan?

Banyak yang seharusnya masih bisa kita diskusikan, masih bisa kita bicarakan sebagai saudara. Tapi, memang penyesalan tuh tidak pernah ada di awal, selalu di akhir.

Dek, maaf kalau selalu bilang sama abang kalau kamu itu bandel. Gak pernah mau berobat kalau sakit. Gak pernah mau bicara apa yang kamu rasakan, kecuali saya melihat kamu orang yang keras, mungkin kata orang karena kamu terlahir sebagai leo. Toh, kamu adalah orang yang bertanggungjawab apalagi saat saya sudah pindah rumah.

Lucu juga ya, kalau baru sekarang saya sebut kamu adek. Bukan saya gak mau memanggil itu, tapi kita memang terbiasa hanya memanggil nama. Terakhir kita peluk-pelukan waktu abis sholat idul fitri, ya? Bahkan kita sempat foto-foto. Dan terakhir kita komunikasi via what’s app hanya satu kalimat saja. Selebihnya, bukan saya malas bicara dengan kamu, habis, kita memang sejak kecil selalu berbeda. Walaupun mami sering membelikan baju yang sama, mengajak ke tempat yang sama, tapi entahlah mengapa kita tidak dekat.

Saya sebenarnya iri loh sama kamu. Sejak kecil, kamu selalu dibanggakan karena kamu terlahir pas Indonesia merayakan kemerdekaannya 33 tahun, 17 Agustus. Makanya Dek, kamu diberi nama Titi. Tigapuluh Tiga. Huriyati dari bahasa Arab Huriyah, artinya kemerdekaan. Nah, pas banget kan. Bapak dan Mami memang sangat luar biasa memberikan nama kepada anak-anaknya, semua bermakna sangat dalam. Terus, sejak kamu lahir dan membawa pulang “si montok” ini ke rumah, ternyata kata mami, kamu terlilit tali pusar saat di dalam kandungan. Kata mami dan orang-orang lainnya, kalau terlilit tali pusar saat lahir, pasti jadi anak canti dan pantas pakai pakaian apapun juga. Bikin sirik gak sih? Sedangkan saya?

Dek, saya memang tidak pernah menangis akan kepergianmu. Bukan berarti saya tidak sedih akan kepergianmu. Saya tahu, Sang Pencipta sangat sayang sama kamu. Masak, saya harus bersaing dengan Tuhan dan kemudian melarang Tuhan bertemu dengan ciptaannya? Tuhan tahu, kamu sudah lelah dengan sakitmu.

Dek, untunglah kamu didamping seorang laki-laki yang juga sangat bertanggungjawab, selalu mendampingi hingga kamu pergi. Terima kasih, Frans “Faang Jangkung” Mustafa. Telah menjadi bagian dari kamu, Dek. Telah menjaga kamu sampai ke peristirahatan kamu yang terakhir.

Dek, kamu pasti senang karena sudah bertemu dengan mami. Kamu juga pasti senang karena tidak lagi merasakan sakit. Maafkan saya. Sejarah bahwa kita adalah adik kakak tetap akan sama dan tidak berubah. Sampai bertemu nanti. Selamat jalan, Dek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s