Gunung Nona: antara Keindahan dan Persepsi Lelaki

Mendapatkan tawaran dari kolega untuk mengunjungi Enrekang dari awal tidak pernah saya tolak. Mengapa tidak, cerita tentang keindahan Gunung Nona dan pemandangannya yang seperti di Swiss membuat saya bertanya-tanya “betulkah Enrekang memang indah?”

20151206_054304

Saat tiba di Enrekang, saya tidak bisa menikmati sama sekali keindahannya. Hanya gelap di hampir semua pandangan mata, kecuali ada titik-titik lampu yang juga tidak mampu menggambarkan bagaimana pemandangannya itu indah.

20151206_053529
Bamba Puang dari Depan Rumah Makan Bukit Indah, Enrekang

Setelah ngobrol panjang dengan teman sekamar (yang jenis kelamin jelas berbeda dengan saya), akhirnya kami beranjak ke atas tempat tidur masing-masing. Yes… saya tidur sendirian di atas satu tempat tidur per ukuran besar (bagian bawahnya), sedangkan dua kolega saya plus seorang anak nya tidur di tempat tidur bagian atasnya, dan sang sopir kami (yang asisten dosen di Unhas) tidur di atas ambal. Lengkaplah satu kamar berlima. Untuk menjamin keamanan saya, saya sampaikan pada teman-teman saya bahwa saya akan tidur pakai mukena saja deh. Piss.20151206_072536

Baru saja mulai memejamkan mata, tiba-tiba ayam sudah berkokok. Dengan kaget saya melihat jam, memangnya sudah subuh? Ternyata jam tangan saya baru menunjukkan pukul 23 malam. Ah…dasar ayam Enrekang. Dia gak tahu bahwa ini masih malam.

Saya terbangun ketika alarm hape berbunyi. Dan ayam masih sahut-sahutan tak terputus. Duh… masih ngantuk nih. Jam berapa sih? Saya akhirnya tidur lagi, dan saya terbangun kembali saat adzan subuh berkumandang dari hape saya. Saya dengar, rekan saya sudah di kamar mandi. Akhirnya saya bangun, sholat, dan kemudian mencoba keluar kamar.

Sama sekali tidak ada rasa dingin. Pemandangan di depan tempat kami menginap adalah bukit batu. Saya baru tahu kalau namanya adalah Bamba Puang.

Setelah foto-foto, saya melihat ke bagian belakang. Ah, akhirnya tampak juga Gunung Nona. Dalam bahasa Enrekang disebut Buttu Kabobong. Saya mencoba melihat, mengamati. Kenapa ya Buttu Kabobong ini disebut Gunung Nona. Sampai saya kembali ke Depok, saya tetap tidak mengerti.

20151206_054958
Buttu Kabobong (Gunung Nona)- Enrekang

Berusaha menebak, tapi kok hati kecil saya berontak. Beberapa kolega di kampus yang perempuan pun juga mengernyitkan dahi waktu saya tunjukkan foto gunung ini. Apa ya? Payudara? Kok gak mirip. Ada yang bilang seperti vagina. Saya kok gak setuju. Sama sekali gak ada mirip-miripnya.

Inilah kalau analogi atau perumpamaan yang bermain. Lebih banyak persepsi nya ketimbang menggunakan logico-empirico. Di luar persepsi itu, bagi saya keindahan gunung ini (yang juga dipersepsikan) tidak terbantahkan.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s