Truth…Beyond the Truth: In Memoriam Pak Bob Waworuntu

bob-waworuntu, 11 Maret 2016
11 Maret 2016

Pak Bob, saya selalu memanggilnya seperti itu. Terakhir perbincangan yang kami lakukan cukup lama adalah saat sarapan Jumat pagi pada 26 Agustus 2016. Seminggu kemudian bersua, masih dengan topik yang sama. Beliau cerita berapi-api tentang cucunya yang baru lahir dari anaknya yang sudah lebih dari 13 tahun menikah. Beliau sampaikan itulah kasih dan keajaiban Tuhan. Baru saja melewati usia 75 tahun di 29 April yang lalu, Pak Bob seperti kakek yang baru saja punya cucu pertama. Beliau juga cerita tentang penelitian yang sedang kami lakukan, yang diminta beliau khusus untuk dilakukan yaitu membantu Angkasa Pura, walaupun kemudian saya tidak terlibat penuh.

Terakhir beliau mengirimkan pesan via telepon genggam adalah saat beliau menyampaikan ucapan Selamat Idul Adha. Saya selalu ingat, tidak pernah sedikitpun agama menjadi perdebatan kami karena beliau selalu bilang, jadilah orang yang jujur, orang yang baik, dan hargai orang lain tanpa melihat agamanya. Yang penting kebaikan. Dia hanya menyesalkan kalau agama kemudian akhirnya membawa keburukan buat pemeluknya.

Hingga 6 Oktober yang lalu mendapatkan kabar jika beliau jatuh sakit dan kemudian berbagai berita tentang operasi dan koma. Setelah itu, kabar berikutnya hanya duka mendalam tentang berpulangnya beliau di penghujung malam ini. Beliau sangat berapi-api ketika cerita tentang penelitian. Saya akan sebut beliau adalah tokoh penelitian di bidang budaya dan sumber daya manusia (SDM) privat, sesuatu yang kemudian menjadi bidang yang juga saya geluti. Saya pernah mencoba menghitung berapa banyak pelatihan di bidang SDM yang pernah diberikannya, dan rasanya saya tidak pernah bisa tepat menghitung karena jumlahnya yang teramat banyak. Bukan hanya di swasta, tapi di berbagai instansi pemerintah juga dilakoninya.

Lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia beliau kemudian melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di State University of New York di Albany Amerika Serikat. Beberapa karyanya yang telah dipublikasikan antara lain adalah: Buku, Alat Ukur Penelitian berjudul ”Tata Kelola BUMN yang baik”, diterbitkan oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia; “Manajemen Sumber Daya Manusia”, tahun 1997 diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama; “Dasar-dasar Keterampilan Melayani Nasabah Bank”, tahun 1997 diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama; ”Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Budaya Kinerja di Bandar Udara di berbagai Ibu Kota Propinsi di Kawasan Indonesia tengah dan timur, dimuat dalam Jurnal Terakreditasi Bisnis dan Birokrasi Vol. XII No.1, 2004;”Paradigma Membangun Insfratruktur GCG Yang kokoh pada BUMN”. Dimuat dalam Bisnis dan Birokrasi Jurnal Terakreditasi Vol. XII No.2. Mei 2004; Kajian Yuridis dan Empiris terhadap Pelaksanaan Kerjasama Pengelolaan Aset Pemerintah Propinsi DKI Jakarta dengan Pihak Ketiga, diterbitkan oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia Desember 2003; ”Kajian Yuridis dan Empiris Kelembagaan Biro Hukum Pemerintah Propinsi DKI Jakarta” Diterbitkan oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Desember 2003; Studi Budaya Perusahaan Perum Perumnas, Jakarta, tahun 2005. Penelitian Studi Budaya Kerja Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta, tahun 2005; Studi Budaya Organisasi Universitas Indonesia, Jakarta, tahun 2005.Buku terakhir diterbitkannya 2016 Penerbit Obor dengan Judul Perilaku Organisasi.

Ketika beliau menyerahkan mata kuliah Metode Penelitian Administrasi pada tahun 2001 kepada saya, saya seperti mendapat durian runtuh. Sebagai seorang yunior saat itu, mata kuliah ini adalah mimpi buruk bagi banyak mahasiswa karena Pak Bob selalu menginginkan ketelitian. Dari cerita banyak mahasiswa bimbingannya, bolak balik ke rumahnya di Pondok Indah untuk belajar mengolah data adalah sesuatu yang jadi rutinitas bagi sebagian mahasiswa pasca sarjana yang dibimbingnya. Terlambat saja beberapa menit dari yang dijadualkan, maka beliau akan keras menolak bimbingan. Disiplin adalah bagian dari peninggalannya.

Tahun 2014 ketika kami berkunjung ke kediamannya di Kintamani Bali, beliau menyajikan makanan khas Manado, tempat kelahirannya. Woku Belanga hingga panada dihidangkan oleh Bu Maria, isteri tercinta  yang juga seorang pakar tenun. Pak Bob Waworuntu cerita tentang sejarah Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, tempat kemudian beliau mendapatkan gelar tertinggi dalam bidang pendidikan sebagai Guru Besar. Beliau adalah bukti sejarah yang dengan senyum dan perkatannya selalu membuat damai. Convince yourself! saat saya bingung dengan tema disertasi yang akan saya tulis

Dengan tubuh tambunnya, beliau menasehati banyak orang tentang hidup sehat. Beliau sangat menjaga makanannya, hanya makan rebusan seperti singkong dan jagung. Jadi, ketika beliau habiskan semangkok ketupat sayur bersantan, bagi saya adalah sesuatu sekali. Semangkok ketupat sayur menjadi bukti bahwa Pak Bob mencintai kuliner. Ketupat sayur yang beli dan harganya hanya Rp. 7.000,-

Selamat jalan, Pak Bob. Dalam kedamaian malam 26 Oktober 2016. Sang Guru Kebajikan dan Kebijakan. Hanya Tuhan yang tahu apakah Truth…Beyond the Truth. Rest in Peace.

Depok, 26 Oktober 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s