All posts by Lina Miftahul Jannah

Lina Miftahul Jannah. Begitu ayah saya memberikan nama. Katanya sih artinya kunci surga. Duh berat banget menyandang nama ini. Tapi, itulah hebatnya ayah. Saya menyebutnya dengan panggilan Bapak. Tapi kadang-kadang dengan keisengan anak-anaknya, dipanggil juga dengan sebutan Babeh. Ibu saya, saya biasa memanggil dengan mami, sudah meninggal, hampir 10 tahun yang lalu. Saya anak pertama, adik-adik saya ada 5 orang, Hanif Muslim, Titi Huryati, Muhamad Ilham, Khusnul Khatimah (meninggal saat dilahirkan), dan Farah Milkiyah. Repotnya punya suami yang punya motto " no vacation for journalist". Maklum wartawan. Muhammad Yasin Sipahutar.

Terima kasih, Mas Iwan…

Hari ini 23 Mei 2017, mungkin bisa dianggap hari terbaik lagi. Lama sekali saya tidak pernah berada satu forum, satu meja, satu diskusi dengan sosok ini. Jika mengingat kembali, mungkin lebih dari 16 tahun yang lalu, saat saya masih aktif mengajar di sosiologi. Kalau ditanya, apakah saya deg-degan… wah saya justru terharu biru ketika mendengar akan bertemu dengan sosok yang akhirnya membawa saya menjadi dosen. Sosok yang kemudian menjadi panutan sebagai akademisi. Mungkin saya saja yang merasa ke-geer-an sendirian. Tapi, biarlah orang bebas memberi interpretasi.

Iwan Gardono Sujatmiko, profesor pada bidang sosiologi. Kalau ditanya apa kaitannya saya dengan sosiologi, maka inilah mystori dan bukan histori. Saya mahasiswa tahun ketiga di UI. Saat kemudian ada perekrutan asisten mahasiswa untuk mata kuliah statistik sosial dan tiba-tiba mengubah banyak rencana hidup saya.

Selembar surat menyatakan kalau saya diterima menjadi asisten mahasiswa ditandatangani oleh Dr. Iwan Gardono. Duh, setahu saya koordinator mata kuliahnya kan Dr. Tamrin Amal Tomagola. Siapa Iwan Gardono? Pertanyaan ini berkecamuk begitu rupa sampai kemudian pertanyaan itu dengan sendirinya terjawab dalam perjalanan saya menjadi asisten di mata kuliah ini. Lulusan summa cum laude dari Harvard University. Tahu gak apa yang dimaksud dengan summa cum laude? Dari investopedia.com, saya dapat informasi seperti ini. Cum laude” is a Latin term that translates to “with honor” in English. “Magna cum laude” means “with great honor,” and “summa cum laude” means “with greatest honor.” Sepertinya saya gak perlu menerjemahkan ini kan? Intinya, he is one of the greatest. Biasanya hanya 5% orang yang memperoleh gelar ini.

Dari sinilah, saya kembali mencintai hitung-hitungan. Mulai menemukan makna bahwa harus menghargai orang siapa pun dia. Saya yang masih mahasiswa diberikan tanggungjawab, diberikan kepercayaan. Tidak melihat orang dari tampilan semata, tetapi dari hati dan pikirannya. Saya teringat ketika saya ingin melanjutkan studi S2, Mas Iwan menyebutkan dalam surat rekomendasinya bahwa sebenarnya dia menginginkan saya studi di luar negeri. Duh, terharu banget… “Gak apa-apa kamu S2 di Administrasi. Kamu kan orang sosio yang dikuliahkan di administrasi.” Begitu yang pernah saya dengar ketika saya bilang apakah saya melanjutkan ke Administrasi atau Sosiologi. Dan di awal tahun 2003 bertemu beliau dan beliau bertanya sambil bercana “Berapa honor sebagai Sekretaris Departemen Ilmu Administrasi?” Memang, sejak medio tahun 2000, saya akhirnya memutuskan kembali ke habitat saya di Ilmu Administrasi. Sedih juga memutuskan untuk meninggalkan Sosiologi UI dan orang-orang di dalam membawa kenangan luar biasa untuk saya, untuk menjadi saya yang sekarang. Meninggalkan bukan secara fisik, karena saya toh masih bertemu dengan kawan-kawan Sosio, tapi meninggalkan mata kuliah-mata kuliah yang menjadi dasar buat saya.

Menyitir dari jargon yang ada dari laman UI saat beliau memperoleh penghargaan sebagai Dosen Berpretasi di Universitas Indonesia: Beriman, Berilmu, dan Beramal… Terus lah berkarya, Mas Prof… Terima kasih.

Dari Depok untuk Indonesia lebih Baik

Advertisements

E-filing… jangan pakai safari ya…

Duh kalo sudah Maret gimana rasanya. Yang wajib pajak tahu rasa resah gelisah karena harus MPS, alias menghitung pajak sendiri, yang harus dilaporkan selambatnya setiap 31 Maret , kalau lewat waktu, sementara ini kena denda deh 100 ribu rupiah. Untungnya, tahun ini lapor pajak diperpanjang hingga 21 April 2017, walaupun kalau ada yang kurang bayar tetap selambatnya 31 Maret loh.

Nah, pengalaman lapor pajak dengan daring (online) melalui e-filing, dari dua tahun lalu, tahun lalu, hingga tahun ini, sempat kesal. Berkali-kali mencoba mengakses, memasukkan data melalui e-filing, sampai akhirnya mentok tidak dapat disimpan dan dikirimkan. Sedih banget. Capek mesti entri satu per satu. Sampai akhirnya tersadar bahwa melaporkan pajak gak poleh pakai safari. Sempat kapok, tapi namanya juga kewajiban.

Maksudnya apa ya, kok gak boleh pakai safari? Safari yang dimaksud bukan pakaian sejenis jas. Bagi pengguna laptop merek apple pasti tahu bahwa safari biasanya digunakan seperti halnya pengguna microsoft menggunakan mozilla atau chrome. safari icon

Ini tampilan safari. Ternyata, safari belum kompatibel dengan e-filing alias e-filing belum pro untuk pengguna macbook seperti saya yang senang menggunakan safari dan bukan pakai Mozilla atau Chrome.

Jadi, buat teman-teman yang mau lapor pajak, sekali lagi lupakan sementara safarinya.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

Savory Cupcakes with Sausage, Cheese, and Celery

20170313_162435Seharian di rumah karena sakit, bukan berarti berhenti kreatif loh. Karena baru bedah mulut untuk angkat gigi bungsu, membuat saya hanya bisa makan yang lunak. Bosan hanya makan bubur ayam, minum jus,  dan puding, Akhirnya buka kulkas, eh ada beberapa bahan yang memunculkan inspirasi siang. Tidak perlu ditimbang atau ditakar khusus. Takaran hanya pakai sendok makan atau sendok teh saja. Modalnya hanya nekat dan memasak dengan cinta alias cooking with all my heart.  Hanya perlu 45 menit dari mulai persiapan hingga matang.

Mau cupcake tapi gak suka yang manis? Bisa banget kok. Ini resepnya. Maaf, resep ini dari hasil campur-campur aja loh.

Bahan-bahan yang dibutuhkan (Ingredients):

  1. Telur 4 butir (4 eggs)
  2. Gula pasir 7 sendok makan (4 spoons sugar)
  3. Terigu 12 sendok makan (12 spoons all-purpose flour)
  4. 1 batang sosis (ayam/sapi) atau dapat diganti dengan daging asap – 1 sausage or can be replaced with salami.
  5. 2 sendok makan daun seledri cincang halus,  (2 spoon chopped celery leaves)
  6. 50 gr keju parut (50 gr cheddar)
  7. 5 sendok makan margarin yang dicairkan (5 spoons of melted butter)
  8. 1/2 sendok teh garam (1/2 tsp salt)
  9. 1/2 sendok teh bubuk merica  (1/2 tsp pepper powder)
  10. 1/2 sendok teh bubuk pala (1/2 tsp nutmeg powder)
  11. 2 sendok teh pengembang (TBM atau SP) (2 tsp of emulsifier/baking powder)

Cara membuatnya: (Directions)

  1. Panaskan oven 200 derajat celcius, api atas dan bawah.(Preheat oven to 200 degrees Celsius, fire up and down)
  2. Kocok gula bersama telur dengan kecepatan penuh hingga mengembang. Tambahkan baking powder  (TBM/SP) ke dalam kocokan. Matikan mixer. (Beat eggs beate with sugar, add baking powder into beaten. Turn off the mixer.)
  3. Tambahkan gula sedikit demi sedikit, mentega cair,  bubuk pala, bubuk merica, garam, sebagian keju parut, daun seledri cincang, dan ratakan.(Add the flour -little by little-, melted butter, nutmeg powder, pepper powder, salt,  a half of grated cheddar, chopped celery leaves, and and mix lightly)
  4. Masukkan adonan ke dalam 3/4 kertas cupcakes (put the batter in 3/4 part of
    cupcakes papers20170313_162010
  5. Tambahkan di atas adonan dalam kertas cupcakes dengan potongan sosis dan parutan keju (Sprinkle small sausage piece and cheddar cheese on top.)
  6. Panggang selama 10-15 menit hingga berwarna keemasan. (Bake for 10-15 minutes until golden brown)
  7. Angkat dan hias dengan saus sambal di atasnya. Garnish with chili sauce on top.
  8. Finish.

Sajikan selagi hangat. Best served warm.

Selamat mencoba. Komentar anak saya: Enak bunda, saya kasih nilai 100 buat kuenya. Duh senangnya lihat anak-anak suka.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik.

Peraturan UI terkait penyelenggaran pendidikan

Berikut adalah peraturan rektor Universitas Indonesia tentang penyelenggaraan pendidikan tahun 2016 pada:

a. Jenjang Sarjana: peraturan-rektor-014-tahun-2016-tentang-penyelenggaraan-program-sarjana-di-universitas-indonesia

b. Jenjang Magister: peraturan-rektor-015-tahun-2016-tentang-penyelenggaran-program-magister-di-universitas-indonesia

c.  Jenjang Doktor: peraturan-rektor-016-tahun-2016-tentang-penyelenggaraan-program-doktor-di-universitas-indonesia

Cassava Croquette alias Kroket Singkong

20170215_193816Bosan dengan penganan singkong yng itu-itu saja? Biasanya singkong hanya dioleh dengan cara dibuat kripik, digoreng, direbus, getuk, kolak, tape, atau ketimus/lemet?

Nah ini ada olahan dari singkong, namun bias naik kelas menjadi lebih modern dan internasional. Namanya kroket.

Bahan:

  1. Kulit luar
  • Singkong 1 kg
  • garam secukupnya
  • 2 siung bawang putih dihaluskan
  1. Isian (Ragout)
  • daging sapi/ayam cincang 100 gr
  • wortel parut kasar atau potong dadu kecil
  • buncis potong kecil
  • bawang Bombay ½ buah ukuran sedang
  • seledri cincang halus
  • bawang putih 2 siung
  • mentega secukupnya untuk menumis
  • garam secukupnya
  • gula putih 2 sdt
  • lada/merica bubuk ½ sdt
  • bubuk pala ½ sdt

3. Lapisan luar20170215_192207

  • telur 1 butir
  • tepung panir/roti secukupnya

4. minyak goreng untuk menggoreng

Cara membuat:

  1. Kupas singkong, potong-potong, dan rebus hingga lunak bersama garam dan bawang putih yang telah dihaluskan
  2. Angkat, tiriskan, dan kemudian haluskan.
  3. bahan isian:
    • Cincang bawang putih dan bawang bombay
    • Tumis bawang putih dan bawang bombay dengan mentega hingga layu
    • Masukkan daging cincang, wortel, buncis, dan seledri. Aduk rata.
    • Tambahkan garam, gula, merica, bubuk pala sesuai selera.
  4. Ambil bahan kulit pipihkan, beri isian (ragout), tutup dan bentuk bulat lonjong (sesuai selera)
  5. Celupan bahan yang sudah dibentuk ke dalam kocokan telur
  6. Gulingkan ke dalam tepung roti. Lakukan hingga habis.
  7. Goreng dalam minyak dengan api sedang hingga warna coklat keemasan.

U20170215_193725ntuk isian dapat diganti dengan daging asap, keju mozzarella, atau sayuran lain sesuai selera. Kalau dengan isian keju namanya tidak lagi kroket tetap berubah menjadi cheese ball. Atau jika isian diganti sayuran semua, maka sebut sebagai yuro alias sayur di jero (di dalam). Sajikan dengan sambal botol atau cabe rawit. Pasti hot deh.

Selamat mencoba…

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

 

Bread pudding ala klappertaart alias Puding Roti

Saya mau berbagi lagi tentang resep lama penganan yang baru saja pagi tadi saya buat. Biasanya saya membuat ini kalau saya punya roti tawar sisa. Kebetulan hari ini saya lihat di dalam kulkas saya ada sedikit kismis, kenari, dan keju chedar. Hanya 45 menit, mulai persiapan hingga selesai. Pasti jadi. Tidak ada kata gagal.

Bahan:
4 lembar roti tawar (orisinil atau pandan), potong ukuran 2 x 2 cm
telur ayam 2 butir
susu tawar 500 ml
2 sendok makan gula pasir
½ sendok teh bubuk kayu manis
½ sendok teh bubuk pala

Dapat ditambahkan isian: kelapa muda potong kasar, kismis, kacang kenari/almond cincang, keju parut, choco chips, atau buah-buahan kering. Agar kismis tidak keras, masukkan sebentar ke dalam susu yang ada.

Cara membuat:

  1. Panaskan oven 180 derajat
  2. Oleskan mentega pada pinggan tahan panas/wadah alumunium foil atau cup/cetakan kue
  3. Kocok lepas telur dan gula
  4. Tambahkan susu ke dalam kocokan telur dan gula
  5. Masukkan kayu manis, pala
  6. Campurkan roti dan sebagian bahan isian ke dalam adonan susu, gula, dan telur.
  7. Pindahkan ke dalam loyang. Taburkan di atasnya dengan sisa bahan isian sesuai selera.
  8. Panggang dalam oven selama 30 menit hingga kuning kecoklatan.

Catatan:
– Tidak punya oven, tidak jadi masalah. Kita dapat mengukusnya kok.
– Jika ingin lebih gurih dapat menambahkan satu sendok mentega/butter cair ke dalam adonan.

Nah, bread pudding (puding roti) ini rasanya mirip dengan klappertaart dan enak bila dinikmati dalam keadaan hangat di pagi hari atau malam hari sebagai pengganti makan malam. Namun, kalau dinikmati dalam kondisi dingin juga tetap enak kok, apalagi ditemani secangkir teh tawar.

Semakin enak, kalau si kecil putra putri kita diajak membantu membuat. Menambah rasa cinta dalam penganan ini. Selamat mencoba.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

 

Truth…Beyond the Truth: In Memoriam Pak Bob Waworuntu

bob-waworuntu, 11 Maret 2016
11 Maret 2016

Pak Bob, saya selalu memanggilnya seperti itu. Terakhir perbincangan yang kami lakukan cukup lama adalah saat sarapan Jumat pagi pada 26 Agustus 2016. Seminggu kemudian bersua, masih dengan topik yang sama. Beliau cerita berapi-api tentang cucunya yang baru lahir dari anaknya yang sudah lebih dari 13 tahun menikah. Beliau sampaikan itulah kasih dan keajaiban Tuhan. Baru saja melewati usia 75 tahun di 29 April yang lalu, Pak Bob seperti kakek yang baru saja punya cucu pertama. Beliau juga cerita tentang penelitian yang sedang kami lakukan, yang diminta beliau khusus untuk dilakukan yaitu membantu Angkasa Pura, walaupun kemudian saya tidak terlibat penuh.

Terakhir beliau mengirimkan pesan via telepon genggam adalah saat beliau menyampaikan ucapan Selamat Idul Adha. Saya selalu ingat, tidak pernah sedikitpun agama menjadi perdebatan kami karena beliau selalu bilang, jadilah orang yang jujur, orang yang baik, dan hargai orang lain tanpa melihat agamanya. Yang penting kebaikan. Dia hanya menyesalkan kalau agama kemudian akhirnya membawa keburukan buat pemeluknya.

Hingga 6 Oktober yang lalu mendapatkan kabar jika beliau jatuh sakit dan kemudian berbagai berita tentang operasi dan koma. Setelah itu, kabar berikutnya hanya duka mendalam tentang berpulangnya beliau di penghujung malam ini. Beliau sangat berapi-api ketika cerita tentang penelitian. Saya akan sebut beliau adalah tokoh penelitian di bidang budaya dan sumber daya manusia (SDM) privat, sesuatu yang kemudian menjadi bidang yang juga saya geluti. Saya pernah mencoba menghitung berapa banyak pelatihan di bidang SDM yang pernah diberikannya, dan rasanya saya tidak pernah bisa tepat menghitung karena jumlahnya yang teramat banyak. Bukan hanya di swasta, tapi di berbagai instansi pemerintah juga dilakoninya.

Lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia beliau kemudian melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di State University of New York di Albany Amerika Serikat. Beberapa karyanya yang telah dipublikasikan antara lain adalah: Buku, Alat Ukur Penelitian berjudul ”Tata Kelola BUMN yang baik”, diterbitkan oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia; “Manajemen Sumber Daya Manusia”, tahun 1997 diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama; “Dasar-dasar Keterampilan Melayani Nasabah Bank”, tahun 1997 diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama; ”Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Budaya Kinerja di Bandar Udara di berbagai Ibu Kota Propinsi di Kawasan Indonesia tengah dan timur, dimuat dalam Jurnal Terakreditasi Bisnis dan Birokrasi Vol. XII No.1, 2004;”Paradigma Membangun Insfratruktur GCG Yang kokoh pada BUMN”. Dimuat dalam Bisnis dan Birokrasi Jurnal Terakreditasi Vol. XII No.2. Mei 2004; Kajian Yuridis dan Empiris terhadap Pelaksanaan Kerjasama Pengelolaan Aset Pemerintah Propinsi DKI Jakarta dengan Pihak Ketiga, diterbitkan oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia Desember 2003; ”Kajian Yuridis dan Empiris Kelembagaan Biro Hukum Pemerintah Propinsi DKI Jakarta” Diterbitkan oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Desember 2003; Studi Budaya Perusahaan Perum Perumnas, Jakarta, tahun 2005. Penelitian Studi Budaya Kerja Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta, tahun 2005; Studi Budaya Organisasi Universitas Indonesia, Jakarta, tahun 2005.Buku terakhir diterbitkannya 2016 Penerbit Obor dengan Judul Perilaku Organisasi.

Ketika beliau menyerahkan mata kuliah Metode Penelitian Administrasi pada tahun 2001 kepada saya, saya seperti mendapat durian runtuh. Sebagai seorang yunior saat itu, mata kuliah ini adalah mimpi buruk bagi banyak mahasiswa karena Pak Bob selalu menginginkan ketelitian. Dari cerita banyak mahasiswa bimbingannya, bolak balik ke rumahnya di Pondok Indah untuk belajar mengolah data adalah sesuatu yang jadi rutinitas bagi sebagian mahasiswa pasca sarjana yang dibimbingnya. Terlambat saja beberapa menit dari yang dijadualkan, maka beliau akan keras menolak bimbingan. Disiplin adalah bagian dari peninggalannya.

Tahun 2014 ketika kami berkunjung ke kediamannya di Kintamani Bali, beliau menyajikan makanan khas Manado, tempat kelahirannya. Woku Belanga hingga panada dihidangkan oleh Bu Maria, isteri tercinta  yang juga seorang pakar tenun. Pak Bob Waworuntu cerita tentang sejarah Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, tempat kemudian beliau mendapatkan gelar tertinggi dalam bidang pendidikan sebagai Guru Besar. Beliau adalah bukti sejarah yang dengan senyum dan perkatannya selalu membuat damai. Convince yourself! saat saya bingung dengan tema disertasi yang akan saya tulis

Dengan tubuh tambunnya, beliau menasehati banyak orang tentang hidup sehat. Beliau sangat menjaga makanannya, hanya makan rebusan seperti singkong dan jagung. Jadi, ketika beliau habiskan semangkok ketupat sayur bersantan, bagi saya adalah sesuatu sekali. Semangkok ketupat sayur menjadi bukti bahwa Pak Bob mencintai kuliner. Ketupat sayur yang beli dan harganya hanya Rp. 7.000,-

Selamat jalan, Pak Bob. Dalam kedamaian malam 26 Oktober 2016. Sang Guru Kebajikan dan Kebijakan. Hanya Tuhan yang tahu apakah Truth…Beyond the Truth. Rest in Peace.

Depok, 26 Oktober 2016

Temu Penggemar Donal Bebek

Baru saja terima postingan dari mba Veranika Rachman tentang foto 4 tahun yang lalu. Aduh… jadi inget gimana ramenya tuh Jakarta Convention Center.temu penggemar ADB 2012

Kalau mau tahu saya tahun 2012, itu di depan sebelah kiri nomor 2 yang pakai tas selempang. Makanya, kalau Bang David Togatorop bilang mau mengadakan Fun Run, boleh bikin stand. Kalau saya sih pasti ikut pilih lari aja deh, “lari dari kenyataan” aja…. Yang ada baru lima puluh meter udah angkat bendera putih. Gubrak….

Dari Depok untuk Indonesia yang lebih baik

 

Filsafat dan Etika Administrasi

SIlakan diunduh untuk kepentingan perkuliahan di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia.

  1. KONTRAK PERKULIAHAN FILSAFAT DAN ETIKA ADMINISTRASI
  2. Materi Perkuliahan 1 Filsafat dan Etika Administrasi
  3. Materi Perkuliahan 2 Filsafat dan Etika Administrasi
  4. Materi Perkuliahan 3 Filsafat dan Etika Administrasi
  5. Materi Perkuliahan 4 Filsafat dan Etika Administrasi
  6. Materi Perkuliahan 5-Filsafat dan Etika Administrasi

Dari Depok untuk Indonesia lebih baik.

 

Selamat Jalan Profesor Bhen

Kamis, 11 Pebruari 2016
Akademisi penggagas enam fase putaran roda desentralisasi, Bhenyamin Hoessein, wafat. Ia salah satu dari sedikit ahli pemerintahan daerah di Indonesia.
Salah satu persoalan pelik yang terus muncul dalam sistem ketatanegaraan Indonesia adalah hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sentralisasi berlebihan yang dianut semasa Orde Baru dianggap menghilangkan ciri khas daerah, karena sentralisasi lebih menghendaki keseragaman. Era reformasi lahir, desentralisasi membesar, daerah semakin mendapat tempat yang lebih layak dalam hal pembagian kue anggaran, misalnya. Pemilihan kepala daerah juga dibuat bersifat langsung.
Hubungan pusat dan daerah tak sesederhana yang dibayangkan di atas kertas, atau seperti dirumuskan dalam kalimat perundang-undangan. Ada dinamika yang begitu fluktuatif sehingga kadang-kadang perlu pendekatan lain di setiap daerah. Walhasil, perubahan kebijakan pun berlangsung relatif cepat. Perubahan demi perubahan UU Pemerintahan Daerah dan peraturan teknis yang mengikutinya dalam lintasan sejarah ketatanegaraan memperlihatkan betapa peliknya mengatur pemerintahan daerah. Itu sebabnya tak banyak orang yang mendalami secara utuh masalah otonomi daerah di Indonesia.

Satu dari sedikit orang yang berhasil menggeluti bidang ilmu dan hukum pemerintahan daerah di Indonesia adalah Prof. Dr. Bhenyamin Hoessein, SH. Ia percaya pada kekuatan kerangka hukum untuk menggerakkan dinamika desentralisasi.

Selama puluhan tahun, setidaknya sejak 1970, Prof. Bhen –begitu ia biasa disapa murid-muridnya—menggeluti dunia pemerintahan daerah. Ia laksana ‘kamus berjalan’ kebijakan otonomi daerah di Indonesia. Setiap mengajar kepada mahasiswanya di Universitas Indonesia dan beberapa kampus swasta, ia lancar bercerita tentang perubahan-perubahan kebijakan otonomi daerah di Indonesia sejak era kemerdekaan hingga era reformasi, yang ditandai dengan amandemen UUD 1945.

Dan, dunia hukum Indonesia baru saja kehilangan pria kelahiran Tegal, 10 Agustus 1939 itu. Di salah satu ruangan RS St. Carolus Jakarta, Sabtu (06/2) pukul 03.15 WIB, Prof. Bhen menghembuskan nafas terakhir. Ia pergi menghadap Sang Khalik, meninggalkan seorang isteri dan dua orang anak.

Beberapa hari sebelumnya, murid-murid Prof. Bhen datang secara bergantian ke rumah sakit untuk menjenguk. Namun kondisi Prof. Bhen saat itu tak memungkinkan lagi berkomunikasi verbal dengan tamu-tamu yang datang ke rumah sakit. Merekalah yang kini mewarisi ilmu yang diajarkan sang guru selama puluhan tahun. Sebagian dari muridnya pula yang mengantarkan jenazah Prof. Bhen ke pemakaman terakhir di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Ilmu yang diajarkan Prof. Bhen, tentu saja, tak ikut tertanam di dalam pusaranya

Seorang muridnya, Prof. Eko Prasojo, mengenang Prof. Bhen sebagai guru yang memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa di bidangnya, sangat detil dan teliti terhadap kata, konsep, dan kalimat. “Tulisan-tulisan beliau  memancarkan pengetahuan yang mudah dicerna oleh pikiran manusia biasa. Pernyataannya tajam, bagi yang belum biasa kadang kurang pas. Komitmennya pada pengembangan ilmu sangat besar,” kenang Guru Besar Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia itu.

Salah satu karya Prof. Bhen tentang pemerintahan daerah yang merekam perjalanan pemikiran, pandangan dan ilmu yang dia ajarkan adalah Perubahan Model, Pola, dan Bentuk Pemerintahan Daerah: dari Era Orde Baru ke Era Reformasi. Buku ini merekam perubahan-perubahan kebijakan pemerintahan daerah sejak 1974 hingga 2004. Selama rentang waktu itu pula Prof. Bhen terlibat langsung dalam penyusunan payung hukum pemerintahan daerah, UU No. 5 Tahun 1974, UU No. 22 Tahun 1999, dan UU No. 32 Tahun 2004.

Seperti diakuinya sendiri, pergulatan Prof. Bhen pada isu-isu pemerintahan daerah di lingkungan akademik tak bisa dilepaskan dari jasa ahli Hukum Administrasi Negara,Mr  Prajudi Atmosudirdjo. Prajudi-lah yang ‘berjasa membekali ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan masalah-masalah otonomi daerah’.

Menjalani masa kecil hingga SMP di Tegal dan SMA di Jakarta, Bhenyamin Hoessein pada awalnya lulus dalam bidang ilmu politik dari Universitas Nasional tahun 1965. Setelah lulus ia bekerja sebagai pegawai negeri di Lembaga Pertahanan Nasional. Sambil bekerja, ia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan berhasil diselesaikan pada 1970, fokus  dalam bidang hukum tata pemerintahan (tantra). Setahun kemudian, ia diangkat menjadi staf pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Ahli ilmu politik Prof. Miriam Budiardjo, berperan mengajak Bhenyamin mengajar di FISIP. Suatu kali ia menyebut Prof. Miriam sebagai orang ‘yang telah banyak memberikan bantuan dan dukungan terhadap pengembangan karir akademiknya’.

Pada tahun 1974 Bhenyamin juga berhasil meraih diploma administrasi pembangunan dari Institute of Social Studies, Den Haag Belanda. Ketekunan dan fokusnya pada isu otonomi daerah kemudian mengantarkan suami Seha Salim Bouzier itu terlibat dalam berbagai aktivitas yang relevan, mulai dari penelitian hingga seminar dan lokakarya. Bahkan dalam Seminar Hukum Nasional yang diselenggarakan Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) – dulu LPHN—Bhenyamin menjadi narasumber utama dalam topik otonomi daerah. Demikianlah tercatat misalnya dalam dokumentasi Seminar Pembangunan Hukum Nasional VII di Jakarta (1999), dan VIII  di Bali (2003), baik sebagai pemakalah kunci maupun sebagai pemakalah pembanding. Penghargaan atas jasanya bisa dilihat antara lain dari MIPI Award 2012 dari Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia.

Kritik atas Amandemen Pasal 18
Sebagai seorang akademisi, Prof. Bhen selalu berusaha menjaga konsistensi dan independensinya. Karena itu, tak mengherankan ia tak segan melayangkan kritik atas pembentukan norma hukum dalam perundang-undangan jika menurutnya ada kekeliruan. Kritik itu tak hanya disampaikan di ruang kuliah, tetapi juga di forum seminar yang diselenggarakan para pengambil kebijakan.

Sekadar contoh bisa dilihat pada penyelengggaraan seminar ‘Arah Pembangunan Hukum Menurut UUD 1945 Hasil Amandemen’ yang diselenggarakan di Jakarta, Mei 2006 silam. Di forum ini, Prof. Bhen mengkritik keras hasil amandemen Pasal 18 UUD 1945. Pada saat dilakukan amandemen, judul bab yang menaungi Pasal 18 tidak tersentuh. Akibatnya, bab VI tetap berjudul ‘Pemerintah Daerah’, tetapi dalam penerbitan UUD 1945 hasil amandemen judul bab itu berubah menjadi ‘Pemerintahan Daerah’. Penerbitan dari instansi lain akhirnya mengikuti ‘kesalahan’ itu.

Perubahan itu mungkin terkesan sepele. Tapi bagi Prof. Bhen, penggunaan istilah yang berbeda menyebabkan terjadi kerancuan dalam Pasal 18, Pasal 18A, dan Pasal 18B UUD 1945 hasil amandemen. Setelah UU No. 32 Tahun 2004 lahir, kata Prof. Bhen, konsep yang dipakai kian rancu. Ia melakukan kajian khusus tentang perubahan judul Bab VI UUD 1945 dari ‘Pemerintahan Daerah’ menjadi ‘Pemerintah Daerah’. Hasilnya, perubahan itu bukan sekadar kesalahan ketik, melainkan ada nilai historisnya.

Dalam seminar di Jakarta tahun 2006 itu, Prof. Bhen tanpa tedeng aling-aling ‘menyalahkan’ pihak Sekretariat Jenderal MPR yang mengubah judul Bab VI UUD 1945 menjadi ‘Pemerintahan Daerah’. Ini juga membuktikan kejelian Prof. Bhen sebagai akademisi, dan memberi warning agar tidak terjadi masalah di kemudian hari, seperti yang pernah ia khawatirkan saat membahas UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. “Dalam praktek kelak akan timbul banyak konflik antara provinsi dan kabupaten/kota dalam menyelenggarakan urusan wajib”. Sebuah kekhawatiran yang kini terbukti.

Putaran Roda Desentralisasi
Bagi Bhenyamin, desentralisasi laksana roda yang terus berputar. Fase pertama, 1903-1922, desentralisasi bergerak menuju efisiensi. Fase kedua, 1922-1942 bergerak menuju efisiensi dan partisipasi. Pada masa pendudukan Jepang, roda desentralisasi itu dirusak. Setelah Indonesia merdeka (1945-1959), roda desentralisasi kembali bergerak ke arah demokrasi (kedaulatan rakyat). Putaran keempat, 1959-1974, arahnya menuju stabilitas dan efisiensi pemerintahan. Putaran kelima dalam masa berlakunya UU No. 5 Tahun 1974 menuju ke efisiensi (dan efektivitas) layanan dan pembangunan.

Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap dalam Ilmu Administrasi Negara, 18 November 1995, Prof. Bhen menyinggung putaran keenam dimensi tujuan desentralisasi. “Menurut saya, dalam putaran keenam kelak tempat yang harus dituju berupa tempat yang subur dengan demokrasi dan efisiensi. Kedua nilai tersebut sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup bangsa Indonesia.”

Dua puluh tahun sudah berlalu setelah ‘ramalan’ Prof. Bhen itu disampaikan. Puluhan, mungkin ratusan, orang yang dibimbingnya di pascarsarjana, juga sudah menulis tentang otonomi daerah pada umumnya. Kebijakan tentang otonomi juga telah mengalami dinamika selama dua puluh tahun itu. Undang-Undang Pemerintahan Daerah sudah berkali-kali berubah, bahkan dalam waktu yang relatif singkat. Kenapa singkat? UU No. 23 Tahun 2014tentang Pemerintahan Daerah –yang mencabut UU No. 32 Tahun 2004—berlaku mulai 2 Oktober 2014. Hanya dalam hitungan bulan, sudah dua kali Wetini berubah. Terakhir dengan UU No. 9 Tahun 2015.

Dilihat dari kacamata akademik, gagasan tentang enam fase perputaran roda desentralisasi pasti berkembang seiring dengan perubahan kebijakan otonomi yang begitu cepat. Prof. Bhen sudah membuka jalan untuk melakukan kajian lebih lanjut. Apakah kini sudah memasuki fase ketujuh, atau malah mungkin sudah kedelapan? Kini, tinggal bagaimana murid-muridnya mengembangkan ilmu (dan hukum) administrasi negara, khususnya desentralisasi, yang telah ditinggalkan Prof. Bhen.

Ia juga mengakui sifat dinamisnya desentralisasi itu. “Dari perspektif sejarah selalu muncul isu di seputar desentralisasi. Isu tersebut tidak pernah tertuju pada desentralisasi yang telah diterima sebagai doktrin, tetapi mengenai berbagai aspek dinamisnya.”

Kehidupan manusia juga begitu dinamis, beranjak dari satu fase ke fase lain, bergerak terus laksana gelombang laut. Dan gelombang itu harus berujung di tepian. Prof. Bhen juga telah sampai pada tepian kehidupan duniawi di pagi yang hening menjelang waktu Subuh tiba, 6 Februari 2016.

Selamat jalan Prof. Bhen….

Muhammad Yasin