Category Archives: HobiQu

E-filing… jangan pakai safari ya…

Duh kalo sudah Maret gimana rasanya. Yang wajib pajak tahu rasa resah gelisah karena harus MPS, alias menghitung pajak sendiri, yang harus dilaporkan selambatnya setiap 31 Maret , kalau lewat waktu, sementara ini kena denda deh 100 ribu rupiah. Untungnya, tahun ini lapor pajak diperpanjang hingga 21 April 2017, walaupun kalau ada yang kurang bayar tetap selambatnya 31 Maret loh.

Nah, pengalaman lapor pajak dengan daring (online) melalui e-filing, dari dua tahun lalu, tahun lalu, hingga tahun ini, sempat kesal. Berkali-kali mencoba mengakses, memasukkan data melalui e-filing, sampai akhirnya mentok tidak dapat disimpan dan dikirimkan. Sedih banget. Capek mesti entri satu per satu. Sampai akhirnya tersadar bahwa melaporkan pajak gak poleh pakai safari. Sempat kapok, tapi namanya juga kewajiban.

Maksudnya apa ya, kok gak boleh pakai safari? Safari yang dimaksud bukan pakaian sejenis jas. Bagi pengguna laptop merek apple pasti tahu bahwa safari biasanya digunakan seperti halnya pengguna microsoft menggunakan mozilla atau chrome. safari icon

Ini tampilan safari. Ternyata, safari belum kompatibel dengan e-filing alias e-filing belum pro untuk pengguna macbook seperti saya yang senang menggunakan safari dan bukan pakai Mozilla atau Chrome.

Jadi, buat teman-teman yang mau lapor pajak, sekali lagi lupakan sementara safarinya.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

Savory Cupcakes with Sausage, Cheese, and Celery

20170313_162435Seharian di rumah karena sakit, bukan berarti berhenti kreatif loh. Karena baru bedah mulut untuk angkat gigi bungsu, membuat saya hanya bisa makan yang lunak. Bosan hanya makan bubur ayam, minum jus,  dan puding, Akhirnya buka kulkas, eh ada beberapa bahan yang memunculkan inspirasi siang. Tidak perlu ditimbang atau ditakar khusus. Takaran hanya pakai sendok makan atau sendok teh saja. Modalnya hanya nekat dan memasak dengan cinta alias cooking with all my heart.  Hanya perlu 45 menit dari mulai persiapan hingga matang.

Mau cupcake tapi gak suka yang manis? Bisa banget kok. Ini resepnya. Maaf, resep ini dari hasil campur-campur aja loh.

Bahan-bahan yang dibutuhkan (Ingredients):

  1. Telur 4 butir (4 eggs)
  2. Gula pasir 7 sendok makan (4 spoons sugar)
  3. Terigu 12 sendok makan (12 spoons all-purpose flour)
  4. 1 batang sosis (ayam/sapi) atau dapat diganti dengan daging asap – 1 sausage or can be replaced with salami.
  5. 2 sendok makan daun seledri cincang halus,  (2 spoon chopped celery leaves)
  6. 50 gr keju parut (50 gr cheddar)
  7. 5 sendok makan margarin yang dicairkan (5 spoons of melted butter)
  8. 1/2 sendok teh garam (1/2 tsp salt)
  9. 1/2 sendok teh bubuk merica  (1/2 tsp pepper powder)
  10. 1/2 sendok teh bubuk pala (1/2 tsp nutmeg powder)
  11. 2 sendok teh pengembang (TBM atau SP) (2 tsp of emulsifier/baking powder)

Cara membuatnya: (Directions)

  1. Panaskan oven 200 derajat celcius, api atas dan bawah.(Preheat oven to 200 degrees Celsius, fire up and down)
  2. Kocok gula bersama telur dengan kecepatan penuh hingga mengembang. Tambahkan baking powder  (TBM/SP) ke dalam kocokan. Matikan mixer. (Beat eggs beate with sugar, add baking powder into beaten. Turn off the mixer.)
  3. Tambahkan gula sedikit demi sedikit, mentega cair,  bubuk pala, bubuk merica, garam, sebagian keju parut, daun seledri cincang, dan ratakan.(Add the flour -little by little-, melted butter, nutmeg powder, pepper powder, salt,  a half of grated cheddar, chopped celery leaves, and and mix lightly)
  4. Masukkan adonan ke dalam 3/4 kertas cupcakes (put the batter in 3/4 part of
    cupcakes papers20170313_162010
  5. Tambahkan di atas adonan dalam kertas cupcakes dengan potongan sosis dan parutan keju (Sprinkle small sausage piece and cheddar cheese on top.)
  6. Panggang selama 10-15 menit hingga berwarna keemasan. (Bake for 10-15 minutes until golden brown)
  7. Angkat dan hias dengan saus sambal di atasnya. Garnish with chili sauce on top.
  8. Finish.

Sajikan selagi hangat. Best served warm.

Selamat mencoba. Komentar anak saya: Enak bunda, saya kasih nilai 100 buat kuenya. Duh senangnya lihat anak-anak suka.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik.

Cassava Croquette alias Kroket Singkong

20170215_193816Bosan dengan penganan singkong yng itu-itu saja? Biasanya singkong hanya dioleh dengan cara dibuat kripik, digoreng, direbus, getuk, kolak, tape, atau ketimus/lemet?

Nah ini ada olahan dari singkong, namun bias naik kelas menjadi lebih modern dan internasional. Namanya kroket.

Bahan:

  1. Kulit luar
  • Singkong 1 kg
  • garam secukupnya
  • 2 siung bawang putih dihaluskan
  1. Isian (Ragout)
  • daging sapi/ayam cincang 100 gr
  • wortel parut kasar atau potong dadu kecil
  • buncis potong kecil
  • bawang Bombay ½ buah ukuran sedang
  • seledri cincang halus
  • bawang putih 2 siung
  • mentega secukupnya untuk menumis
  • garam secukupnya
  • gula putih 2 sdt
  • lada/merica bubuk ½ sdt
  • bubuk pala ½ sdt

3. Lapisan luar20170215_192207

  • telur 1 butir
  • tepung panir/roti secukupnya

4. minyak goreng untuk menggoreng

Cara membuat:

  1. Kupas singkong, potong-potong, dan rebus hingga lunak bersama garam dan bawang putih yang telah dihaluskan
  2. Angkat, tiriskan, dan kemudian haluskan.
  3. bahan isian:
    • Cincang bawang putih dan bawang bombay
    • Tumis bawang putih dan bawang bombay dengan mentega hingga layu
    • Masukkan daging cincang, wortel, buncis, dan seledri. Aduk rata.
    • Tambahkan garam, gula, merica, bubuk pala sesuai selera.
  4. Ambil bahan kulit pipihkan, beri isian (ragout), tutup dan bentuk bulat lonjong (sesuai selera)
  5. Celupan bahan yang sudah dibentuk ke dalam kocokan telur
  6. Gulingkan ke dalam tepung roti. Lakukan hingga habis.
  7. Goreng dalam minyak dengan api sedang hingga warna coklat keemasan.

U20170215_193725ntuk isian dapat diganti dengan daging asap, keju mozzarella, atau sayuran lain sesuai selera. Kalau dengan isian keju namanya tidak lagi kroket tetap berubah menjadi cheese ball. Atau jika isian diganti sayuran semua, maka sebut sebagai yuro alias sayur di jero (di dalam). Sajikan dengan sambal botol atau cabe rawit. Pasti hot deh.

Selamat mencoba…

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

 

Bread pudding ala klappertaart alias Puding Roti

Saya mau berbagi lagi tentang resep lama penganan yang baru saja pagi tadi saya buat. Biasanya saya membuat ini kalau saya punya roti tawar sisa. Kebetulan hari ini saya lihat di dalam kulkas saya ada sedikit kismis, kenari, dan keju chedar. Hanya 45 menit, mulai persiapan hingga selesai. Pasti jadi. Tidak ada kata gagal.

Bahan:
4 lembar roti tawar (orisinil atau pandan), potong ukuran 2 x 2 cm
telur ayam 2 butir
susu tawar 500 ml
2 sendok makan gula pasir
½ sendok teh bubuk kayu manis
½ sendok teh bubuk pala

Dapat ditambahkan isian: kelapa muda potong kasar, kismis, kacang kenari/almond cincang, keju parut, choco chips, atau buah-buahan kering. Agar kismis tidak keras, masukkan sebentar ke dalam susu yang ada.

Cara membuat:

  1. Panaskan oven 180 derajat
  2. Oleskan mentega pada pinggan tahan panas/wadah alumunium foil atau cup/cetakan kue
  3. Kocok lepas telur dan gula
  4. Tambahkan susu ke dalam kocokan telur dan gula
  5. Masukkan kayu manis, pala
  6. Campurkan roti dan sebagian bahan isian ke dalam adonan susu, gula, dan telur.
  7. Pindahkan ke dalam loyang. Taburkan di atasnya dengan sisa bahan isian sesuai selera.
  8. Panggang dalam oven selama 30 menit hingga kuning kecoklatan.

Catatan:
– Tidak punya oven, tidak jadi masalah. Kita dapat mengukusnya kok.
– Jika ingin lebih gurih dapat menambahkan satu sendok mentega/butter cair ke dalam adonan.

Nah, bread pudding (puding roti) ini rasanya mirip dengan klappertaart dan enak bila dinikmati dalam keadaan hangat di pagi hari atau malam hari sebagai pengganti makan malam. Namun, kalau dinikmati dalam kondisi dingin juga tetap enak kok, apalagi ditemani secangkir teh tawar.

Semakin enak, kalau si kecil putra putri kita diajak membantu membuat. Menambah rasa cinta dalam penganan ini. Selamat mencoba.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

 

Kristal Pengetahuan: Hitam Putih Perpustakaan UI

Mahasiswa adalah perpustakaan

Kampus adalah pesta, buku, dan cinta. Itulah jargon yang selalu diingatkan oleh para senior atau dosen kepada mahasiswa baru. Artinya, selain keceriaan dan asmara, seorang mahasiswa juga harus serius belajar. Menjejakkan kaki sebagai mahasiswa di Universitas Indonesia (UI) mungkin rasanya dapat diibaratkan seperti saat seorang Neil Armstrong mendarat di bulan atau ketika sopir bajaj hendak belok. Hanya kita dan Sang Pencipta yang tahu. Antara senang, gugup, takut, semua jadi satu. Mungkin membandingkan dengan Pak Armstrong dan Pak Sopir adalah sesuatu yang berlebihan. Yang pasti, status jelas berbeda antara siswa dan mahasiswa. Kalau bahasa anak sekarang gegana, gelisah, galau, dan merana. Gelisah karena bingung apakah dosen yang akan mengajar sesuai gambaran yang diceritakan para senior sebagai dosen killer, galau karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan merana karena sepertinya tugas yang akan diberikan membuat tidak bisa tidur pulas.

Betul saja, saat dijelaskan rencana pengajaran selama satu semester oleh seorang dosen, pada awalnya kalimat demi kalimat terbaca dengan menyejukan, dan ternyata pada akhirnya “Loh kok, bukunya banyak sekali? Berbahasa Inggris dan buku-buku lama pula.” Akhirnya, dengan langkah berat namun harus, aku dan teman- temanku melangkahkan kaki menuju perpustakaan UI di dekat Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya). Bingung akan apa yang harus dilakukan dan arah yang dituju tiba-tiba, “Ada yang bisa dibantu?”, sapa seorang laki- laki paruh baya. Aduh, sapaan tersebut menentramkan hati kami yang labil. Wajah- wajah kami memang terlihat bahwa kami perlu pertolongan. Kesan pertama saat itu membuat saya menambahkan dalam agenda saya. Berkunjung ke perpustakaan di kampus cukup menyenangkan kok. Walaupun saya harus mebolak-balik kertas katalog yang lusuh dan kumal, hanya boleh meminjam dua sampai tiga buku, harus mengembalikan sesuai jadual, toh saya dapat bertahan dengan berbagai tugas makalah, ujian, dan berbagai di kampus dan menyelesaikan tugas akhir saya dengan sangat baik. Mahasiswa adalah perpustakaan, perpustakaan adalah mahasiswa.

Perpustakaan UI; Dulu dan Sekarang

Kini, jika berkunjung ke the crystal of knowledge, yang menjulang di tengah kampus Universitas Indonesia, tentu tampilan jauh dari gambaran perpustakaan di manapun. Perpustakaan UI memang laksana kristal, terlihat mahal, megah, mewah, kokoh, bercahaya, dan tidak mudah hancur. Mengingat istilah yang dipakai adalah kristal, mau tidak mau ingatan akan terhampir pada sebuah barang hiasan. Jangan sampai kristal ini hanya menjadi kristal pajangan seperti yang ada di rumah-rumah Pondok Indah atau Menteng saja karena harganya selangit. Kristal pajangan ini akan diletakkan di tempat yang mudah terlihat, sebuah lemari mahal dan terkunci rapat. Boleh dilihat tapi jangan disentuh. Jika malam hari lemari ini akan berhias pencahayaan yang luar biasa sehingga menggairahkan bagi yang melihat. Barang ini akhirnya menjadi simbol dari kemapanan dan kekuasaan. Namun demikian, tentu saja akan berbeda ketika diberi nama kristal pengetahuan. Para pemimpin UI yang memberi nama tersebut tahu pasti maknanya adalah memberikan cahaya pengetahuan, bukan hanya untuk sivitas akademika saja tetapi juga untuk bangsa dan negara.

Bagi saya, berjalan menyusuri perpustakaan UI tidak sarat warna, tidak seperti warna pelangi. Cukup dua saja: hitam dan putih. Hitam adalah saat tidak ada perubahan, dan putih saat kebalikannya. Kalau ditanya kapan kiranya mahasiswa akan lebih intens untuk berkunjung ke perpustakaan? Jawabannya dari dulu hingga sekarang sama, yaitu hanya tiga periode, pada awal sebagai mahasiswa baru karena harus membuat kartu perpustakaan, pada saat menjelang ujian akhir semester karena adanya makalah atau tugas-tugas yang harus dikumpulkan, dan menjelang penyelesaian studinya karena selain diharuskan membaca penelitian sebelumnya oleh dosen, harus membuat tugas akhir, dan tentu saja melaporkan tugas akhirnya. Itulah hitam.

Dulu, pulang dari perpustakaan, saya akan dkondisikan dua hal, kembali ke fakultas atau kamar kos dengan setumpuk buku atau bahkan nihil karena buku yang diinginkan tidak ada. Alasannya hanya dua, sedang dipinjam atau tidak ditemukan. Sekarang, jumlah koleksi memang sudah lebih dari 5 juta buku dan katanya terintegrasi dari semua perpustakaan fakultas. Hal ini rupanya tidak juga sejalan dengan jumlah mahasiswa UI yang semakin tumbuh. Sudah lebih dari 30 ribu mahasiswa jumlahnya. Akhirnya, kekecewaan tetap ada, karena pada katalog elektronik tersebut buku yang diinginkan tersedia, tapi ketika dicari pada rak ternyata tidak ditemukan. Alasannya masih sama, sedang dipinjam atau stock opname. Yang

lebih sedih adalah kalau buku yang kita pinjam ternyata halamannya tidak lengkap alias hilang karena sudah dibegal atau dimutilasi oleh pembaca sebelumnya. Rupanya, masih ada orang yang belum sadar akan nilai dari sebuah buku. Tetap hitam.

Dulu, fasilitas perpustakaan serba terbatas, mulai dari tempat penyimpanan tas (loker), meja untuk membaca, hingga komputer harus berlomba dengan pengunjung lainnya, siapa cepat dia dapat. Sekarang, loker-loker lebih dari cukup, komputer dengan fasilitas internet pun tersedia. Inilah putih. Dulu, perpustakaan UI selalu identik dengan kumpulan buku tua, kusam, sepi, beraroma tidak sedap, dan bahkan acapkali dianggap sebagai sumber penyakit. Kalau mau sakit, datang saja ke perpustakaan. Bahkan ada seorang kawan yang guyon “setan saja takut kok kalau harus ke perpustakaan sendirian.” Sekarang, cobalah melangkah di sekitar perpustakaan. Selain pemandangan danau UI yang menyejukkan, aroma kopi impor merebak dari warung waralaba Amerika ditambah aroma minyak wijen keluar dari resto Korea menggoyang hidung sedikit mengganggu konsentrasi perut untuk berkunjung saat jam makan siang datang. Tidak ada keluh kesah lantaran listrik yang tiba-tiba padam. Suasana pun mendukung untuk bekerja hingga malam hari. Akankah warna putih akan semakin banyak bercerita nantinya?

Epilog

Kristal pengetahuan adalah sebuah simbol luhur atas kreasi seni tingkat tinggi. Di dalamnya terdapat banyak cerita, lakon, dan romansa bagi pengunjungnya. Orang yang memanfaatkan perpustakaan bukan hanya untuk membaca dan menjadi ruang berkumpul untuk menyapa, tetapi untuk menciptakan, menyimpan, dan mendiseminasikan berbagai karya dan karsa ilmu pengetahuan dan teknologi dalam membawa Indonesia menjadi lebih baik. Kitalah yang akan membawa simbol keluhuran ini menjadi simbol yang akan memancarkan energi secara nyata atau simbol yang mati merana. Jangan biarkan perpustakaan UI besar hanya karena nama dan bentuknya tetapi jadilah besar karena maknanya.

Catatan: Walaupun tulisan ini dibuat dalam rangka lomba esai dan tidak menang, buat saya menulis bukan untuk menang, tapi menjadi suatu kebutuhan.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Miskin dan riya

Apa yang harus kita banggakan dalam hidup kita? Pertanyaan tersebut tentunya mudah dijawab untuk orang yang punya pikiran sempit dan memandang sesuatu dari kacamata uang dan penampilan. Kebanggan mereka adalah ketika orang melihat penampilan yang mewah dan glamor. Tapi, pernahkah dia berpikiran apa yang akan dia lakukan kalau suatu ketika, hidup yang seperti roda berputar itu memposisikan dia berada di bawah? Gampang, begitu pandangan mereka. Cari aja barang-barang aspal, yang penting penampilan tetap kinclong. Kalau perlu, cari jalan pintas dengan mengambil hak orang lain. Terciptalah beragam kejahatan yang risikonya merana dunia akhirat.

Kopi? Yuk, mari…

Wah, kalau dingin-dingin seperti semalam, yang enak memang. minum kopi. Di Indonesia, seringkali kalau mau ngopi suka ditanya “Suka Robusta atau Arabica?” Terus terang, saya gak ngerti banyak. Yang saya tahu dua-dua nya berwarna hitam dan sedikit pahit. Akhirnya, saya coba browsing di internet perbedaan antara keduanya.

Kopi Arabica terkenal pahit walaupun rasanya lebih halus. Rasa kental dan asam terasa saat kita meminumnya. Aromanya wangi sedap mirip percampuran bunga dan buah. Untuk yang Robusta memiliki aroma yang lebih khas dan manis, warnanya  pun tergantung dari cara pengolahan, dan yang pasti teksturnya lebih kasar dari Arabica.  Nah, di Indonesia yang paling banyak itu Arabica. Kopi yang ada di daerahnya suami saya (Mandailing) adalah Arabica. Kop Aceh dan Toraja juga termasuk kelompok ini. Walaupun penghasil Arabica, namun orang Indonesia kebanyakan juga lebih suka Robusta karena lebih ringan rasanya.k
Saya sendiri sangat suka kopi pakai susu atau kopi pahit tanpa gula. Gimana gitu. Atau kopi ditambah coklat terus dicampur ke dalam adonan brownish. Yummy. Jadi deh, brownish rasa kopi.

Tapi, gak tahu juga ya, informasi itu betul atau tidak, enak arabica atau robusta.

Nah, kalau saya tanya kepada mahasiswa saya, mereka semua setuju kalau kopi yang satu ini paling mereka suka. Kopi jenis baru yaitu “copy paste”. Silakan terjemahkan sendiri maksudnya.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih baik

Mudahnya membuat Makaroni Panggang alias Macaroni Schotel… Yummy

Sudah jadi hobi bagi saya untuk bisa masak makanan kesukaan. Makaroni Panggang atau orang juga suka menyebutnya dengan Macaroni Schotel (saya gak tau apakah penulisannya betul atau tidak, yang penting maksudnya sama kan?). Pernah mencoba beli makaroni panggang di Bogor. Tapi gak pas di lidah. Beli di tempat lain, sama saja, harga kemahalan lah, kejunya gak berasa lah, ukurannya terlalu kecil, pokoknya serba gak pas.

Nah, buat teman-teman yang hobi makan makaroni, gak salah kalau mencoba bikin sendiri. Dipastikan jadi deh. Camilan ini seperti brownies yang gak perlu takaran macam-macam dan harus mengembang. Yang dibutuhkan Cuma satu “memasaklah dengan cinta”. Begitu suami saya selalu bilang.

Bahan-bahan yang dibutuhkan:

  1. Makaroni (terserah mau bentuk yang mana, tapi kalau saya sih senang yang kecil-kecil aja yang standar) 500 gram.
  2. Daging cincang 250 gram. Bisa diganti dengan kornet, daging ayam, daging asap, sosis, atau sayuran dan jamur bagi yang vegetarian. Ukurannya juga tergantung kebutuhan kok. Bisa ditambah atau dikurangi.
  3. Keju cheddar 150 gram (kalau mau lebih banyak atau kurang gak masalah)
  4. Susu putih UHT (saya biasa pakai yang lowfat) 750 ml.
  5. Telur ayam 5 butir kocok lepas.
  6. Bawang bombay 1,5-2 siung yang besar.
  7. Bawang putih 4 siung.
  8. Merica secukupnya
  9. Garam 1 sendok teh (secukupnya)
  10. Gula 2 sendok teh
  11. Bubuk pala seperempat sendok teh (kalau tidak ada tidak jadi masalah)
  12. Oregano seperempat sendok teh (kalau tidak ada tidak jadi masalah)
  13. Mentega/margarine untuk menumis dan melapisi loyang.

Cara membuatnya:

  1. Makaroni direbus, jangan lupa tambahkan garam sedikit dan margarin. Biar lebih aldente.  Tiriskan.
  2. Bawang bombay dan bawang putih dicincang. Tumis dengan mentega/margarine sampai layu. Masukkan daging cincang, garam secukupnya, merica, pala dan gula secukupnya.
  3. Matikan kompor. Masukkan  makaroni yang telah direbus dan ditiriskan, keju yang telah diparut (sebagian saja, sebagiannya untuk diletakkan di atas), susu, telur yang sudah dikocok lepas,
  4. Masukkan dalam loyang/pinggan tahan panas/loyang alumnium siap pakai. Taburkan di atasnya keju parut. Kalau pakai pinggan tahan panas, oleskan dulu dengan margarin di dasar dan pinggirnya.
  5. Oven sebelumnya harus sudah dipanaskan dalam suhu 180 derajat. Masukkan loyang yang sudah terisi. Panggang dulu dengan api bawah sekitar 45 menit, baru kemudian dengan api atas dan bawah sekitar 15 menit.
  6. Angkat kalau sudah matang ya…
  7. Sajikan dengan saus sambal.

Sebagai informasi tambahan: Kudapan ini anti gagal. Tidak seperti kalau kita memasak bolu atau roti. Selain dipanggang, dikukus juga tidak jadi masalah. Kalau dikukus, jika ingin lebih garing (tidak terlalu basah) dapat dimasak di atas teflon.

Jadi… Selamat mencoba.