Category Archives: Puisi

I am ME

I am me. Ini adalah puisi dari pinterest.com dari Virginia Satir. Saya membaca ini pada awal tahun 1990-an. Puisi ini  dipajang di dinding Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Ini adalah sebagai sebuah deklarasi kepercayaan diri.

I am me poem

Advertisements

Harapan

Sekedar berbagai, hadiah dari suami pada waktu saya ulang tahun… Terus terang… buat saya, tulisan-tulisan dari Abang, membuat saya selalu senyum-senyum sendiri membacanya.
Dan saya baru sadar sekarang… mengapa, hampir setiap menjelang perayaan hari kelahiran, saat itu juga saya sedang berada di luar rumah. Yang saya ingat, hanya pada usia saya 6 tahun, mami menjahitkan pakaian bak puteri berwarna putih dan mengundang teman-teman saya untuk datang ke rumah. Selebihnya? Saya kok tidak pernah ingat ya…

Assalamu alaikum Wr wb.

Sakit bukanlah suatu kebiasaan bagi saya saat Anda
tidak ada. tetapi selalu ada yang menyebabkan saya
kurang merasa fit kalau terkena hujan. Hari Selasa
kemarin memang saya bekerja dari pagi sampai malam,
plus menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Sehari
kemudian saya terkena hujan saat pulang ke rumah.

Saya hanya bisa berharap agar Anda bisa menyelesaikan
tugas di lapangan sebaik mungkin. Mudah-mudahan apa
yang Anda rencanakan dari awal terlaksana semua.

Tentu saja, saya tidak lupa pesan yang harus Anda bawa
ke Jakarta. Sebab saya telah membuat janji dengan
teman-teman untuk menikmati bersama apa yang akan Anda
bawa kelak.

Sementara itu, saya sedang berpikir dan bersiap-siap
untuk membungkus sesuatu menjelang pergantian tanggal
26 dan 27 januari 2001.

Perjalanan

Baru saja saya mengumpulkan kembali, beberapa catatan yang tercerai dari email lama. Salah satunya surat ini, yang dikirim pada 22 Januari 2002 oleh mantan pacar saya…

Selasa. 22 Januari 2002.

Sebuah surat terbuka. Kutulis lewat mail ini. Sebab,
tadi siang, komunikasi lewat telepon tak berjawab.
Entah, dimatikan atau sedang dalam perjalanan. Tapi,
bagiku, tak ada prasangka. Doa keselamatan dalam
perjalanan tetap aku tengadahkan. Tak luput dalam
sekejap pun.

Hari ini. Aku baru saja ke kantor kas berwarna biru di
Arteri. Kucek angka-angka yang tertera di selembar
kertas putih yang baru keluar. Angka dua belas
tertulis di sana. Ya, tinggal 12 ribu.

Tapi aku bukan orang miskin. Aku orang yang kaya. Kaya
akan angan-angan dan keinginan. Siapa tahu suatu saat
angka 12 itu menjadi berlipat-lipat. Dan aku akan
membawamu bepergian jauh dari yang engkau lalui kini.
Dan saat itu kita akan bisa menikmati keindahan alam
Bali, Lombok atau Brastagi.

Angan itu memang belum kesampaian. Toh, tak ada yang
bisa memastikan kapan itu terjadi : kecuali Sang
Pencipta.

Aku berharap saat ini. Engkau bisa menikmati keindahan
perjalanan dari satu pulau ke pulau lain di pinggiran
Pulau Sumatera. Ah, betapa ramainya ombak menyapa
engkau. Sebanyak kerinduan yang selalu melintas di
benak seseorang yang sedang menunggu. Di rumah.

Your dearest,

Menangis dan Tertawa: Kapan, Di mana, dan Untuk Siapa

Apa sih yang menghubungkan kata menangis dan tertawa? Pada satu malam di jalan Wijilan Yogyakarta, sayup-sayup terdengar melodi indah pengamen jalanan

            Pulang ke kotamu
           Ada setangkup haru dalam rindu
           Masih seperti dulu
           Tiap sudut menyapaku bersahaja
           Penuh selaksa makna
           Terhanyut aku akan nostalgia

           …

Ya, lagu Yogyakarta memang lagu melankolis yang banyak membuat perempuan (tapi kadang juga laki-laki loh), menjadi sosok yang sok romantis saat mengingat masa-masa pacaran, mungkin bisa dengan cinta pertamanya, cinta terakhirnya, atau mungkin juga dengan selingkuhannya. Mengapa tidak?

Nah, mungkin  ada perempuan yang ketika mendengar lagu ini merenung atau bahkan menjadi sedikit histeris, kok bisa ya ada cowok romantis macam Katon Bagaskara. Merangkai kalimat puitis bernada sehingga meluluhlantakkan tulang hingga ke sum-sumnya. Atau, ada juga perempuan yang akhirnya meneteskan air mata sedih karena mengingat mengapa cinta pertamanya tidak berakhir di pelaminan dan bahkan mungkin menyesal seumur hidup karena cinta pertamanya dulu, saat ini menjadi pejabat atau selebritis yang setiap hari muncul di televisi. Tapi, kalau saya disuruh memilih, saya bukan kedua tipe di atas. Saya akan bilang, Katon sebagai musisi memang luar biasa, tapi toh pada akhirnya dia hanya manusia biasa yang tidak bisa mempertahankan dua kali mahligai perkawinannya . Saya juga bukan orang yang dengan mudah akan meresapi setiap syair lagu itu sehingga meneteskan air mata sedih karena bagi saya suami saya adalah sosok yang memang saya pilih untuk menjadi pendamping saya jadi tidak akan ada air mata kesedihan.

Malam ini, di dalam hati saya hanya akan menertawakan perempuan (dan laki-laki) yang begitu hanyut dalam khayalan masa lalunya. Seperti saya menonton Opera Van Java saat wayang-wayang itu membuat lawakan yang tiada habisnya. Dunia ini panggung sandiwara.

Tidak salah memang. Karena, melupakan sejarah akan menjadi bahaya karena kita melupakan bagaimana diri ini dapat tercipta seperti sekarang. Yang terpenting adalah dunia kita saat ini, bukan masa lalu. Dunia yang harus kita hadapi dengan segala konsekuensi dan bukan menghindarinya atau menyalahkan orang lain akan keberadaan kita saat ini. Dunia kita sekarang adalah dunia masa depan yang harus kita rencanakan dengan matang sehingga kita siap dengan segala macam rintangan.

Kembali lagi kepada menangis dan tertawa, bagi saya, kedua kata ini sangat tipis perbedaannya, setipis koin mata uang seribu rupiah yang ada di negara ini. Kadang, kita tidak akan pernah tahu kapan kita menangis dan kapan kita harus tertawa. Buktinya, banyak koruptor yang seharusnya menangis karena ketahuan belang kelakuannya yang mengakibatkan tangis anak dan keluarganya, toh malah tertawa dan menertawakan orang lain. Di sisi lain, banyak orang yang tertawa karena melihat pemimpin kita, dan calon pemimpin kita berbicara tanpa dasar padahal banyak orang kelaparan, kesakitan, dan tidak mampu berjuang untuk hidup. Artinya, bagi saya, tertawa dan menangis adalah perasaan yang wajar dan manusiawi, tetapi harus tahu kapan digunakan, di mana tempatnya, dan untuk siapa.

UC UGM Yogyakarta, 22 Mei 2013

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Integritasku tidak untuk digadaikan

Yang Mulia,

Sebagai seorang dosen, kebanggaan terbesar bagi hamba adalah bisa mengajarkan kejujuran dan menjaga integritas keilmuan kepada mahasiswa. Kalau dua hal ini dilanggar dengan alasan persaudaraan atau alasan apapun juga, lantas apalagi yang bisa dibanggakan. Hamba sangat sedih mendengar bahwa panutan hamba, Yang Mulia, ternyata harus menggadaikan integritas itu. Tidakkah yang mulia berpikiran panjang tentang kebanggaan yang hilang hanya seharga barang mewah?

Yang Mulia,

Hamba memang tidak pantas menyampaikan hal ini karena hamba bukan siapa-siapa. Tapi, hamba mohon, jangan engkau gadaikan integritas yang sudah engkau bangun sangat lama, yang bahkan lebih tua dari umur hamba!!

Yang Mulia,

Hamba dulu pernah bangga dan menaruh hormat yang sangat pada Yang Mulia. Kalau sekarang, entahlah. Hamba harus berpikir panjang untuk mengenangnya kembali.

Yang Mulia,

Sedih ini seperti tak terperi, tersayat sembilu. Tapi hamba tidak mampu berbuat apa-apa untuk memperbaikinya.

 

Dari Depok untuk Indonesia yang lebih baik

 

Pada hari Kamis

Tuhan tidak pernah mengajarkan kepada umat-Nya untuk membenci setiap hari dalam hidupnya
Tuhan juga tidak pernah suka jika hamba-Nya mengeluh dengan apa yang dialami pada harinya
 
Tapi, Yang Maha Mendengar…
Hari ini, saya harus membenci
Hari ini, saya harus mengeluh
Tentang apa yang terjadi pada hari ini
 
Saya kecewa, karena saya tidak bisa mencegah semua terjadi pada hari ini karena saya bukan siapa-siapa
Saya kecewa, karena saya tidak bisa memutar kembali hari ini karena saya juga bukan apa-apa
 
Apakah Engkau akan marah, Ya Rabb?
Apakah Engkau akan murka, Yang Maha Kuasa?
 
Ketika saya harus mempertanyakan
Di mana letak hati nurani manakala beradu dengan uang  
Di mana letak hati nurani manakala berlawanan dengan politik
Di mana letak hati nurani manakala berhimpitan dengan kekuasaan
 
Ampuni saya, Sang Maha Pemurah
Karena hari ini saya hanya menjadi seonggok daging tak berguna
 
8 Desember 2011
dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Yang Mulia, Pimpinan Sidang

Yang mulia, Pimpinan Sidang
Rasanya aneh saja ketika pimpinan sidang hanya mendengar sebagian informasi
Rasanya tak adil saja ketika pimpinan sidang bersikap masa bodoh
Rasanya tak pantas saja ketika pimpinan sidang memandang kami berbeda
 
Yang mulia, Pimpinan Sidang
Saya tidak akan meminta kepada rekan saya
Saya juga tidak akan meminta kepada bawahan saya
Saya hanya minta pimpinan sidang menempatkan diri
 
Yang mulia, Pimpinan Sidang
Cobalah melihat dengan mata terbuka,
Mendengar dengan telinga lebar,
Merasakan dengan hati ikhlas
Kami ini sama, bukan untuk dibeda-bedakan
 
Yang mulia, Pimpinan Sidang
Berlakulah seharusnya
Berlakulah semestinya
Berlakulah sepantasnya
Karena engkau Pimpinan Sidang
 
                                                           Depok, 19 April 2011, 17.38

Selamat Ulang Tahun, Bung…

Tertawa… setiap waktu dengan lagak dan lagu yang tidak pernah terekam dalam kaset atau cakram padat, engkau membuat hariku berwarna. Sungguh, pencipta lagu dan penata gerak pun akan terkagum melihat banyak tercipta dalam satu hari. Tanpa syair dan melodi yang tidak bernada, kau lantunkan suara laksana penyanyi sesungguhnya. Seraya bercermin sambil bergaya model masa kini. Kadang plesetan menjadi kamus canda yang melebihi lucu dari seorang pelawak.

Sabar… begitu selalu kau ucapkan. Tapi sejak aku mengenal dirimu, tak pernah engkah lupakan kesabaran. Semakin hari semakin kau pupuk tanaman kesabaran. Sambil berharap suatu saat kau akan panen buah kebahagian. Tapi, bukankah sabar ada batasnya?

Pena … kalau saja masa lalu digambarkan, engkau  akan menggoreskan kehidupan ini dengan hitam, biru, dan merah.  Tapi sekarang, pena telah kau gantikan dengan tombol pada papan komputer. Yang seringkali membuat engkau pusing tujuh keliling, karena bingung harus menekan tombol yang mana. Belajar…bung. Jangan menyerah. Semakin larut, semakin kudengar merdu seperti jangkrik mengisi sepinya malam. Kalau saja aku bisa menolong untuk menemani seperti bulan yang kadang malu mendampingi gelap.

Jujur… sekali, dua kali dusta mendera dirimu. Bukan karena engkau senang didustai, bukan juga karena engkau mau didustai, atau berharap untuk didustai. Tetapi karena engkau terlalu baik, terlalu kasih. Sehingga orang senang hati mendustaimu. Dia tidak sadar, kebaikanmu adalah untuk kebaikannya nanti. Dia belum sadar, kasihmu adalah untuk membahagiakannya. Dia tak pernah sadar, bahwa semua yang dilakukan bukan untuk menyakitinya.

Kini… 39 tahun sudah kau tapaki hidup, hampir 12 tahun meniti jalan kebersamaan. Seandainya kita diberi kesempatan, kuingin mengulangi satu catatan yang pernah kau berikan padaku.

“Pelukis tidak akan pernah merusak lukisannya manakala lukisan itu terlalu buruk untuk dilihat. Tapi dia akan memperbaiki lukisan itu, dengan titik, garis, dan warna, sehingga lukisan itu menjadi sesuatu yang indah.”

5 Januari 1972 – 5 Januari 2011

SECOND FLOOR CONSPIRACY

Judul ini saya tulis bukan karena tulisan ini terkait dengan suatu kejahatan tertentu, bukan juga karena saya ingin terlihat mengada-ada. Tulisan ini dibuat untuk mengenang perjalanan seorang saya dengan seorang kawan.

Teori persekongkolan atau teori konspirasi (dalam bahasa Inggris  disebut conspiracy theory) dengan merujuk dari Wikipedia merupakan teori-teori yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, sosial, atau sejarah) adalah suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh. Konspirasi merupakan sebuah gerakan terselubung yang dikendalikan oleh segelintir orang yang berada di tingkat elit dalam kekuasaan. Saya akan berhenti pada pendefinisian tersebut. Titik.

Kawan …

Ketika saya mengenal kawan pertama kali sekitar tahun 2006-an saat kawan menjadi mahasiswa saya. Saya melihat, kawan punya sesuatu yang berbeda. Bukan hanya brain dan behavior, tapi ada inner beauty yang kawan miliki. Ah… kok seperti kontes puteri yang sering saya saksikan di tivi.  Ketika akhirnya saya mempercayai kawan untuk bergabung dengan tim kami, saya merasa bahwa saya sudah menyelesaikan separoh dari masalah yang saya miliki.

Saya ingat ketika pada suatu ketika, saya mendapat telepon dari seorang lelaki “terhormat” yang meminta saya untuk mencarikan orang yang tepat untuk membantunya, pada saat itulah saya menyebut nama kawan sebagai orang yang saya pilih. Walaupun kemudian saya sempat kecewa pada lelaki ini karena membuat harga diri pergi meninggalkan diri saya dalam sekejap. Untunglah harga diri ini mau kembali walaupun saya sulit menerima dengan sepenuh hati, “mengapa dulu kau meninggalkan saya, harga diri…”.

Saya ingat ketika kita sama-sama pernah pergi ke provinsi paling barat untuk berlomba. Pada saat ini, undangan demi undangan saya hadiri hanya untuk kepuasan segelintir orang. Untunglah kawan menjadi malaikat penyelamat. Kawan bisa menggantikan banyak peran yang saya lakoni dan telah membuat saya dikenal oleh seantero kampus.

Saya juga masih ingat bagaimana kawan membuat banyak kaum hawa terkagum dan ingin menjadi pendamping kawan. Ada yang datang langsung, ada yang datang dengan muka harap, dan ada yang secara tersirat menyampaikannya kepada saya. Saya memang tidak pernah bercerita langsung kepada kawan. Kawan seperti Irfan Bachdim yang sekarang jadi idola dan dikejar perempuan. Muda dan berbakat.

Ada sedikit kekecewaan saya ada saat kawan di awal November sempat menghilang tidak dapat saya raih. Ada sesuatu yang kawan sembunyikan. Sampai kemudian akhirnya muncul sedikit rencana jahat dari saya walaupun kemudian saya batalkan. Itulah kelahiran konspirasi, sesuai judul yang saya tulis. Tapi ini bukan akhir dari tulisan saya.

“Pilihan” mungkin lebih tepat mengganti “konspirasi”. Pilihan (bahasa Inggris menyebut sebagai choice) di dasari pada rational choice theory. Saya tidak peduli siapa tokoh yang mengenalkan teori ini. Yang saya tahu, saya mengenal teori ini ketika belajar Ekonomi Politik. Yang saya ingat, guru mengajarkan bahwa setiap manusia pasti akan memilih. Memilih sesuatu sesuai dengan informasi yang telah dimilikinya. Yang pasti, pilihan yang dilakukan sesuai dengan rasionalitas saat itu.

Pilihan rasional tidak seperti tindakan yang saya lakukan ketika saya memilih makan siang dengan menu gado-gado atau baso. Makanan terakhir ini bukan saya pilih karena adanya informasi bahwa baso lebih sehat dibandingkan gado-gado, tetapi karena saya memang  tidak berselera memilih gado-gado menjadi makan siang saya kalau di Depok karena rasanya yang tidak pas di lidah saya. Berbeda ketika saya di Salemba, maka saya akan memilih makan gado-gado di kantin kedokteran gigi, bukan juga karena di sana tidak ada baso yang enak.

Yang saya rasakan kemudian adalah pilihan rasional lebih banyak terjadi karena aspek ekonomi dibandingkan aspek lainnya. Banyak orang ingin menjadi anggota dewan yang terhormat karena merasa akan mendapatkan nilai lebih dibandingkan hanya menjadi preman atau pengangguran saja.

Tapi, saya penuh yakin, pilihan yang kawan lakukan, dipastikan menyingkirkan aspek ekonomi. Apa yang kawan peroleh saat ini, sangat jauh berbeda dengan apa yang saya peroleh ketika saya seusia dengan kawan. Ada sedikit kesamaan antara saya (pada saat saya seusia kawan) dan kawan, Kita adalah orang yang tidak puas dan merasa ada sesuatu yang tidak sesuai di hati.

Itulah pilihan rasional yang saya lakukan hingga tahun 2000. Padahal saya pernah berkubang di satu tempat yang membuat saya nyaman dan tertram. Tidak ada intrik, tidak ada celaan, atau tidak ada saling membunuh untuk mendapatkan sesuatu karena saya dan yang lainnya adalah bersaudara. Sedikit penyesalan karena seharusnya saya tetap ada di kubangan sana, karena saya berkubang emas.

Tapi, saya memilih untuk memasuki istana yang ternyata palsu. Banyak orang saling sikut, saling tusuk, saling menjilat untuk memperoleh sesuatu, bahkan rela membunuh untuk mendapatkan sesuatu. Seperti Istana pasir yang tidak sanggup bertahan menghadapi hempasan air dan angin. Kita mempertontonkan kekokohan padahal rapuh di dalamnya.

Saya salah dan merasa menyesal berkepanjangan karena mengajak kawan memasuki istana pasir ini karena telah membuat kawan terbelenggu dalam jeruji besi kepongahan dan dimanfatkan hanya oleh segelintir orang.

Jadi, saya tidak akan seperti bos yang akan menggunakan segalanya untuk menahan kawan tetap bersama saya. Jikalau saya diberikan kewenangan pun, sekali lagi, tidak akan pernah saya lakukan  untuk mengajak kawan tetap berada di sini. Karena itu semua adalah pilihan, bukan konspirasi.

Terima kasih dan Semoga…

Lantai dua, Depok,

12.40 WIB.

End of Year 2010.

“Aku Ingin”, Sapardi…

aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat, diucapkan kayu kepada api, yang menjadikannya debu, aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat, disampaikan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada

Penggalan syair Sapardi Djoko Damono di atas mengingatkan saya pada masa 19 tahun yang lalu saat saya baru mengenal kampus UI sebagai mahasiswanya. Teman saya meminjamkan buku dan juga kaset (dulu belum dikenal adanya cakram padat) Hujan Bulan Juni. Komentar saya hanya satu. Saya harus punya buku dan kasetnya. Too inspired me. Masa-masa puber, masa-masa kenal dan kemudian naksir dengan seorang atau lebih pria menjadi alasannya. Tapi ternyata, puisi Sapardi lebih dari itu. Sapardi menyusun kata yang berarti menjadi kalimat yang sangat berarti dan penuh makna.

Pencarian saya, sehari, seminggu, sebulan, setahun, dan hingga kini tak membuahkan hasil. Thanks for 4shared.com. Walaupun saya tahu bahwa ini berarti melanggar hak cipta, tapi akhirnya saya dapat menikmati kembali masa-masa 19 tahun yang lalu. Akankah muncul Hujan di Bulan yang Lain?