Ramalan oh ramalan?

Serem banget, dalam 4 bulan terakhir ini, apa yang aku bayangkan dan aku pikirkan semua terlaksana. Biasanya ditandai dengan mimpi-mimpi yang memberikan gambaran secara lengkap atau bahkan hanya sekedar tanda-tanda alam semata.

4 bulan yang lalu, misalnya, aku sudah memprediksikan seorang kolega dosen akan diminta menjadi calon menantu dosen yang lainnya. Padahal, yang bersangkutan pun boro-boro tahu. Si Ibu dosen pun juga gak pernah ngomong langsung sama aku tentang keinginannya. Sampai 3 minggu lalu kolega dosen ini akhirnya cerita kalau dia memang ‘diminta’ untuk menjadi menantu. Dan masih ada 3 ramalan yang ternyata memang terjadi pada kolega dosen ini. Pusing nih. Soalnya, akhirnya dia tanya tentang “Mama Lina, siapa presiden RI 2009?” Memangnya aku mama Loren apa. Dia pikir aku bisa meramal.

Lain halnya cerita di lapangan. Entah apa yang terjadi, hanya satu mahasiswa yang aku pikirkan 2 hari sebelum berangkat. Dan ternyata, ada koneksi batin antara aku sama dia. Aneh ya… semua yang sedang dipikirkannya sudah ada di kepalaku sejak berangkat. Sampai teman-temanku bilang, “aneh banget sih loe mikirin dia, bukan tipe loe banget!” ya namanya juga perasaan.

Yang paling bikin aku geleng-geleng adalah waktu Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa Tingkat Wilayah A di UNJ, sehari sebelum pengumuman pemenang, aku sudah tahu siapa yang menang. Padahal, aku gak pernah menyaksikan presentasi mereka. Apa gak bikin ngeri? Aku bilang waktu itu kepada anak USU, bahwa mereka akan juara tapi juara 2. UNJ juara 3, dan UI pasti juara 1. Dilalah… ternyata pas banget. Termasuk ketika feeling memperoleh juara KKTM Pendidikan Tingkat Nasional. Aneh kan?

Di tingkat nasional kejadian lagi, aku bilang di KKTM IPS, bahwa yang akan juara salah satunya anak Unpad dan IPB. Ternyata benar. Maafin ya… kemarin aku sebenarnya sudah punya feel kalau UI bakal gak menang di bidang ini. Tapi gak enak, nanti teman-teman mahasiswa malah jadi gak semangat.

 

Advertisements

[Sigit 1]: Kehilangan Candi Borobudur

Bagi orang yang baru ke Borobudur, pasti akan merasakan sesuatu yang luar biasa. Mengunjungi situs sejarah dunia, yang dulu pernah jadi satu dari 7 keajaiban dunia. Sama halnya dengan Sigit-mahasiswa salah sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia-yang saat itu sedang merasakan kegundahan yang sama, akan mengunjungi tempat Syailendra membesarkan nama. Turun dari bus kuning, penjaja sewa payung, penjual topi, sampai pernak-pernik khas Borobudur menghampiri. Ya, namanya juga usaha. Awalnya kami ditawari 3000 rupiah untuk 1 buah payung. Tetapi, ketika mendekati pintu pembelian tiket, harga tersebut sudah turun menjadi 2000 rupiah. Wah… jangan-jangan, sampai di dalam Borobudur, harganya menjadi gratis bahkan payung kita akan dipegangi orang ini (ngarep banget ya…).Untuk masuk kawasan Borobudur, kami harus membayar 9000 rupiah sekali masuk, ditambah 1000 rupiah lagi untuk kamera (gila… gini hari masih harus bayar pakai kamera, emangnya kita nyewa kamera mereka apa?). Sigit bersama dengan teman-teman dan dosennya memasuki kawasan yang cukup panas. Dengan menggunakan kereta api (lagi-lagi harus membayar sebesar 5000 rupiah) sigit mulai menyalakan fasilitas video di telepon genggamnya. Ia duduk di sebelah kanan dan dengan semangat bergejolak mulai memvisualisasikan obyek yang dilihatnya. Semua hijau. Ia merekam sisi kanan dari kereta yang dinaikinya.

Kalau Sigit -sang manajer PKMI yang kalah- ini melihat ke sebelah kanan, kami semuanya menyaksikan kemegahan Borobudur dari sebelah kiri. Waw… 17 tahun yang lalu, tempat ini sudah saya kunjungi bersama dengan teman semasa SMA yang juga kuliah di UI. Masih tetap sama, berdiri kokoh dengan segala kecongkakannya. Tiba-tiba Sigit mengeluarkan pernyataan yang membuat kami tertawa sampai sakit perut. “Mana sih Borobudurnya?” sambil terus merekam gambar. “Kok ga kelihatan?” ujar Sigit kembali. “Gimana sih, Git, orang Borobudurnya di sebelah kiri, loe ambil video di sebelah kanan, ya ga bakal ketemu lah…” begitu ucap kami serempak seraya terus mentertawakan Sigit yang akhirnya cuma senyum-senyum malu.

Baru kali ini, saya melihat bagaimana tampang seorang yang baru kehilangan “Borobudur”

dan takut untuk tidak bisa menyaksikan “Borobudur”.

 

 

[LPMPS 2008]: Hidup sebagaimana orang Indonesia kebanyakan

Coba… apa yang terjadi kalau mahasiswa Indonesia tidak pernah menikmati menjadi orang-orang Indonesia seperti kebanyakan. Pastinya, kebijakan yang ada tidak akan pernah dikritisi, kita terima semua yang dibuat pemerintah tanpa pernah mereviewnya. Tapi anak FISIP UI gak begitu kok. Dalam kegiatan LPMPS (Latihan Praktik Metode Penelitian Sosial), mereka membuktikan bahwa mereka bisa hidup sebagai masyarakat kebanyakan. Antri mandi (dan kalau mandi pun harus irit air karena sedang kekeringan) mereka anggap seperti antri BLT, tidur hanya beralaskan tikar seperti di tempat pengungsian, dan makan pun seadanya.

  

Kebiasaan kemana-mana naik kendaraan pribadi atau umum, saat LPMPS harus berubah 180 derajat. Angkot yang selama ini banyak mereka temui di Jakarta-Depok, selama 8 hari harus dilupakan. Kendaraan pribadi yang setiap hari menemani, paling mentok digantikan dengan ojek motor. Tapi yang nikmat, tentu saja jalan kaki di tempat yang naik turun. Betis gede, biarin aja deh. Kulit menjadi beda warna karena tersengat matahari tak jadi soal. Pokoknya, hidup harus tetap dinikmati di manapun berada.

 

Tidur larut, bangun pagi-pagi menjadi satu kebiasaan. Nonton tv tidak menjadi keharusan lagi. Piala eropa pun terlupakan. Di Subang, mereka ini tinggal di rumah penduduk. Salah satu desa yang dikunjungi adalah Bunihayu. Sudah lebih dari 7 bulan, di Bunihayu tidak turun hujan. Makanya, sulit air. Air menjadi bawang merah, eh barang mewah. Saya sendiri pernah mandi hanya dengan 4 gayung air karena benar-benar kehabisan. Untunglah sudah pernah merasakan yang lebih parah dari ini. Hanya satu hari pertama saja udara terasa dingin, selebihnya panas luar biasa.

Hidup memang seperti roda, kadang di atas, kadang di tengah, kadang di bawah. Kita harus siap pada posisi apapun dan kapanpun.