Gunung Nona: antara Keindahan dan Persepsi Lelaki

Mendapatkan tawaran dari kolega untuk mengunjungi Enrekang dari awal tidak pernah saya tolak. Mengapa tidak, cerita tentang keindahan Gunung Nona dan pemandangannya yang seperti di Swiss membuat saya bertanya-tanya “betulkah Enrekang memang indah?”

20151206_054304

Saat tiba di Enrekang, saya tidak bisa menikmati sama sekali keindahannya. Hanya gelap di hampir semua pandangan mata, kecuali ada titik-titik lampu yang juga tidak mampu menggambarkan bagaimana pemandangannya itu indah.

20151206_053529
Bamba Puang dari Depan Rumah Makan Bukit Indah, Enrekang

Setelah ngobrol panjang dengan teman sekamar (yang jenis kelamin jelas berbeda dengan saya), akhirnya kami beranjak ke atas tempat tidur masing-masing. Yes… saya tidur sendirian di atas satu tempat tidur per ukuran besar (bagian bawahnya), sedangkan dua kolega saya plus seorang anak nya tidur di tempat tidur bagian atasnya, dan sang sopir kami (yang asisten dosen di Unhas) tidur di atas ambal. Lengkaplah satu kamar berlima. Untuk menjamin keamanan saya, saya sampaikan pada teman-teman saya bahwa saya akan tidur pakai mukena saja deh. Piss.20151206_072536

Baru saja mulai memejamkan mata, tiba-tiba ayam sudah berkokok. Dengan kaget saya melihat jam, memangnya sudah subuh? Ternyata jam tangan saya baru menunjukkan pukul 23 malam. Ah…dasar ayam Enrekang. Dia gak tahu bahwa ini masih malam.

Saya terbangun ketika alarm hape berbunyi. Dan ayam masih sahut-sahutan tak terputus. Duh… masih ngantuk nih. Jam berapa sih? Saya akhirnya tidur lagi, dan saya terbangun kembali saat adzan subuh berkumandang dari hape saya. Saya dengar, rekan saya sudah di kamar mandi. Akhirnya saya bangun, sholat, dan kemudian mencoba keluar kamar.

Sama sekali tidak ada rasa dingin. Pemandangan di depan tempat kami menginap adalah bukit batu. Saya baru tahu kalau namanya adalah Bamba Puang.

Setelah foto-foto, saya melihat ke bagian belakang. Ah, akhirnya tampak juga Gunung Nona. Dalam bahasa Enrekang disebut Buttu Kabobong. Saya mencoba melihat, mengamati. Kenapa ya Buttu Kabobong ini disebut Gunung Nona. Sampai saya kembali ke Depok, saya tetap tidak mengerti.

20151206_054958
Buttu Kabobong (Gunung Nona)- Enrekang

Berusaha menebak, tapi kok hati kecil saya berontak. Beberapa kolega di kampus yang perempuan pun juga mengernyitkan dahi waktu saya tunjukkan foto gunung ini. Apa ya? Payudara? Kok gak mirip. Ada yang bilang seperti vagina. Saya kok gak setuju. Sama sekali gak ada mirip-miripnya.

Inilah kalau analogi atau perumpamaan yang bermain. Lebih banyak persepsi nya ketimbang menggunakan logico-empirico. Di luar persepsi itu, bagi saya keindahan gunung ini (yang juga dipersepsikan) tidak terbantahkan.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

Advertisements

Beragam Kuliner Enrekang

Akhirnya, setelah menempuh lebih dari 5 jam dari Makassar (berangka 12.30 – 18.15 WITA dengan berkendara familiy car bersama dua orang teman sekantor (Azis dan Teguh) plus anaknya Teguh (Alfatih) kami sampai juga di Rumah Makan Bukit Indah, Mandatte, Enrekang, kepunyaan Pak Djufri, kakak iparnya Teguh. Sayang, gunung yang pemandangannya diceritakan Teguh (gunung nona) sangat indah sudah tidak terlihat.

Selama di sana kami disuguhi beragam penganan manis. kue khas enrekangAda deppa te’tekan (di Toraja dikenal sebagai Deppa Tori) yang terbuat dari gula aren dan wijen di bagian atasnya (mirip rasa kue cucur dan kue gambang betawi), mantri sala (lapisan atas seperti kue talam dikombinasikan dengan srikaya gula aren, dan lapisan bawahnya memakai ketan), dan kue putu (yang beda banget dengan kue putu di Jawa karena lebih mirip ke bugis tapi tanpa isi kelapa+gula, namun rasanya juga manis).

Bagi saya yang hobi penganan asin, favorit saya adalah deppa te’tekan. Mungkin yang membuat rasanya khas karena ada wijennya, sehingga rasanya lebih gurih.

Penangan beratnya juga agak berbeda. Ada nasu cemba, dangke, dan sokko. Nasu cemba yang rasa-rasanya mirip asem-asem iga (hanya saja rasa asamnya diperoleh dari daun cemba – (sejenis tanaman petai/pete tapi batang dan tangkai-tangkainya berduri). nasu cemba

Dangke sendiri mirip dengan dadih diSumatera Barat. Disebut juga keju enrekang, karena sama-sama dibuat dari susu yang dimasak, diberi garam dan getah dari buah pepaya. dangkeFungsi getah ini agar susu mengeras. dan setelah mendidih diletakkan di atas tempurung kelapa dan hanya memerlukan waktu 5 menit pendinginan hingga menjadi keju. Keju Indonesia ini dijadikan lauk makan dengan cara digoreng.

20151206_102234Satu lagi adalah ketan merah disebut sokok yang katanya hanya tumbuh di Desa Salukanan. Disebut sebagai pulut mandotti.

Nah… ini baru sebagian aja. Masih ada kopi kalossi juga.

 

 

TIM PENILAI KOMPETISI INOVASI PELAYANAN PUBLIK 2015 DIDOMINASI AKADEMISI

Sumber: http://www.menpan.go.id/berita-terkini/3071-tim-penilai-kompetisi-inovasi-pelayanan-publik-2015-didominasi-akademisi

24 Februari 2015

JAKARTA – Tim evaluasi kompetisi inovasi pelayanan publik tahun 2015 yang didominasi akademisi menyusun tata cara penilaian proposal yang diserahkan oleh para innovator melalui sistem informasi inovasi pelayanan publik (SiNovik). Kegiatan pre seleksi kompetisi ini dilakukan untuk menyaring inovasi pelayanan publik yang akan dipanggil ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) guna melakukan presentasi.

“Kami juga akan memberikan penghargaan kepada inovator yang hanya lulus sampai tahap administrasi, karena kami menghargai usaha mereka untuk mengikuti kompetisi ini,” ujarnya hanya Deputi Pelayanan Publik Kementerian PANRB Mirawati Sudjono dalam rapat Pre Seleksi Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik 2015, di Jakarta, Selasa (24/02).

Dalam pelaksanaan penilaian, Kementerian PANRB menunjuk 10 anggota tim evaluator yang tertuang dalam SK Menteri PANRB nomor 25 tahun 2015 tentang Tim Evaluasi Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2015. Tim Evaluasi itu terdiri dari Komarudin sebagai Koordinator.

tim reviewer sinovik 2015

Adapun para anggota terdiri dari Deddy Tiksondari (Universitas Hasanudin), Ida Bagus Wyasa Putra (Universitas Udayana), Hardi Warsono (Universitas Diponegoro), Gabriel Lele (Universitas Gadjah Mada), Agus Kusnadi (Universitas Padjajaran), Susi Dwi Harjanti (Universitas Padjajaran), Lina Miftahul Jannah (Universitas Indonesia), Oskar Vitriano (Universitas Indonesia), dan Hartoyo (Universitas Negeri Lampung).

Berdasarkan SK tersebut, tim evaluasi ini bertugas melakukan desk evaluation terhadap proposal inovasi yang diajukan oleh kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dalam kompetisi inovasi pelayanan publik 2015. (bby/HUMAS MENPANRB)

10 Inovasi Unggulan Paparkan Produknya di Hadapan Juri

Penentuan inovasi peradilan terbaik dilakukan melalui rapat pleno dewan juri bersama Ketua MA.
CR19

10 Inovasi Unggulan Paparkan Produknya di Hadapan Juri

Para peserta inovasi peradilan dan dewan juri di gedung MA di Jakarta, Kamis (12/11). Foto: CR19
Ajang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Peradilan Mahkamah Agung 2015 hampir usai. Bertempat di ruang Wirjono Prodjodikoro, gedung Mahkamah Agung (MA) Kamis (12/11), dewan juri melakukan penilaian tahap akhir terhadap 10 inovasi unggulan. Nantinya, dari hasil penilaian ini, dewan juri akan menentukan inovasi terbaik dalam forum rapat pleno dewan juri.

“Dewan juri dipersilahkan untuk menuju ruang Pleno 1 dan 2 untuk rapat pleno dewan juri bersama dengan yang mulia, Ketua MA, Hatta Ali,” ujar Melly Affrisyah, Anggota Panitia Pelaksana Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Peradilan MA 2015.

Sesuai jadwal, hari ini dewan juri melakukan penilaian secara substansi atas presentasi dan wawancara terhadap 10 pengadilan dengan inovasi unggulan. Masing-masing peserta diberikan kesempatan untuk mempresentasikan produk inovasinya selama tujuh menit. Kemudian setelah itu, dewan juri berhak mengajukan sejumlah pertanyaan dengan diberi kesempatan kurang lebih 13 menit.

Berdasarkan pemantauan hukumonline, presentasi dan wawancara terhadap 10 inovasi unggulan berjalan lancar. Salah satunya peserta yang memaparkan presentasi adalah Pengadilan Negeri Klas IA Pekanbaru. Ketua Pengadilan Negeri Pekanbaru H.A.S Pudjoharsoyo secara langsung menyampaikan produk inovasinya yakni menghitung sendiri panjar perkara (E-SKUM).

Sebagai gambaran, E-SKUM merupakan inovasi dari PN Pekanbaru di mana para pencari keadilan dapat mengetahui biaya panjar perkara yang harus dibayarkan secara langsung melalui mesin yang disediakan oleh PN Pekanbaru. Pudjo menjelaskan, inovasi ini lahir karena dilatarbelakangi sistem birokrasi yang berbelit-belit hanya untuk mengetahui biaya panjar perkara.

“Ini untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pencari keadilan dengan ujungnya adalah terciptanya kualitas pelayanan publik di pengadilan agar proses di pengadilan dapat berjalan cepat, sederhana, dan berbiaya ringan,” kata Pudjo.

Menanggapi pemaparan Pudjo, salah seorang dewan juri yang juga seorang Panitera MA, Soeroso Ono, mengajukan pertanyaan. “Keluhan yang sering diajukan pencari keadilan adalah sisa panjar, apakah juga tercover?”.

Juri lainnya, Penggiat Inovasi Institusi Pemerintahan, Lina Miftahul Jannah, turut mengajukan pertanyaan. “Apakah itu dimungkinkan inovasi ini dijalankan dengan aplikasi di handphone?” tanyanya.

Pudjo mengatakan, fitur dalam E-SKUM terdiri dari dua macam. Pertama, fitur tambah biaya. Fitur ini digunakan ketika biaya panjar sudah mulai habis untuk digunakan selama dalam proses peradilan. Ketika proses peradilan sudah selesai dan masih terdapat sisa uang panjar yang belum terpakai, maka dilakukan sistem SMS Gateway.

Melalui sistem ini, pihak yang berkaitan akan diberitahu bahwa uang panjar yang dibayarkan sebelumnya masih terdapat sisa. “Dan rincian tentang biaya yang terpakai itu akan terpampang di dalam E-SKUM ini juga,” jelasnya.

Dijelaskan Pudjo, bahwa E-SKUM ini merupakan embrio yang nantinya akan dikembangkan secara online. Ke depan, E-SKUM ini akan dikembangkan dengan berbasis website yang tujuanya untuk memudahkan para pencari keadilan dalam menghitung biaya panjar perkara dimanapun mereka berada. “Kami sudah menyiapkan aplikasinya,” tandasnya.

Sebagai informasi, dari presentasi dan wawancara itu, dewan juri melakukan penialain terhadap dua komponen utama, yakni komponen presentasi dan wawancara, serta komponen substansi. Pada komponen presentasi dan wawancara, dewan juri melakukan penilaian dengan membagi kedalam dua unsur penilaian.

Dua unsur penilaian itu antara lain, ketepatan waktu, kejelasan penyampaian, dan tata cara penyajian. Unsur penilaian yang kedua, yakni pengetahuan mengenai produk inovasi, alasan pemilihan inovasi, serta evaluasi pelaksanaan dan pengembangan produk inovasi. “Masing-masing diberikan bobot sebesar 10%,” sebagaimana dikutip dari panduan penilaian.

Sementara untuk komponen yang kedua yakni substansi, paling tidak ada empat unsur yang dilakukan penilaian. Antara lain, unsur kebaruan, kebermanfaatan, replikasi, dan keberlanjutan. Dari unsur kebaruan, salah satu poin yang dinilai adalah apakah inovasi ini merupakan ide orisinil atau modifikasi dari yang sudah ada.

Lalu, dari unsur kebermanfaatan, dilihat apakah inovasi itu memberikan kepuasaan bagi pengguna, serta menuntaskan permasalahan pelayanan. Sementara unsur replikasi, salah satu yang dinilai adalah apakah inovasi tersebut dapat direplikasi dengan mudah oleh lingkungan peradilan lain. Dan daru unsur keberlanjutan, salah satu penilaiannya adalah apakah ada potensi untuk diterapkan di satker lainnya.

“Masing-masing unsur tersebut, diberikan bobot sebesar 20%,” sebagaimana disebut dari panduan penilaian.

Sebagai informasi, penilaian tahap akhir ini dilakukan oleh dewan juri yang berjumlah 10 orang yang terdiri dari lima pejabat MA, yakni Prof Takdir Rahmadi (Ketua Kamar Pembinaan MA), Dr Syarifuddin (Ketua Kamar Pengawasan MA), Dr Purwosusilo (Hakim Agung), Nurhadi (Sekretaris MA), dan Soeroso Ono (Panitera MA).

Lalu dua orang mantan pejabat MA, yakni Widyatno Sastrohardjono (Mantan Ketua Kamar Pembinaan MA) dan Atja Sondjaja (Mantan Ketua Muda Kamar Perdata MA). Dan selebihnya dari unsur professional, yakni Prof Eko Prasojo (Guru Besar UI/ Pakar Reformasi Birokrasi Nasional), Erry Riyana Hardjapamekas (Mantan Wakil Ketua KPK), dan Dr Lina Miftahul Jannah (Doktor UI/Penggiat Inovasi Institusi Pemerintahan).

Love for Bapak

Pak, kata orang kemarin itu hari ayah. Wah, seumur Lina sekarang, baru tahu kalau 12 November tuh hari ayah.

Tadi malam, Lina pulang tidak pamitan karena saat Lina lihat Bapak tidur pulas, baru Lina lihat Bapak begitu lelah dan sedih (kalau tidak mau disebut kehilangan berat). Walaupun Bapak berusaha menunjukkan kalau Bapak tuh tegar sekali dan tidak mau terlihat sedih di depan kami, kami tahu bahwa Bapak begitu terguncang. Pak, itu sangat manusiawi, kok.

Pak, kita itu mirip sekali. Sama-sama aquarius. Toh mami, selalu bilang. Kamu ini mirip banget sama Bapak kamu, ya baiknya ya buruknya. Tidak tahu mengapa, bagi Lina, Bapak telah menjadi teladan dan panutan untuk semuanya. Mulai dari kecerobohan, kecuekan berpakaian, nyeleneh, sampai melawan banyak kemapanan. Integritas, kesetiaan, kemandirian, dan semangat berjuang yang Bapak contohkan, Insha Allah terus Lina pertahankan. Mudah-mudahan capaian prestasi Lina yang tidak seberapa ini membuat Bapak dan keluarga banda.

Pak, bukannya Lina juga tidak sedih. Kalau Lina kemudian tidak tampak menangis pun saat mami dulu menghadap Sang Khalik tahun 1997, Lina ingin nampak tegar di depan adik-adik termasuk Bapak,Teramat berat, pak. Terlalu sakit, pak.

Selamat hari Ayah. Terima kasih atas segala inspirasi dan pembelajaran dari Bapak. Bapak dan Mami selalu jadi pahlawan buat Lina. Tuhan tahu yang terbaik untuk ummatnya.

Dari atas KA Sawunggalih Kursi 16A menuju Purwokerto

Selamat jalan, Dek….

Saat saya menulis catatan ini, satu hari setelah kamu dipanggil Sang Pencipta. Saya yakin, kalau kamu membaca tulisan ini, kamu akan tahu, walaupun saya tidak pernah ada di samping kamu, tapi saya selalu ingat bahwa kamu adalah sama dengan saya. Sama-sama anak bapak dan mami. Kalau kita tidak pernah seiya sekata untuk banyak hal, bukan berarti kita tidak saling menyayangi, kan?

Sikap kita berdua seperti bumi dan langit. Tapi, tahukah kamu bahwa bumi dan langit walau berjauhan tetapi tetap terlihat dekat kan?

Banyak yang seharusnya masih bisa kita diskusikan, masih bisa kita bicarakan sebagai saudara. Tapi, memang penyesalan tuh tidak pernah ada di awal, selalu di akhir.

Dek, maaf kalau selalu bilang sama abang kalau kamu itu bandel. Gak pernah mau berobat kalau sakit. Gak pernah mau bicara apa yang kamu rasakan, kecuali saya melihat kamu orang yang keras, mungkin kata orang karena kamu terlahir sebagai leo. Toh, kamu adalah orang yang bertanggungjawab apalagi saat saya sudah pindah rumah.

Lucu juga ya, kalau baru sekarang saya sebut kamu adek. Bukan saya gak mau memanggil itu, tapi kita memang terbiasa hanya memanggil nama. Terakhir kita peluk-pelukan waktu abis sholat idul fitri, ya? Bahkan kita sempat foto-foto. Dan terakhir kita komunikasi via what’s app hanya satu kalimat saja. Selebihnya, bukan saya malas bicara dengan kamu, habis, kita memang sejak kecil selalu berbeda. Walaupun mami sering membelikan baju yang sama, mengajak ke tempat yang sama, tapi entahlah mengapa kita tidak dekat.

Saya sebenarnya iri loh sama kamu. Sejak kecil, kamu selalu dibanggakan karena kamu terlahir pas Indonesia merayakan kemerdekaannya 33 tahun, 17 Agustus. Makanya Dek, kamu diberi nama Titi. Tigapuluh Tiga. Huriyati dari bahasa Arab Huriyah, artinya kemerdekaan. Nah, pas banget kan. Bapak dan Mami memang sangat luar biasa memberikan nama kepada anak-anaknya, semua bermakna sangat dalam. Terus, sejak kamu lahir dan membawa pulang “si montok” ini ke rumah, ternyata kata mami, kamu terlilit tali pusar saat di dalam kandungan. Kata mami dan orang-orang lainnya, kalau terlilit tali pusar saat lahir, pasti jadi anak canti dan pantas pakai pakaian apapun juga. Bikin sirik gak sih? Sedangkan saya?

Dek, saya memang tidak pernah menangis akan kepergianmu. Bukan berarti saya tidak sedih akan kepergianmu. Saya tahu, Sang Pencipta sangat sayang sama kamu. Masak, saya harus bersaing dengan Tuhan dan kemudian melarang Tuhan bertemu dengan ciptaannya? Tuhan tahu, kamu sudah lelah dengan sakitmu.

Dek, untunglah kamu didamping seorang laki-laki yang juga sangat bertanggungjawab, selalu mendampingi hingga kamu pergi. Terima kasih, Frans “Faang Jangkung” Mustafa. Telah menjadi bagian dari kamu, Dek. Telah menjaga kamu sampai ke peristirahatan kamu yang terakhir.

Dek, kamu pasti senang karena sudah bertemu dengan mami. Kamu juga pasti senang karena tidak lagi merasakan sakit. Maafkan saya. Sejarah bahwa kita adalah adik kakak tetap akan sama dan tidak berubah. Sampai bertemu nanti. Selamat jalan, Dek.

Mereka pahlawanku, siapakah pahlawanmu?

“Selamat Hari Pahlawan, Semangat Kepahlawanan adalah Jiwa Ragaku” adalah tema yang diusung pada 2015 untuk memperingati Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November. Peringatan hari Pahlawan bukan hanya dengan upacara bendera dan kemudian mengheningkan cipta. (Saya ingat, terakhir upacara bendera adalah 17 Agustus 1995 di Lapangan Rotunda UI).

Kalau dulu para pahlawan adalah pejuang yang membela tanah air ini melawan para penjajah, saat ini tinggal semangatnya yang harus dipertahankan untuk membela bangsa dan negara ini mengingat hingga saat ini kita pun masih “dijajah” dengan banyak hal.

Mengapa dijajah? Kita belum bisa membebaskan diri kita dengan berbagai kepentingan penjajah, yang notabene bisa saja penjajah itu adalah diri kita sendiri. Saat kita mengagungkan dollar dan menganggap rupiah tidak lebih dari sekadar uang lecek yang dipakai hanya untuk berbelanja ditukang sayur atau membayar angkot karena memang harus dibayar kas maka kita masih dijajah.

Ketika kita lebih senang berwisata ke negara lain dengan alasan di negara ini obyek wisata tidak dikelola dengan profesional, maka kita tidak membela negara ini dengan mengubah pola pikir.

Coba kita sama-sama berpikir, apa yang akan kita dapatkan dengan eksplorasi ke tempat tujuan wisata domestik? Selain menikmatinya, kita bisa ikut memperbaikinya. Masalahnya, apakah kita masih peduli dengan itu semua.

Ketika kita menjual harta bangsa dan menggali membabi buta sumber daya alam, maka kita pantas mempertanyakan, apakah itu sifat kepahlawanan?

Ketika kita lebih senang menyisipkan bahasa asing atau bahkan pernuh berbahasa asing padahal dalam acara nasional, maka kita harus memikirkan kembali di mana letak rasa kebanggaan akan bahasa kita.

Lantas, siapakah pahlawan kita? Di benak saya, pahlawan bukan orang yang berjuang mengangkat senjata dan ketika dia wafat maka tempatnya di Taman Pemakanan Pahlawan. Tapi, dia yang membuat kita harus berpikir, menempatkan, dan bertindak sebagai orang Indonesia. Guru dan dosen yang mengajar dan mendidik tidak hanya untuk mendapatkan sertifikat profesinya, pengusaha kreatif yang terus-menerus membina usaha kecil sehingga menjadi berdaya, aparatur sipil negara yang melaksanakan semua aturan dengan kebajikannya, dan mahasiswa yang tidak hanya memilih kuliah di dalam kelas tetapi menempatkan diri sebagai mahasiswa yang peduli lingkungannya.

Setiap orang bisa mendefinisikan apa itu pahlawan, dan buat saya kita dapat menjadi pahlawan, untuk diri mereka sendiri, untuk orangtua yang tidak lelah mendidik dan memberikan kasih sayang, untuk pasangan yang selalu memberikan dorongan agar kita tetap berkarya, untuk guru-guru yang memberikan pengetahuan, untuk para tetangga yang telah menjadi keluarga terdekat, untuk para sahabat yang setia kepadanya, untuk teman yang pernah tidak sepaham, dan untuk para pemimpin bangsa yang memiliki komitmen membangun bangsa.

Rindu untuk orang-orang terkasih yang telah menjadi pahlawan terbaik dalam hidupku, Bapak, Mami, dan Bang Yasin.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Jangan pernah percaya 100% kepada siapapun

Dari sebuah buku karya Francis Fukuyama, saya kutip sebuah cerita dari Diego Gambetta yang benar-benar terjadi di Italia Utara dalam The Sicilian Mafia: the Business of Private Protection:

“Seorang mantan bos (mafia) Italia mengingat kenangan ketika ia masih kanak-kanak. Ayahnya, yang juga bos mafia, saat itu menyuruhnya memanjat sebuah tembok yang cukup tinggi. Tanpa berpikir panjang, si anak segera memanjatnya. Sesampainya di atas, si ayah segera menyurunya melompat turun. Tentu saja dia bingung. Tetapi, si ayah tetap bersikeras menyuruhnya melompat, sambil berjanji akan menangkap tubuhnya dari bawah. Akhirnya, ia teryakinkan oleh janji ayahnya. Dan beberapa saat kemudian, dengan posisi terjun payung, ia melompat ke arah ayahnya yang sudah siap pada posisi menangkap. Tetapi, seketika si anak melompat, anehnya, si ayah secepat kilat menghindar. Tentu saja tidak ada kesempatan bagi dirinya untuk memperbaiki posisi. Hidungnya mencium tanah, patah, dan berdarah. Tangannya terkilir dan memar. Napasnya berhenti sejenak. Untung tulang rusuknya tidak patah. Setelah sadar, dengan napas tersengal dia segera bangun dan memprotes. “Bapak sengaja mau mencelakakan saya ya?” Dengan wajah tanpa dosa si ayah menjawab “Kamu harus belajar tidak percaya, sekalipun pada ayahmu sendiri” (Fukuyama, Trust -terj- 1995, xii)

Waktu saya masih kuliah S1, ibu saya, Ibu saya juga  pernah mengingatkan saya untuk tidak percaya 100% kepada siapapun… Alasannya, agar ketika saya dikhianati, maka saya dapat segera bangkit dan tidak terpuruk terlalu dalam. Buat saya masuk akal juga…

Nah, bagaimana yang terjadi di negara ini? Apa ketidakpercayaan juga menjadi suatu keniscayaan, sehingga kita tidak perlu percaya sepenuhnya kepada pemimpin negara dan lantas kemudian membabi buta melakukan kajian bahwa yang dilakukan mereka adalah salah. Bagi saya, dengan ketidakpercayaan berarti perlu ditumbuhkan sikap persiapan untuk menghadapi hal-hal buruk di kemudian hari, sehingga kita tidak terjebak dengan kondisi kebahagiaan semu saat ini.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

Diskursus seputar Institutionalisasi Prinsip-Prinsip Democratic Governance pada Pemerintahan Provinsi di Indonesia

Tulisan tersebut merupakan sebuah artikel dalam “Seri Bunga Rampai FISIP UI 1/2014: Era Baru Indonesia Menyongsong Komunitas ASEAN 2015 (Pandangan Ilmu-Ilmu Sosial dan Politik). Ditulis bersama saya (ehem, masih dengan nama Lina Miftahul Jannah) dan kolega saya Zuliansyah Putra Zulkarnain.

Tulisan ini ada bagian dari penelitian dengan judul Rekonstruksi Peranan dan Fungsi Pemerintahan Provinsi sebagai Intermediate Level of Institution Dalam Kerangka Desentralisasi di Negara Kesatuan: Studi Perbandingan di Indonesia dan Filipina, yang didanai oleh Hibah Riset Madya Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT).

Editor: Achmad Fedyani Saifuddin

ISBN: 978-602-71839-1-9

Cetakan pertama, Desember 2014.

Buku Bunga Rampai FISIP

Dahsyatnya Pimnas 28 Kendari: Seminggu untuk Selama-lamanya…

Kalau masih ada yang bingung apa itu PIMNAS, pastinya itu bukan mahasiswa Indonesia. Ini acara yang mengusung lomba ilmiah namun penuh kesahajaan dan kebersamaan. Sstt… rahasia ya, soalnya saya juga menemukan pasangan hidup dari forum seperti ini loh. PIMNAS adalah kependekan dari Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional. Acara tahunan ini saat ini sudah berusia 28 tahun, artinya diselenggarakan sejak tahun 1988. Pimnas kali ini diselenggarakan di kampus Universitas Halu Oleo di Kendari. Rasanya tidak asik kalau saya menuliskan hal serius pada kali ini.

20151006_071751Foto ini di ambil sebelum acara pembukaan. Diambil dari plaza Hotel Grand Clarion. Ini hanya sebagian juri saja loh. Ternyata, hingga saat ini, belum ada foto lengkap dewan juri. Seragamnya keren kan? Bahkan ada yang dijahit hanya dalam hitungan jam loh gara-gara bahannya baru diterima beberapa hari sebelum acara di Kendari, dan pilihannya hanya penjahit vermak jeans yang mampu menyelesaikannya secara cepat. Walaupun, ada beberapa juri yang akhirnya tidak sempat memakai seragamnya karena seragam belum siap dijahit.

Selain kehebohan juri dengan seragamnya yang mepet, para juri juga selalu diisi kehebohan. Mulai dari kipas-kipas selama berlangsungnya pimnas (udara Kendari sangat panas loh… dinginnya hanya ketika di kamar hotel),  kuliner yang dahsyat, dan belanja oleh-oleh yang gak ada matinya (kacang mete, tenun, hingga batu akik erekke).

Juri juga tidak ragu melantai loh
Juri juga tidak ragu melantai loh

Tapi, yang patut diacungi jempol, mereka mau bekerja sambil melantai. Keterbatasan alat mencetak tidak mempengaruhi bagaimana cara juri bekerja. Ada yang mencari driver printer,a da yang menyediakan laptop nya secara sukarela, dan ada juga yang mencetakkannya. Tertib antre… Jempol tiga deh buat mereka.

IMG-20151008-WA0012

Bukan hanya juri yang antre, tapi flashdisk pun ikut antre.

IMG-20151006-WA0011
Leader UGM Drum-band

Salah satu yang membuat pembicaraan hangat adalah si mbak di sebelah. Luar biasa leader dari drumband Universitas Gadjah Mada saat acara pembukaan Pimnas ini.  Ayu tenan loh. Duh…siapa ya namanya cah ayu ini?

Seragam penutupan keren banget loh. Nih, para pendawa lima sedang bergaya. Dahsyat kan? Sepertinya akan cocok jadi cover majalah Pimnas… (kalau ada). 20151008_201115

Sedihnya, saya dan beberapa juri perempuan gak bisa pakai seragam karena kekecilan. He he he… maklumlah ukuran badan yang di atas rata-rata perempuan.

Yang istimewa pada pimnas kali ini, selain Liaison Officer Juri adalah dosen Universitas Halu Oleo (baru kali ini loh terjadi…dahsyat…!!!)  juga  diperkenalkan sebuah theme song. Penciptanya tak lain adalah rektor Universitas Halu Oleo yaitu Prof. Usman Rianse.

Silakan didengarkan dengan menkopi link berikut:

http://pimnas28.uho.ac.id/theme_song_pimnas_ke_28_uho.mp3

Musiknya enak di dengan, syairnya sederhana dan mudah diingat  Yang menjadi penyanyinya adalah Pak Iqbal. keren deh… Theme song ini dibuat dalam dua versi: versi pop dan versi mars-nya.

       Bersama mahasiswa Indonesia berkarya
       Engkau sinari persada dengan cahaya ilmumu
       Terdepanlah sambut panggilan baktimu
       Junjung tinggi semangat kesatriamu
       Mahasiswa mutiara pertiwi

              reff: Di pundakmu jiwa seluruh bangsamu
                     Goresan pena inovasimu
                     Mandirikan seluruh rakyat
                     Cerdaskan bangsamu dengan pimnas
                     Seminggu tuk selama-lamanya

Selamat kepada seluruh pemenang. Selamat juga untuk Universitas Brawijaya yang kembali membawa pulang Juara Umum. Sampai bertemu di Pimnas 29… (Bocorannya sih di Jawa Barat… Wallahu alam). Seminggu tuk selama-lamanya.

Dari Depok untuk Indonesia lebih baik.