Tag Archives: Iwan Gardono Sujatmiko

Terima kasih, Mas Iwan…

Hari ini 23 Mei 2017, mungkin bisa dianggap hari terbaik lagi. Lama sekali saya tidak pernah berada satu forum, satu meja, satu diskusi dengan sosok ini. Jika mengingat kembali, mungkin lebih dari 16 tahun yang lalu, saat saya masih aktif mengajar di sosiologi. Kalau ditanya, apakah saya deg-degan… wah saya justru terharu biru ketika mendengar akan bertemu dengan sosok yang akhirnya membawa saya menjadi dosen. Sosok yang kemudian menjadi panutan sebagai akademisi. Mungkin saya saja yang merasa ke-geer-an sendirian. Tapi, biarlah orang bebas memberi interpretasi.

Iwan Gardono Sujatmiko, profesor pada bidang sosiologi. Kalau ditanya apa kaitannya saya dengan sosiologi, maka inilah mystori dan bukan histori. Saya mahasiswa tahun ketiga di UI. Saat kemudian ada perekrutan asisten mahasiswa untuk mata kuliah statistik sosial dan tiba-tiba mengubah banyak rencana hidup saya.

Selembar surat menyatakan kalau saya diterima menjadi asisten mahasiswa ditandatangani oleh Dr. Iwan Gardono. Duh, setahu saya koordinator mata kuliahnya kan Dr. Tamrin Amal Tomagola. Siapa Iwan Gardono? Pertanyaan ini berkecamuk begitu rupa sampai kemudian pertanyaan itu dengan sendirinya terjawab dalam perjalanan saya menjadi asisten di mata kuliah ini. Lulusan summa cum laude dari Harvard University. Tahu gak apa yang dimaksud dengan summa cum laude? Dari investopedia.com, saya dapat informasi seperti ini. Cum laude” is a Latin term that translates to “with honor” in English. “Magna cum laude” means “with great honor,” and “summa cum laude” means “with greatest honor.” Sepertinya saya gak perlu menerjemahkan ini kan? Intinya, he is one of the greatest. Biasanya hanya 5% orang yang memperoleh gelar ini.

Dari sinilah, saya kembali mencintai hitung-hitungan. Mulai menemukan makna bahwa harus menghargai orang siapa pun dia. Saya yang masih mahasiswa diberikan tanggungjawab, diberikan kepercayaan. Tidak melihat orang dari tampilan semata, tetapi dari hati dan pikirannya. Saya teringat ketika saya ingin melanjutkan studi S2, Mas Iwan menyebutkan dalam surat rekomendasinya bahwa sebenarnya dia menginginkan saya studi di luar negeri. Duh, terharu banget… “Gak apa-apa kamu S2 di Administrasi. Kamu kan orang sosio yang dikuliahkan di administrasi.” Begitu yang pernah saya dengar ketika saya bilang apakah saya melanjutkan ke Administrasi atau Sosiologi. Dan di awal tahun 2003 bertemu beliau dan beliau bertanya sambil bercana “Berapa honor sebagai Sekretaris Departemen Ilmu Administrasi?” Memang, sejak medio tahun 2000, saya akhirnya memutuskan kembali ke habitat saya di Ilmu Administrasi. Sedih juga memutuskan untuk meninggalkan Sosiologi UI dan orang-orang di dalam membawa kenangan luar biasa untuk saya, untuk menjadi saya yang sekarang. Meninggalkan bukan secara fisik, karena saya toh masih bertemu dengan kawan-kawan Sosio, tapi meninggalkan mata kuliah-mata kuliah yang menjadi dasar buat saya.

Menyitir dari jargon yang ada dari laman UI saat beliau memperoleh penghargaan sebagai Dosen Berpretasi di Universitas Indonesia: Beriman, Berilmu, dan Beramal… Terus lah berkarya, Mas Prof… Terima kasih.

Dari Depok untuk Indonesia lebih Baik

Advertisements