Selamat Hari Pramuka

Siapa yang masih ingat kepanjangan dari pramuka? Siapa tang tahu apa lambang pramuka? Pramuka, praja muda karana, dengan lambang tunas kelapa.

Kenapa sih harus ngomongin pramuka? Hari gini?

Yang pernah menjadi anggota pramuka pasti ingat bahwa pramuka kegiatannya banyak dan positif. Diajarkan kerjasama dengan membangun tenda untuk berkemah, dilatih cekatan dengan tali temali, dan kreatif mengisi kebosanan dengan kegiatan api unggul.

Bukan hanya itu loh, gerakan yag lahir tanggal 14 Agustus sangat mengajarkan kedisiplinan dan toleransi. Yang pernah tahu dasa darma pramuka pasti mengangguk setuju.

Masalahnya, sekarang kok kegiatan ini seperti mati suri ya? Sekolah hanya mengajarkan pramuka via seragam coklat baru dengan dua garis strip di lengan kanan. Selebihnya tidak jelas pramuka mau dibawa kemana. Bahkan beberapa sekolah tidak lagi meminta siswanya punya seragam pramuka coklat muda dan coklat tua ini.

Mau dibawa kemana gerakan ini? Jamgan sampai kemudian gerakan ini dipolitisir dan kemudian menjadi partai pramuka.

Dirgahayu pramuka.

Aplikasi Metode Penelitian

Dari Bantul untuk Indonesia Lebih Baik

Membaca: Membuka Dunia Silaturrahmi

Jika ditanya, kapan Anda membaca terakhir kali, jawabannya pasti cepat. Ya, betul. Membaca pesan-pesan yang masuk via gajet Anda. Jika ditanya, kapan Anda membaca tulisan yang lebih panjang lagi, mohon jangan dijawab kalau itu terkait berita gosip yang masuk via online langganan Anda. Nah, kalau ditanya buku apa yang terakhir dibaca dan kemudian Anda bingung menjawabnya atau mengernyitkan dahi dan berpikir lama, cobalah berpikir kembali. Apakah Anda memang sudah melupakan hobi masa kecil Anda membaca komik Mimin (si-Monyet Hitam), majalah Kuncung (yang sampulnya pun begitu sederhananya), atau novel-novel Mira W?

20150812_060116
Model: Marcel Angwyn

Mudah-mudahan, membaca bisa dilakukan kapan saja ya. Di salah satu Desa di Bantul Yogyakarta, koran biasa dibaca dengan model dipajang dekat dengan balai desa atau fasilitas umum.  Setiap pagi, lebih mudah menemukan lelaki yang membaca berita politik atau hanya sekedar melihat iklan. Kalau perempuan sih, jarang terlihat mendekat dinding-dinding berita ini. Mungkin terlalu sibuk di dapur dengan urusan domestiknya.

Dinding berita ini dapat ditemui hampir di semua tempat di Yogyakarta. Sepertinya, patut ditiru agar kita tidak hanya berkutat dengan jempol dan gawai aja, tetapi mempererat silaturahmi dengan diskusi pasca membaca.

Aplikasi Metode Penelitian

Dari Bantul untuk Indonesia lebih baik

Batas: ini bukan sekadar tanda

Bagi yang hobi nonton film, pasti tahu apa jalan cerita film yang dibintangi oleh Marcella Zalianty dan Arifin Putra ini. Ya, tentang kejadian seputar batas wilayah Indonesia dan Malaysia. Tahu kan apa yang dimaksud dengan batas wilayah. Batas wilayah biasa disebut juga dengan batas geografis. Tentu saja ini ada kaitannya dengan daerah tertentu yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang. Nah, biasanya, batas wilayah ditandai dengan tanda-tanda khusus. Patok, tugu, pagar, jalan, atau batas alam seperti gunung atau sungai.

Apakah batas wilayah ini menjadi penting? Ini bukan sekedar membicarakan garis batas loh. Lebih dari itu. Bicara kewenangan, bicara harga diri. Pengalaman menunjukkan seperti itu. Salah satu penyebab konflik Dayak dan Madura di Kalimantan Barat disinyalir salah satunya karena pemindahan batas wilayah ini. Palestina dan Israel pun masih berkonflik juga karena batas wilayah. Sama halnya dengan Indonesia dan Malaysia. Bahkan dulu, kita mungkin masih ingat dengan Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur?

Jadi, biasanya, hal yang seharusnya kita tahu tentang daerah sekitar kita adalah batas wilayah. Jangan sampai konflik pilkada pun muncul karena sang calon tidak tahu area yang diwakilinya. Masak kalah sama sang tikus yang selalu menandai daerah kekuasaannya dengan air seninya?

Kalau kemudian saya bertanya kepada salah seorang mahasiswa ketika mungkin untuk pertama kali dia tinggal di suatu daerah baru, itu adalah suatu keharusan. Agar dia tidak tersesat. Jangan memberikan penjelasan bahwa batas desa adalah jendela berwarna hijau atau pohon rambutan. Kalau jendelanya kemudian berubah warna atau pohonnya ditebang, terus apa dong yang menjadi patokannya?

Aplikasi Metode Penelitian

Dari Bantul untuk Indonesia lebih Baik

Apakah aku kurang ganteng sehingga kamu tidak suka aku?

Banyak laki-laki yang mengeluarkan pertanyaan “Apakah aku kurang ganteng sehingga kamu tidak suka aku?” karena biasanya ditolak sama perempuan yang dia sukai. Tapi tulisan ini tidak seperti itu. Judul di atas saya ambil dari curahan hati suami saya. Tapi, bukan karena saya tidak suka dia atau karena dia kurang ganteng loh. Suami saya, sampai saat ini masih tidak tergantikan oleh laki-laki manapun di atas muka bumi ini. Disebut ganteng banget, juga gak. Yang pasti, dia adalah orang yang bisa sangat saya andalkan untuk banyak hal, kecuali urusan listrik, otak-atik mesin, dan mengendarai mobil. Mudah-mudahan dia gak baca tulisan ini karena saya khawatir, kalau dia baca, pasti pujian ini membuat dia jadi kurus. Dari pada nanti salah persepsi, mending saya bagi saja ceritanya melalui blog ini.

Setiap pagi, sambil nunggu anak saya siap-siap sekolah, saya duduk sambil nonton TV, berita atau hanya sekedar gosip artis yang gak penting. Biasa lah… kadang perlu juga agar kalau ngobrol dengan siapa saja, jadi nyambung. Kalau suami saya, biasanya duduk di teras, sambil baca koran.

Nah, pagi ini, saat asik menonton siaran gosip pagi, tiba-tiba suami saya datang dari teras dan kemudian duduk di samping saya. “Semalam ayah terbangun jam 1 dan gak bisa tidur lagi. Padahal aku mau kamu, tapi kamu kok tidak suka aku.”

“Apa-apaan sih?” Tanyaku dalam hati. Maksud ayah, apa?” tanyaku penasaran

“Kan ayah pengen tidur, tapi gak bisa juga. Gak tahu kenapa. Makanya ayah bingung, Apakah aku kurang ganteng sehingga kamu tidak suka aku, Tidur?”” curhat suamiku.

Ha ha ha….Saya yang mendengar hanya ketawa tergelak sambil mengucap: “Ayah, ayah…mungkin memang ayah kurang ganteng kali, sampe tidur aja gak suka sama ayah.”

Saya tahu, penyebab utamanya cuma satu. “Pasti gara-gara kepikiran kerjaan ya. Kebanyakan proyek sih…”

“Iya, nih,” ucapnya. Dalam hati saya: Duh… Besok-besok ayah gak perlu jadi orang baik yang susah menolak kalau diminta bantuan. Apalagi kalau hanya membuat capek dan gak bisa tidur.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Penganan tradisional: efisiensi rapat ala MenPANRB

“Benar gak sih, kalau rapat di KemenPANRB (Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi), penganan ringan yang disajikan sederhana?” pertanyaan seperti itu kerap diajukan teman-teman di kampus ketika rapat dan membandingkan penganan yang kami peroleh dengan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 10 Tahun 2014 tentang Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi Kerja Aparatur Negara.

Selain membatasi perjalanan dinas dan rapat di luar kantor demi penghematan Anggaran Belanja Barang dan Belanja Pegawai, dalam Surat Edaran ini juga dinyatakan agar menyajikan menu makanan tradisional yang sehat dan/atau buah-buahan produksi dalam negeri pada setiap penyelenggaraan pertemuan/rapat demi mendorong peningkatan produksi dalam negeri dan kedaulatan pangan.

Masalahnya, betulkah itu dilaksanakan? Beberapa kali rapat di kantor KemenPANRB, memang betul surat edaran ini ditegakkan. Masalahnya, yang disebut makanan tradisional tuh apa sih?

Dari laman http://www.intentionallydomestic.com/ diperoleh penjelasan apa sebenarnya yang dimaksud dengan makanan tradisional. Terjemahan bebas dari tulisan tersebut adalah bahwa makanan tradisional terkait dengan:

  • Mengikuti cara nenek moyang kita memakannya.
  • Mengandung gizi dan nutrisi
  • Memilih makanan terbaik sesuai anggaran, kecocokan dengan zat kimia dalam tubuh seseorang, dan ketepatan cara mengkonsumsi sehingga tubuh kita dapat mengambil manfaatnya.

Sedangkan dari modul pembelajaran 2 di Jurusan Kepelatihan Olahraga Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia yang ditulis oleh Lilis Komariyah disebutkan bahwa makanan tradisional adalah makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat tertentu, dengan citarasa khas yang diterima oleh masyarakat tersebut.

Artinya, kalau kita mau pakai pendefinisian pertama, akan banyak makanan mentah seperti lalapan dengan sambal, soto, nasi uduk, ikan asin, nasi goreng, rendang dan khas padang lainnya, namun perlu diperhatikan bahwa beberapa makanan tersebut misalnya makanan padang tidak boleh dikonsumsi terlalu sering karena kandungan kolesterolnya yang cukup tinggi. Kalau makan soto, repot juga karena berarti harus disediakan mangkok. Bagaimana dengan orang Palembang yang menyantap mpek-mpek sebagai kebiasaan di pagi hari alias sarapan? Padahal banyak orang, kombinasi asam dan pedas itu cukup berbahaya bagi lambung. Selain itu, agak aneh kalo penganan kecil disajikan tidak sesuai waktu. Kue putu mungkin tidak enak bila dimakan saat dingin karena biasanya agak mengeras.

Nah… ini contoh penganan kecil waktu saya rapat di KemenPANRB. IMG20150311085215Hanya kacang dan ubi. Hari yang lain (sebelumnya lupa difoto), dapat pisang rebus (yang dikemas dengan alumninium foil) dan jagung rebus (juga dikemas dengan aluminium foil). Pernah dapat makaroni panggang (pasti pakai susu, keju, dan daging cincang dong) dan dadar gulung. Terus bagaimana dengan paket makan siang kotak yang cepat saji misalnya makanan jepang? Itu kan bukan ciri khas masyarakat kita. Atau, boleh gak bakso diakui oleh kita sebagai makanan khas padahal ini diambil dari makanan warga Tionghoa dan keturunannya? Nah, bakwan malang kan isinya bakso, ada pangsit nya juga…ini kan bukan Indonesia. Sampai batasan mana itu disebut makanan khas Indonesia. Itu yang harus didefinisikan ulang.

Terkait pengemasan dan bahan baku, ada pengalaman yang cukup menarik. Saya pernah tanya kalau dadar gulung ini isinya keju, apakah ada jaminan bahwa itu bukan keju impor dan memang dapat mendorong peningkatan produksi dalam negeri dan kedaulatan pangan? Terus kalau pisang rebus dikemas dengan aluminium foil dan harganya menjadi naik berkali lipat, dan singkong diberikan tambahan keju dianggap juga bagian yang mendorong penghematan?

Memang lucu yang terjadi di negeri ini. Kreatif sih…Yang tidak perlu diatur dibuat kebijakan, yang perlu diatur dibiarkan pura-pura bukan tanggungjawabnya. Yang perlu diatur tuh, jangan sampai bikin rapat yang seharusnya satu hari, disuruh tanda tangan dua hari. Atau, karena kantor di Jakarta, bikin rapat di Bogor atau Serpong demi per diem.

Hadeuh.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Yuk Gunakan Bahasa dengan Tepat [2]

Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa kedua di negeri ini. Itu tidak salah. Hanya saja, ada beberapa hal yang harus diingat. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan menyatakan bahwa: bahasa resmi nasional yang digunakan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan ada yang menyebut, “gak keren ah kalo gak pake bahasa asing, kuno, kampungan” IMG20150421124000#1

Nah apakah ada yang salah pada foto di samping? Perhatikan tulisan di bawah Bank Jatim. Ya, benar sekali. Drive True PBB. Tulisan tersebut saya temui saat melakukan perjalanan dinas ke Kabupaten Banyuwangi. Coba bandingkan dengan gambar berikut ini. IMG20150421124014

Gambar sebelah kanan saya peroleh di tempat yang sama. Ceritanya, gambar tersebut adalah penunjuk arah ke loket Bank Jatim.

Penggunaan bahasa asing, sekali lagi tidak dilarang. UU 24/2009 membolehkan hal tersebut sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 38 bahwa: (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam rambu umum, penunjuk jalan, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum, dan (2) Penggunaan Bahasa Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disertai bahasa daerah dan/atau bahasa asing.

Hanya saja, cobalah pakai bahasa yang tepat. Drive True Drive Thru adalah dua hal yang berbeda. Drive True artinya tepat berkendara, sedangkan Drive Thru (berasal dari istilah Drive Through) artinya  lewat berkendara. Kesalahan kecil tapi berbeda makna. Untuk istilah ini, tentu saja yang benar adalah Drive Thru.

Hanya saja, maksud yang baik ini tetapi kenapa ya harus berbahasa asing. Apakah tidak ditemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia? Sejauh yang saya ketahui, kata tersebut belum ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Saya memang pernah membaca ada sebuah media cetak yang mengganti istilah Drive Thru menjadi Kendara Lewat. Artinya, pelayanan diberikan tanpa orang perlu turun dari kendaraannya. Biasanya digunakan di loket-loket restoran cepat saji. Apakah ini harusnya yang kita pakai kemudian?

Pemerintah sepertinya harus segera mengatur hal ini. Banyak inovasi yang dilakukan namun merujuk pada bahasa asing, sehingga ke depannya pelayanan-pelayanan yang sejenis dapat memperbaikinya dan kita tetap bangga dengan Bahasa Indonesia, sebagai bahasa pemersatu bangsa.

Di luar perdebatan tersebut, saya cukup mengacungkan jempol bahwa ada inovasi pelayanan. Pak Abdullah Azwar Anas memang luar biasa deh. Beliau bukan hanya ganteng loh, tapi mampu membawa Kabupaten Banyuwangi menjadi daerah yang humanis dan memberikan banyak perbaikan dalam pelayanan. Berada di Banyuwangi saya merasa diwongke.

Selamat ulang Tahun Pancasila, 1 Juni 2015

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Comfortable versus Love (antara Kenyamanan dan Cinta)

A perfect relationship starts when you are comfortable with him and goes on when just being with you is enough to make him happy… He patiently listens to what you have to say… He is your best friend and he can understand you deeply, even you unsaid words… He is the perfect man made for you (Neena Gupta: lifelovequotesandsayings.com)

Siang hari yang cerah, dalam perjalanan kembali dari tugas, seorang profesor bertanya kepada Dita (nama ini sudah disamarkan ya…), yang dulu pernah menjadi mahasiswanya.

Mba Dita, apakah memang mba Dita memang mencintai mas Anto (nama ini juga sudah disamarkan)? Tanya si profesor dengan gaya jahil. Anto dulu juga adalah mahasiswa si Profesor. Anto dan Dita saat kuliah adalah teman satu kelas. Oh, ya. Profesor ini sejak masih mahasiswa dikenal sebagai orang yang iseng. comfortable and loveSaya hanya senyum-senyum sambil bilang “nah loh”. Dita terlihat bingung ketika ditanya ini dan bahkan dia bergurau “bukannya prof tadi bilang mau tidur?” Sebelumnya, memang si profesor ini bilang “Saya tidur dulu ya”. Saya yang memang tahu kebiasaan profesor ini menyambung “Tidur aja, mas. Nanti kalau sudah mau dekat rumah, saya akan bangun kan.” ujar saya.Walaupun, saya tahu bahwa ucapan mau tidur itu hanya iseng saja. Dita akhirnya dengan malu-malu menjawab sambil tertawa, “kalau buat saya sih yang penting nyaman dulu, prof. Cinta akan muncul kalau kitanya sudah nyaman.” Jadi kalau dalam bahasa Inggris berarti? Comfortable first, and love next. “Kalau saya bilang saya cinta tapi gak nyaman bagaimana?” lanjut Dita.

Aha… begitu sederhananya, ya. Tapi memang betul. Bagaimana kita bica cinta kalo kita gak nyaman. Makanya, akhirnya yang dilakukan saat pacaran atau taaruf adalah mencari dan mengenal zona kenyamanan yang ada. Berusaha mengenal, apa yang membuat pasangan kita nyaman dan tidak mengganggu kenyamanan kita juga.

Jadi, saya setuju banget sama Miss. Gupta (yang saya cuplik di atas – Terimakasih Miss Gupta atas tulisannya yang sangat dalam). Tinggal sekarang bagaimana kita mendefinisikan cinta dan menyandingkannya dengan kenyamanan.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Batas Kesopanan: antara Pakaian dan Perkataan

Tulisan ini bukan hanya dibuat karena ada kehebohan di FISIP Universitas Indonesia (UI) perihal pengaturan cara berpakaian. Tapi, lebih dari itu., tentang makhluk yang namanya kesopanan.

Dalam KBBI daring yang dimaksud dengan istilah sopan adalah kata sifat yang berarti:

  • hormat dan takzim (akan, kpd); tertib menurut adat yg baik
  • beradab (tt tingkah laku, tutur kata, pakaian dsb); tahu adat; baik budi bahasanya
  • baik kelakuannya (tidak lacur, tidak cabul)

sedangkan kesopanan adalah kata benda yang berarti:

  • adat sopan santun; tingkah laku (tutur kata) yg baik; tata karma
  • keadaban; peradabankesusilaan

Artinya, bicara sopan dan kesopanan ada kaitannya dengan adat, adab, dan susila. Ihh, berat ya.

Bagaimana kesopanan di kalangan mahasiswa?

Siapa yang tidak mengenal seorang Nanang di FISIP. Mungkin bisa dikatakan sebagai sosok yang paling dikenal publik. Sejak pagi hingga malam hari, banyak mahasiswa yang mampir di tempatnya seraya berucap “Nang, berapa semuanya?”, “Nang, gua beli ini dong”, atau “Nang, buruan kembaliannya, gua udah terlambat.”

Kalau sudah begini, saya hanya mengelus dada. Di mana letak kesopanan bahasa dari mahasiswa? Saya sempat menanyakan usia Nanang sekarang dan dia jawab “30-an, mba.” Coba, berapa sih umur mahasiswa di FISIP UI. Rata-rata 20 tahun. Bukankah seharusnya mereka memanggil yang lebih tua dengan sebutan “mas”, “bang”, kak”, atau “pak”. Padahal, saya ingat betul waktu saya masih jadi mahasiswa, dan yang menunggu tempat jualan di koperasi adalah Mang Pendi (a.k.a. Afandi). Kami tidak pernah menyebutnya dengan Pendi saja. Mungkin, itulah lost generation. Hilang semuanya, termasuk tata krama. Gak perlu lah cium tangan dosen. Cukup menyapa saja, atau kalau malas menyapa, berikan senyum sedikit saja.

Bagaimana dengan cara berpakaian? Bagi saya, pakaian itu bukan bicara merek atau harga, yang penting sopan dan tidak mengganggu orang lain. Pakaian mini buat saya tidak masalah, asal dipakai di tempat yang tepat. Kalau di kampus berpakaian mini lantas kemudian mahasiswa lain atau dosennya jadi tidak konsentrasi bagaimana? Jangan lantas berpikiran, salahnya orang yang melihat dan berpikiran negatif. Loh, manusia kan makhluk sosial jadi mau tidak mau dia harus berhubungan dengan orang lain. Kalau mau jadi makhluk yang individu, gak usahlah berkeliaran. Diam di rumah, kerja dari rumah, atau sekolah juga di rumah.

Himbauan cara berpakaian FISIP UI
Himbauan cara berpakaian FISIP UI

Artinya, kalau bicara kesopanan, bukan masalah celana itu robek atau pakaian yang mini. Tapi, gunakan di saat yang tepat. Gak lucu juga kan, pakai pakaian pesta di kolam renang, pakai pakaian renang ke sekolah, atau pakai helm kerja di mal? Lain halnya kalau kita sekolah olahraga, ya bisa menggunakan pakaian renang saat pelajaran berenang. Tapi kalau jam pelajarannya main sepakbola atau bulutangkis masak pakai baju renang?

Apakah mengatur dosen juga?

Kalau mau mengatur mahasiswa, ya atur juga dosennya. Berani gak? Kalau mengajar tidak boleh pakai kaos, tidak boleh pakai sepatu sandal. Loh…kok itu menohok saya banget ya? Yang memang hobi berkaos dan bersandal. Saya ingat, beberapa profesor masih menggunakan sepatu sandal dan memakai jeans. Juga ada dosen perempuan yang memakai hak tinggi tapi modelnya selop atau sandal. Memang sih tidak ada yang berkaos. Hanya saya saja dosen yang sering pakai t-shirt. Apa bedanya sepatu sandal teplek dengan high heels? Beda tambah tinggi aja kan?

Oh ya, terhadap hal ini saya pernah komplain pada saat saya tidak boleh masuk sebuah kantor pemerintah di bilangan Sudirman karena pakai sepatu sandal teplek (anak sekarang menyebutnya dengan flat shoes) padahal ada ibu-ibu yang diperbolehkan masuk padahal bersepatu hak tinggi.  Saya bilang, apa bedanya? Itu namanya diskriminatif. Aturan kan tidak boleh diskriminatif.

Saya sendiri juga tidak pernah melarang mahasiswa memakai kaos atau sepatu sandal, karena saya tidak mungkin melarang mereka padahal saya sendiri melakukannya. Bagi saya yang penting adalah kenyamanan. Termasuk di dalamnya saya mengizinkan mahasiswa makan dan minum di kelas, tetapi tidak boleh berisik. Misalnya, kalau makan kerupuk kan berisik tuh, jadi saya larang. Sekali lagi, buat saya, yang penting tidak mengganggu aktivitas belajar mengajar. Pernah ada satu mahasiswi berpakaian dengan cukup terbuka, maaf, belahan dadanya terlihat, maka saya bilang, “coba pakai phasmina.”

Duh…kalau aturan berpakaian tersebut benar-benar diterapkan di kampus ini… bagaimana ya?

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik.

Yang tersisa dari Reuni SMPN 87 Angkatan 87 – 26 April 2015: Don’t stop here!

Walaupun masih sakit cacar air, saya memaksa untuk jalan juga reuni. Kata dokter, kalau masih baru gak menular. Kalau sudah sembuh baru menular. Ada aja nih penyakit. Tapi, kalau gak datang, kapan lagi moment seperti ini terulang. Kaget, senang, bingung…28 tahun yang lalu akhirnya ketemu lagi. Laksana gado-gado Boplo yang gurih itu, atau seperti soto rujaknya Banyuwangi, mau rujak apa soto sih atau mau soto apa rujak nih? Intinya semua kumpul lagi… Yiiihaaa. Asik. Ada yang masih saya kenal karena dari dulu sampe sekarang wajahnya tetap gak berubah. Dan ada yang tetap gak saya kenal. TATI. Walau akhirnya, ketika wajah Tati saat kelas 1 SMP dimunculkan… barulah saya teringat. Ternyata Tati itu yang seperti itu. Soalnya, beda banget. Ha ha ha… Sekali lagi, maaf ya, Tat.

reuni 87-87
reuni 87-87_26 April 2015

Ada Sumarjo (yang dari dulu selalu ingin dipanggil dengan Johan), Irawan Syahputra (mantan model iklan dan teman belajar di rumah Deswita), Erni “Strawberry” Setyaningsih, Fauziah “Ipau” Hanum (duh…cantik banget emak ini), Elangsari, Evi Roviana (yang dulu montok banget), Lilis (yang pernah jadi Satpam Gramedia, sekarang jadi dosen di USNI), Tontowi alias Toton (yang nakalnya dari dulu gak habis-habis), Sri “JQ” Rejeki dan Yohana “Iyoy” Marga (yang dulu temen SD juga), Muthia dan Jullya (yang dulu kalo sekolah jarang bawa tas), Delisa “Nining” (yang anaknya Bu Waty-guru kelas 1 SD 05), Titik (yang kemana-mana bareng sama Nining), Sri “Tari” Wartini (satu SMA dan satu RW), Zakaria (yang awet tua dari dulu), dan Mufid Tamyizi (satu SMA dan masih tetap kalem). Masih banyak lagi deh, yang kalau ditulis capek juga rasanya.

Guru-guru juga datang, Bu Neneng, Bu Hefni, Bu Yayah, Bu Anis, Bu Tri, Pak Hadits, dan Pak Muchtar. Terima kasih, Bapak/Ibu Guru. Walaupun, saya tidak terlalu ingat, apa yang pernah diajarkan saat SMP, kecuali Pak Muchtar…Soalnya saya kan memang suka menulis dan belajar bahasa Indonesia. Harusnya Pak Muchtar bangga, soalnya saya sering membimbing mahasiswa untuk lomba karya tulis dan beberapa kali juara nasional. Bahkan, sekarang jadi juri…(bukan jurig ya) untuk lomba-lomba yang ada kaitannya dengan penulisan.

guru SMP 87_reuni 87
guru SMP 87_reuni 87_26 April 2015

Kapan ya, kenangan seperti ini terulang… Mudah-mudahan dari reuni ini dapat menghasilkan sesuatu, bukan hanya seperti angin yang berhembus sebentar. Ingin deh berbagi buat murid-murid di SMPN 87. Tapi apa, ya? Saya masih bingung, belum ada ide. Ada yang bisa bantu kasih pencerahan? Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.