Menyaksikan sebuah acara kuis “kecerdasan” di salah satu stasiun televisi beberapa hari yang lalu agak membuat miris. Seorang pembawa acara menanyakan, apakah makanan khas dari papua yang kemudian dijawab oleh peserta kuis papeda. Sang pembaca acara bertanya, memang papeda itu terbuat dari apa? (tidak tepat banget sih pertanyaannya, tapi kurang lebih pertanyaannya seperti ini). Yang jawabannya (juga kurang lebih) dari sagu digoreng pake telor. Jawaban ini kemudian sempat ditertawakan, karena pembawa acara menyebut kalau itu adalah telor gulung.
Pikiran saya langsung menukik pada gerobak pinggir jalan di yang sudah meluas bukan hanya di seputaran Jabodetabek, tapi juga hingga Jawa Tengah, yang banyak menjual telor gulung (tentunya dengan isian beragam, mulai dari otak-otak, sosis, atau bakso ikan) atau model cilor (aci digulung telor). Kadang-kadang di gerobaknya ditulis papeda.
Masalah tidak hanya papeda semata. Sebagai “emak-emak” yang juga bekerja, kadang membeli makanan melalui aplikasi juga saya lakukan. Suatu malam, saya kangen lumpia (kadang ditulis loenpia) khas Semarang yang terbuat dari isian tumisan rebung/bengkoang, telur, dengan variasi udang, ayam, atau lainnya. Dengan saos kental yang rasanya manis dan bawang muda mentah (bawang chung), bisa dipilih digoreng atau basah. Dua-duanya sama enaknya.
Saat sedang bergerilya mencari di sebuah aplikasi dengan kata kunci lumpia basah, yang muncul adalah makanan seperti di samping ini, yang rasanya kok terlihat lebih mirip isian seblak di atas kulit lumpia, dengan isian yang tentu saja yang juga menyimpang dari lumpia basah khas Semarang
Padahal di kepala saya tentang lumpia adalah lumpia semarang yang digulung dengan isian seperti saya tuliskan di atas. Kalau saya, lebih suka isian orisinil, dan hanya dimakan pakai cabe rawit saja.
Kembali lagi kepada papeda. Pengalaman saya mencoba penganan papeda pertama kali di Halmahera Selatan. Dari sekian banyak makanan khas (termasuk sagu bakar) yang disajikan, saya memilih penganan yang seperti lem ini. Cara mengambil papeda ini pun harus digulung dengan bantuan dua kayu (seperti sumpit) dan kemudian diberi ikan kuah kuning dengan potongan ikan yang enak banget (bisa cakalang atau tuna), ditambah beragam makanan khas Indonesia timur lainnya. Kali kedua menikmati papeda adalah di dekat kampus Universitas Pattimura di Ambon. Saat itu, dijamu oleh dosen Unpatti, saya di bawa ke warung sederhana di pinggir jalan. (Kembali) saya menikmati papeda dengan tambahan ikan kuah kuning. Nah, yang ketiga di Jayapura, di sebuah restoran mewah pinggir pelabuhan dengan tambahan ikan kuah kuning dan tumis kangkung dan bunga pepaya. Saya suka rasanya karena langsung menggelincir ke dalam tenggorokan saya tanpa susah mengunyah. Jauh kan dari gambaran papeda alias telor gulung di atas?
Hal yang sama dengan lumpia. Apa yang salah dengan negara ini? Jangan-jangan ke depan, makanan khas ini akan hilang sejalan dengan “kreativitas” yang tidak pada tempatnya.
Dikhawatirkan ke depannya generasi kita tidak tahu lagi yang namanya getuk atau bakpia karena sudah berubah dari aslinya. Mmmmhhh… jadi ingat ada bakpia yang di kukus, padahal bakpia yang khasnya daerah Pathok dipanggang dengan isian asli kumbu kacang hijau manis, walaupun sekarang sudah lebih variasi lagi dengan isian coklat dan keju.
Masalahnya, kalau buat saya, bakpia kukus ini padahal lebih mirip brownish kukus khas Bandung, loh. (Walaupun bakpia kukus yang rasa coklat isi keju ini saya juga suka rasanya).
Nah, ada baiknya membuat nama yang berbeda, sehingga anak-anak gen Z atau siapapun dia tidak tersesat di hutan kuliner daring karena memang mereka tidak paham dengan makanan tradisional. Hargai kebudayaan yang ada agar tidak luntur di makan media sosial.
Semoga pihak-pihak yang terkait bisa segera mencegah hapusnya jejak budaya.
Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik