Comfortable versus Love (antara Kenyamanan dan Cinta)

A perfect relationship starts when you are comfortable with him and goes on when just being with you is enough to make him happy… He patiently listens to what you have to say… He is your best friend and he can understand you deeply, even you unsaid words… He is the perfect man made for you (Neena Gupta: lifelovequotesandsayings.com)

Siang hari yang cerah, dalam perjalanan kembali dari tugas, seorang profesor bertanya kepada Dita (nama ini sudah disamarkan ya…), yang dulu pernah menjadi mahasiswanya.

Mba Dita, apakah memang mba Dita memang mencintai mas Anto (nama ini juga sudah disamarkan)? Tanya si profesor dengan gaya jahil. Anto dulu juga adalah mahasiswa si Profesor. Anto dan Dita saat kuliah adalah teman satu kelas. Oh, ya. Profesor ini sejak masih mahasiswa dikenal sebagai orang yang iseng. comfortable and loveSaya hanya senyum-senyum sambil bilang “nah loh”. Dita terlihat bingung ketika ditanya ini dan bahkan dia bergurau “bukannya prof tadi bilang mau tidur?” Sebelumnya, memang si profesor ini bilang “Saya tidur dulu ya”. Saya yang memang tahu kebiasaan profesor ini menyambung “Tidur aja, mas. Nanti kalau sudah mau dekat rumah, saya akan bangun kan.” ujar saya.Walaupun, saya tahu bahwa ucapan mau tidur itu hanya iseng saja. Dita akhirnya dengan malu-malu menjawab sambil tertawa, “kalau buat saya sih yang penting nyaman dulu, prof. Cinta akan muncul kalau kitanya sudah nyaman.” Jadi kalau dalam bahasa Inggris berarti? Comfortable first, and love next. “Kalau saya bilang saya cinta tapi gak nyaman bagaimana?” lanjut Dita.

Aha… begitu sederhananya, ya. Tapi memang betul. Bagaimana kita bica cinta kalo kita gak nyaman. Makanya, akhirnya yang dilakukan saat pacaran atau taaruf adalah mencari dan mengenal zona kenyamanan yang ada. Berusaha mengenal, apa yang membuat pasangan kita nyaman dan tidak mengganggu kenyamanan kita juga.

Jadi, saya setuju banget sama Miss. Gupta (yang saya cuplik di atas – Terimakasih Miss Gupta atas tulisannya yang sangat dalam). Tinggal sekarang bagaimana kita mendefinisikan cinta dan menyandingkannya dengan kenyamanan.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Batas Kesopanan: antara Pakaian dan Perkataan

Tulisan ini bukan hanya dibuat karena ada kehebohan di FISIP Universitas Indonesia (UI) perihal pengaturan cara berpakaian. Tapi, lebih dari itu., tentang makhluk yang namanya kesopanan.

Dalam KBBI daring yang dimaksud dengan istilah sopan adalah kata sifat yang berarti:

  • hormat dan takzim (akan, kpd); tertib menurut adat yg baik
  • beradab (tt tingkah laku, tutur kata, pakaian dsb); tahu adat; baik budi bahasanya
  • baik kelakuannya (tidak lacur, tidak cabul)

sedangkan kesopanan adalah kata benda yang berarti:

  • adat sopan santun; tingkah laku (tutur kata) yg baik; tata karma
  • keadaban; peradabankesusilaan

Artinya, bicara sopan dan kesopanan ada kaitannya dengan adat, adab, dan susila. Ihh, berat ya.

Bagaimana kesopanan di kalangan mahasiswa?

Siapa yang tidak mengenal seorang Nanang di FISIP. Mungkin bisa dikatakan sebagai sosok yang paling dikenal publik. Sejak pagi hingga malam hari, banyak mahasiswa yang mampir di tempatnya seraya berucap “Nang, berapa semuanya?”, “Nang, gua beli ini dong”, atau “Nang, buruan kembaliannya, gua udah terlambat.”

Kalau sudah begini, saya hanya mengelus dada. Di mana letak kesopanan bahasa dari mahasiswa? Saya sempat menanyakan usia Nanang sekarang dan dia jawab “30-an, mba.” Coba, berapa sih umur mahasiswa di FISIP UI. Rata-rata 20 tahun. Bukankah seharusnya mereka memanggil yang lebih tua dengan sebutan “mas”, “bang”, kak”, atau “pak”. Padahal, saya ingat betul waktu saya masih jadi mahasiswa, dan yang menunggu tempat jualan di koperasi adalah Mang Pendi (a.k.a. Afandi). Kami tidak pernah menyebutnya dengan Pendi saja. Mungkin, itulah lost generation. Hilang semuanya, termasuk tata krama. Gak perlu lah cium tangan dosen. Cukup menyapa saja, atau kalau malas menyapa, berikan senyum sedikit saja.

Bagaimana dengan cara berpakaian? Bagi saya, pakaian itu bukan bicara merek atau harga, yang penting sopan dan tidak mengganggu orang lain. Pakaian mini buat saya tidak masalah, asal dipakai di tempat yang tepat. Kalau di kampus berpakaian mini lantas kemudian mahasiswa lain atau dosennya jadi tidak konsentrasi bagaimana? Jangan lantas berpikiran, salahnya orang yang melihat dan berpikiran negatif. Loh, manusia kan makhluk sosial jadi mau tidak mau dia harus berhubungan dengan orang lain. Kalau mau jadi makhluk yang individu, gak usahlah berkeliaran. Diam di rumah, kerja dari rumah, atau sekolah juga di rumah.

Himbauan cara berpakaian FISIP UI
Himbauan cara berpakaian FISIP UI

Artinya, kalau bicara kesopanan, bukan masalah celana itu robek atau pakaian yang mini. Tapi, gunakan di saat yang tepat. Gak lucu juga kan, pakai pakaian pesta di kolam renang, pakai pakaian renang ke sekolah, atau pakai helm kerja di mal? Lain halnya kalau kita sekolah olahraga, ya bisa menggunakan pakaian renang saat pelajaran berenang. Tapi kalau jam pelajarannya main sepakbola atau bulutangkis masak pakai baju renang?

Apakah mengatur dosen juga?

Kalau mau mengatur mahasiswa, ya atur juga dosennya. Berani gak? Kalau mengajar tidak boleh pakai kaos, tidak boleh pakai sepatu sandal. Loh…kok itu menohok saya banget ya? Yang memang hobi berkaos dan bersandal. Saya ingat, beberapa profesor masih menggunakan sepatu sandal dan memakai jeans. Juga ada dosen perempuan yang memakai hak tinggi tapi modelnya selop atau sandal. Memang sih tidak ada yang berkaos. Hanya saya saja dosen yang sering pakai t-shirt. Apa bedanya sepatu sandal teplek dengan high heels? Beda tambah tinggi aja kan?

Oh ya, terhadap hal ini saya pernah komplain pada saat saya tidak boleh masuk sebuah kantor pemerintah di bilangan Sudirman karena pakai sepatu sandal teplek (anak sekarang menyebutnya dengan flat shoes) padahal ada ibu-ibu yang diperbolehkan masuk padahal bersepatu hak tinggi.  Saya bilang, apa bedanya? Itu namanya diskriminatif. Aturan kan tidak boleh diskriminatif.

Saya sendiri juga tidak pernah melarang mahasiswa memakai kaos atau sepatu sandal, karena saya tidak mungkin melarang mereka padahal saya sendiri melakukannya. Bagi saya yang penting adalah kenyamanan. Termasuk di dalamnya saya mengizinkan mahasiswa makan dan minum di kelas, tetapi tidak boleh berisik. Misalnya, kalau makan kerupuk kan berisik tuh, jadi saya larang. Sekali lagi, buat saya, yang penting tidak mengganggu aktivitas belajar mengajar. Pernah ada satu mahasiswi berpakaian dengan cukup terbuka, maaf, belahan dadanya terlihat, maka saya bilang, “coba pakai phasmina.”

Duh…kalau aturan berpakaian tersebut benar-benar diterapkan di kampus ini… bagaimana ya?

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik.

Yang tersisa dari Reuni SMPN 87 Angkatan 87 – 26 April 2015: Don’t stop here!

Walaupun masih sakit cacar air, saya memaksa untuk jalan juga reuni. Kata dokter, kalau masih baru gak menular. Kalau sudah sembuh baru menular. Ada aja nih penyakit. Tapi, kalau gak datang, kapan lagi moment seperti ini terulang. Kaget, senang, bingung…28 tahun yang lalu akhirnya ketemu lagi. Laksana gado-gado Boplo yang gurih itu, atau seperti soto rujaknya Banyuwangi, mau rujak apa soto sih atau mau soto apa rujak nih? Intinya semua kumpul lagi… Yiiihaaa. Asik. Ada yang masih saya kenal karena dari dulu sampe sekarang wajahnya tetap gak berubah. Dan ada yang tetap gak saya kenal. TATI. Walau akhirnya, ketika wajah Tati saat kelas 1 SMP dimunculkan… barulah saya teringat. Ternyata Tati itu yang seperti itu. Soalnya, beda banget. Ha ha ha… Sekali lagi, maaf ya, Tat.

reuni 87-87
reuni 87-87_26 April 2015

Ada Sumarjo (yang dari dulu selalu ingin dipanggil dengan Johan), Irawan Syahputra (mantan model iklan dan teman belajar di rumah Deswita), Erni “Strawberry” Setyaningsih, Fauziah “Ipau” Hanum (duh…cantik banget emak ini), Elangsari, Evi Roviana (yang dulu montok banget), Lilis (yang pernah jadi Satpam Gramedia, sekarang jadi dosen di USNI), Tontowi alias Toton (yang nakalnya dari dulu gak habis-habis), Sri “JQ” Rejeki dan Yohana “Iyoy” Marga (yang dulu temen SD juga), Muthia dan Jullya (yang dulu kalo sekolah jarang bawa tas), Delisa “Nining” (yang anaknya Bu Waty-guru kelas 1 SD 05), Titik (yang kemana-mana bareng sama Nining), Sri “Tari” Wartini (satu SMA dan satu RW), Zakaria (yang awet tua dari dulu), dan Mufid Tamyizi (satu SMA dan masih tetap kalem). Masih banyak lagi deh, yang kalau ditulis capek juga rasanya.

Guru-guru juga datang, Bu Neneng, Bu Hefni, Bu Yayah, Bu Anis, Bu Tri, Pak Hadits, dan Pak Muchtar. Terima kasih, Bapak/Ibu Guru. Walaupun, saya tidak terlalu ingat, apa yang pernah diajarkan saat SMP, kecuali Pak Muchtar…Soalnya saya kan memang suka menulis dan belajar bahasa Indonesia. Harusnya Pak Muchtar bangga, soalnya saya sering membimbing mahasiswa untuk lomba karya tulis dan beberapa kali juara nasional. Bahkan, sekarang jadi juri…(bukan jurig ya) untuk lomba-lomba yang ada kaitannya dengan penulisan.

guru SMP 87_reuni 87
guru SMP 87_reuni 87_26 April 2015

Kapan ya, kenangan seperti ini terulang… Mudah-mudahan dari reuni ini dapat menghasilkan sesuatu, bukan hanya seperti angin yang berhembus sebentar. Ingin deh berbagi buat murid-murid di SMPN 87. Tapi apa, ya? Saya masih bingung, belum ada ide. Ada yang bisa bantu kasih pencerahan? Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

The Lost History at SMP 87 Jakarta: menjelang Reuni Angkatan 87

6 April 2015

Kekagetan pertama terjadi saat pulang kerja, Rajul – anak saya yang kedua- memberi kabar bahwa teman saya saat SMP yang namanya Tati menelepon. Saya masih berpikir? Who’s Tati? I don’t have a SMP’s friend with Tati’s name. OMG…Jangan-jangan penipuan. Tapi masalahnya, kalau itu penipuan, kok dia kasih nomor telepon ke anak saya.

Saya coba telepon, tidak diangkat… “ah, berarti iseng, nih orang”, saya pikir. Tapi, saya telepon lagi kedua kali, dan

“Hallo…saya Lina. Tadi telepon saya?”

“Iya Lin, ini Tati.”

“Tati mana ya? Sorry banget ya, gua lupa.”

“Tati Sumiati, loe masih ingat gak? Loe Lina Miftahul Jannah yang rambutnya panjang kan?”

“Iya” jawab saya sambil mikir “Why I don’t remember what kind of Tati is? Am I okay?”

“Lin, kita mau reuni ya, tanggal 26 April di Café Mang Uni. Loe dateng ya”

“Oke, insya Allah saya datang. Ntar gua jadwalin dulu. Biasanya gua sering ke luar kota. Di mana tempatnya?”

“Bintaro sektor 3. Oh ya, minta nomor hape loe ya, mau dimasukkan ke WA.”

“Oke ntar gua sms, saya lupa nomor hape yang bisa WA”.

Saya belum punya bayangan… mau reuni SMP. Di Bintaro sektor 3. Di mana lagi itu… terlalu banyak keliling Indonesia, malah gak tahu peta Bintaro.

Terbayang beberapa nama… loh kok yang saya ingat hanya Erni Setyaningsih dan Masronih, Irawan Syahputra (itu pun karena satu SMA), Deswita (waktu kelas 3 sering kerumahnya bareng Eddy dan Maya), Eddy (duh Eddy siapa ya?), Iwan Saputra (yang kalo nulis nama i-one), Fauziah alias Ifau. Otak saya terus memutar dan… sudahlah toh nanti saya pasti dapat mengingatnya.

8 April 2015

Saya ditambahkan oleh Tati dalam Grup WA Alumni 87-87 Kompak.

“Met gabung ibu dise UI, lina Miftahul. @ibu dosen “

“Terima kasih atas undangan gabung nya. Apa kabar semuanya?” Ih…saya kok formal banget ya?

“Lina itu tmn SD gw?” sapa Yohana. “Masih inget gak ya dia sm gw?”

Masih lah … anak kodam kan?

Selanjutnya sahut-sahutan antara teman yang lain nya muncul. Anggota grup terus bertambah dan percakapan semakin menarik. berlanjut, dan terus bertambah. Hanya saja, saya masih tidak percaya, ada beberapa nama yang tidak saya ingat bentuk dan wajahnya, termasuk Tati. Please forgive me…

21April 2015

Terus terang, dengan jujur saya katakan kalau saya minder. Saya bingung, apa yang harus saya tuliskan di grup WA. Ironi ya.

WA membantu saya menyatukan potongan teka-teki yang tersebar. Saya lebih banyak menyimak. Dari sini ingatan saya kembali sedikit demi sedikit. Bagaimana guru-guru saya dulu, siapa teman-teman saya. Dan saya akhirnya merenung… siapa sih saya dulu.

Saat SMP, yang saya ingat pergi sekolah naik angkot, masuk kelas, jajan di kantin saat istirahat, sholat di mushola, pulang sekolah jalan kaki. Sabtu kadang main basket. Selebihnya, belajar gak berlebihan dan saya juga bukan orang yang berprestasi kecuali pernah menang lomba sekolah sekali dan itu kalo gak salah ada hubungannya dengan pidato pendek terkait asbabun nuzul….”Yes, akhirnya, saya ingat kalau saya punya prestasi.”

Seperti yang pernah saya tuliskan di blog ini juga. Banyak guru yang mengajar saya, tetapi yang membekas dan tak lekas hilang adalah Pak Fauzun, Pak Radi, dan Bu Neneng. Yang lainnya… antara ada dan tiada deh. Maaf ya, Bapak dan Ibu Guru. Oh ya, akhirnya ada lagi yang menempel tiba-tiba. Guru agama, yang kalau mengajar lengkap seperti toko emas jalan, karena perhiasannya lengkap betul. Mudah-mudahan tidak salah nama. Bu Kartini. Soalnya saya pernah berdebat dengan beliau terkait imla (dikte dalam tulisan Arab) huruf en, dengan nun dan tanwin. Namanya juga saya… kalau gak komplain, gimana gitu rasanya.

22 April 2015

Sepulang dari Banyuwangi, langsung saya antar bingkisan saya buat para guru. Saya titipkan lewat Mariah di tempat dia kerja. Pulang dari kantor Mariah, saya putuskan langsung ke rumah sakit. Toh, saya tidak mungkin mengejar rapat karena jalan tol macetnya luar biasa. Ketemu dokter yang tempo hari memeriksa anakku. Hasil periksa dari rumah sakit, saya positif VARICELLA… keren banget ya nih penyakit. Nama Indonesianya: CACAR AIR. Sebel…sebel…sebel… (#gayakomarpremanpensiun)

23 April 2015

Saya akhirnya memutuskan menyampaikan info ke Tati kalau saya kena cacar air. Hik…hiks…hiks… pengen datang ke acara reuni. Boleh gak ya???

Khusus buat TATI… AMPUN DAH.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Kesetiaan = Ibarat Kopi Ditambah Susu

Apa sih kesetiaan itu? seorang mahasiswa saya menyebut bahwa setia itu kalau sang pacar selalu ada untuk dia. Ah, Haddi…kayaknya dia merujuk definisi kesetiaan dari http://www.urbandictionary.com deh. These are the people you can trust to have your back all the time, you can close both eyes when sleeping and they got you covered or turn your back on them after handing ’em a knife or gun and not have to worry they will be tempted to use it on you. They will never abandon you. Apa iya? Bagi saya sepertinya ini terlalu berlebihan deh. Kasihan banget tuh pasangan. Nanti, orang akan menilai kalau kita itu seperti anak lahir kembar siam dong. Masalahnya, kembar siam saja, dengan kecanggihan dunia kedokteran bisa dipisahkan kok.

Konsep kesetiaan itu sendiri kalau menggunakan penilaian kerja Pegawai Negeri Sipil yang dulu (DP3-Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan) adalah kesetiaan, ketaatan, dan pengabdian kepad Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara, dan pemerintah. Pada umumnya yang dimaksud dengan kesetiaan adalah tekad dan kesanggupan mentaati melaksanakan, dan mengamalkan sesuatu yang disetiai dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab. Tekad dan kesanggupan tersebut harus dibuktikan dalam sikap dan tingkah laku sehari- hari serta dalam perbuatan dalam melaksanakan tugas. (Lihat Penjelasan PP No. 10 Tahun 1979 Pasal 4 Ayat (2) Huruf a) Sangat abstrak dan tidak jelas ukurannya.

Jacoby dan Chesnut (1978) menyebut bahwa dalam konteks hubungan personal, loyalty is shown when persons do not undermine others by what they say or do. Intinya, adalah saling mendukung  dan pengertian.

Nah, kalau saya sih setuju dengan pendapatnya Jacoby dan Chesnut. Memang itulah kesetiaan. Jadi setia pada pasangan itu berarti mendukung hal baik yang dilakukan pasangan kita dengan penuh pengertian. Seperti kopi dan susu. Masing-masing bisa eksis, tetapi kalau dicampur…ah nikmat rasanya. Bisa merem melek. Ingat, kopinya jangan ditambah lagi cokelat alias three in one ya, bisa repot nantinya. Kita, pasangan, dan orang ketiga deh. Berat…

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

 

Kecantikan versus Kebenaran

Menyaksikan pemberitaan Tempo edisi 6-12 April 2015 dan 13-19 April 2015, rasa-rasanya gimana gitu. Antara sedih dan gelisah. Mengapa tidak. Pertama, seorang narasumber (dalam hal ini yang akan diberitakan atau dijadikan informan) harus dimintakan informed consent-nya alias kesediaan atau persetujuan. Istilah informed consent ini memang biasanya digunakan di bidang kesehatan untuk menyatakan kesepakatan atau persetujuan pasien atas usaha medis yang akan dilakukan oleh dokter terhadap dirinya. Jadi saya tidak bisa menyalahkan Mba Anindya Kusuma Putri –sebagai obyek berita di sini- sepenuhnya. Mungkin saja, yang bersangkutan tidak tahu bahwa pertanyaan yang diajukan si penanya adalah pertanyaan serius sedangkan dia nya sendiri menganggap pertanyaan guyonan. Oleh karena itu, sekali lagi informed consent menjadi hal yang penting dalam sebuah wawancara.

Kedua, sebagai seorang public figure tentu saja juga harus menjawab semua pertanyaan dengan serius dan santun. Artinya, menjawab jujur dan tidak dibuat-buat menjadi hal yang penting. Ingat loh, namanya figur publik, harus siap jadi berita dan diberitakan. Apalagi, semua orang di dunia ini sudah tahu bahwa ada moto yang dibawa semua ajang beauty pageant contest. Brain, Beauty, dan Behavior. Artinya, bukan hanya cantik, tetapi santun, dan juga cerdas. Menurut Sophia Loren, artis Hollywood tercantik di masanya, beauty is how you feel inside and it reflects in your eyes. It is not something physical, dan menurut Kahlil Gibran, beauty is not in the face; beauty is a light in the heart. Jadi sebenarnya, di dalam beauty itu sudah ada brain dan behavior loh.

Ketiga, kedua orang tua saya selalu bilang “say sorry and thanks”. Jujur saja, keduanya tidak mengucapkannya dalam bahasa Inggris kok, tapi tetap pakai bahasa Indonesia “ucapkan maaf dan terima kasih”. Berterima kasihlah saat diberi dan mengaku salah lah jika engkau salah. Tapi memang kok, mengaku salah saat kita salah adalah memang teramat susah. Padahal banyak orang sukses karena diawali dengan kesalahan. Orang akan menganggap kita satria. Justru orang yang tidak pernah berbuat salah, tidak akan mencoba hal baru dan menjadi lebih baik. Thomas Alfa Edison saja, katanya melakukan 1.500 kesalahan sebelum menjadi penemu bola lampu. Nobody is perfect. Sempurna itu hanya ada di lagunya “Andra and The Backbone”. Jadi, mana yang akan dipilih: minta maaf atau membuat klarifikasi?

Terakhir, suami saya yang seorang jurnalis selalu bangga dengan pekerjaannya dan menyebut media massa adalah salah satu pilar demokrasi. Jimly Asshiddiqie (dalam http://www.medanbisnisdaily.com) juga menyebut bahwa salah satu roh demokrasi adalah kebebasan berekspresi dan itu dekat dengan kebebasan pers. Kalau bicara roh dan pilar artinya pers itu penting loh. Orang tidak akan hidup kalau tidak ada roh, dan bangunan tidak akan berdiri tanpa pilar. Saya setuju dengan keduanya (Bang Yasin dan Pak Jimly). Kebebasan pers yang bertanggungjawab tentunya. Pers harus menyajikan berita dan informasi dengan fakta, obyektif dan tentu saja independen, sehingga masyarakat lebih cerdas dan berubah ke arah yang lebih positif. Yang penting, beritanya tidak bohong dan memihak deh. Capek rasanya menyaksikan figur publik yang sengaja mengundang para kuli tinta hanya untuk menceritakan kegiatan harian mereka yang mungkin sengaja untuk publikasi. Yang benar dibuat salah, yang salah dibuat benar. Kasihan kan kalau masyarakatnya jadi pusing. Cukup yang pusing kepala Putri Bahar aja (menyitir lagu Pusing Pala Barbie).

Inti catatan saya bukan masalah kecantikan atau kebenaran saja, tapi cerminan dari kecantikan atau kebenaran itu sendiri. Boleh lah orang tidak tahu asal daerah lagu Ma rencong rencong (yang saya tahu sih dari Bugis Sulawesi Selatan), jumlah kabupaten/kota yang memang tidak pernah dinyatakan secara resmi berapa jumlahnya saat ini (kecuali waktu saya hitung manual dari data resmi Kemendagri ada sebanyak 403 kabupaten dan 98 kota), atau abad keberapa Candi Borobudur dibangun (dari info http://www.borobudurindonesia.com candi ini dibangun pada Wangsa Syailendra pada tahun 750-825 M artinya abad ke 8-9). Tapi, kalau pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, sepertinya semua anak yang pernah sekolah dasar di Indonesia juga tahu, namanya Wage Rudolf Supratman. Jangan kita menertawai ketika seorang Sarah Palin Cawapres Amerika Serikat dibully gara-gara Afrika disebut sebagai sebuah negara (padahal Afrika adalah benua). Bagi saya cukup wajar seorang Palin lupa, karena Palin kan bukan warga dari salah satu negara di benua Afrika.

Sangat disayangkan saja, kalau orang yang mau mewakili Indonesia dalam ajang internasional tidak tahu (atau mungkin memang benar-benar lupa) siapa nama lengkap pencipta lagu kebangsaan sendiri. Hanya memastikan saja: bukankah orang yang mewakili kita seharusnya tahu tentang apa dan siapa kita? Namanya juga mewakili. “apa kata dunia” (menyitir kalimat sakti dari Bang Naga Bonar dan moto nya Dirjen Pajak).

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

On 17.49 WIB and still at the office

Buku Teks Pelajaran: Implementasi Kebijakan dan Masalah yang Dihadapinya

cover Buku Teks PelajaranBagi pengembangan ilmu sosial dan ilmu politik, mengkaji sebuah kebijakan dan melihat pada tataran empirik merupakan suatu keharusan.

Daya saing banysa salah satunya dapat ditingkatkan dengan memperbaiki sumber daya manusia yaitu melalui bidang pendidikan. Salah satu aspek penting dalam bidang pendidikan adalah penyediaan buku teks. Upaya pemerintah untuk mengatasi masalah buku teks adalah dengan mengeluarkan kebijakan yaitu Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 2 Tahun 2008 tentang buku.

Studi ini dilakukan di empat wilayah di Indonesia yaitu Kota Depok, Kabupaten Cianjur, Kota Makassar, dan Kabupaten Maros. Diterbitkan pada tahun 2013, buku ini merupakan tulisan dari penelitian yang didanai olah Riset Unggulan Universitas Indonesia Bidang Unggulan tahun 2010.

Buku ini diterbitkan oleh UI Press atas dana program hibah pencetakan buku cepat tahun 2013 dengan ISBN 978-979-456-548-3.

Dari Depok untuk Indonesia yang lebih haik

Kristal Pengetahuan: Hitam Putih Perpustakaan UI

Mahasiswa adalah perpustakaan

Kampus adalah pesta, buku, dan cinta. Itulah jargon yang selalu diingatkan oleh para senior atau dosen kepada mahasiswa baru. Artinya, selain keceriaan dan asmara, seorang mahasiswa juga harus serius belajar. Menjejakkan kaki sebagai mahasiswa di Universitas Indonesia (UI) mungkin rasanya dapat diibaratkan seperti saat seorang Neil Armstrong mendarat di bulan atau ketika sopir bajaj hendak belok. Hanya kita dan Sang Pencipta yang tahu. Antara senang, gugup, takut, semua jadi satu. Mungkin membandingkan dengan Pak Armstrong dan Pak Sopir adalah sesuatu yang berlebihan. Yang pasti, status jelas berbeda antara siswa dan mahasiswa. Kalau bahasa anak sekarang gegana, gelisah, galau, dan merana. Gelisah karena bingung apakah dosen yang akan mengajar sesuai gambaran yang diceritakan para senior sebagai dosen killer, galau karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan merana karena sepertinya tugas yang akan diberikan membuat tidak bisa tidur pulas.

Betul saja, saat dijelaskan rencana pengajaran selama satu semester oleh seorang dosen, pada awalnya kalimat demi kalimat terbaca dengan menyejukan, dan ternyata pada akhirnya “Loh kok, bukunya banyak sekali? Berbahasa Inggris dan buku-buku lama pula.” Akhirnya, dengan langkah berat namun harus, aku dan teman- temanku melangkahkan kaki menuju perpustakaan UI di dekat Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya). Bingung akan apa yang harus dilakukan dan arah yang dituju tiba-tiba, “Ada yang bisa dibantu?”, sapa seorang laki- laki paruh baya. Aduh, sapaan tersebut menentramkan hati kami yang labil. Wajah- wajah kami memang terlihat bahwa kami perlu pertolongan. Kesan pertama saat itu membuat saya menambahkan dalam agenda saya. Berkunjung ke perpustakaan di kampus cukup menyenangkan kok. Walaupun saya harus mebolak-balik kertas katalog yang lusuh dan kumal, hanya boleh meminjam dua sampai tiga buku, harus mengembalikan sesuai jadual, toh saya dapat bertahan dengan berbagai tugas makalah, ujian, dan berbagai di kampus dan menyelesaikan tugas akhir saya dengan sangat baik. Mahasiswa adalah perpustakaan, perpustakaan adalah mahasiswa.

Perpustakaan UI; Dulu dan Sekarang

Kini, jika berkunjung ke the crystal of knowledge, yang menjulang di tengah kampus Universitas Indonesia, tentu tampilan jauh dari gambaran perpustakaan di manapun. Perpustakaan UI memang laksana kristal, terlihat mahal, megah, mewah, kokoh, bercahaya, dan tidak mudah hancur. Mengingat istilah yang dipakai adalah kristal, mau tidak mau ingatan akan terhampir pada sebuah barang hiasan. Jangan sampai kristal ini hanya menjadi kristal pajangan seperti yang ada di rumah-rumah Pondok Indah atau Menteng saja karena harganya selangit. Kristal pajangan ini akan diletakkan di tempat yang mudah terlihat, sebuah lemari mahal dan terkunci rapat. Boleh dilihat tapi jangan disentuh. Jika malam hari lemari ini akan berhias pencahayaan yang luar biasa sehingga menggairahkan bagi yang melihat. Barang ini akhirnya menjadi simbol dari kemapanan dan kekuasaan. Namun demikian, tentu saja akan berbeda ketika diberi nama kristal pengetahuan. Para pemimpin UI yang memberi nama tersebut tahu pasti maknanya adalah memberikan cahaya pengetahuan, bukan hanya untuk sivitas akademika saja tetapi juga untuk bangsa dan negara.

Bagi saya, berjalan menyusuri perpustakaan UI tidak sarat warna, tidak seperti warna pelangi. Cukup dua saja: hitam dan putih. Hitam adalah saat tidak ada perubahan, dan putih saat kebalikannya. Kalau ditanya kapan kiranya mahasiswa akan lebih intens untuk berkunjung ke perpustakaan? Jawabannya dari dulu hingga sekarang sama, yaitu hanya tiga periode, pada awal sebagai mahasiswa baru karena harus membuat kartu perpustakaan, pada saat menjelang ujian akhir semester karena adanya makalah atau tugas-tugas yang harus dikumpulkan, dan menjelang penyelesaian studinya karena selain diharuskan membaca penelitian sebelumnya oleh dosen, harus membuat tugas akhir, dan tentu saja melaporkan tugas akhirnya. Itulah hitam.

Dulu, pulang dari perpustakaan, saya akan dkondisikan dua hal, kembali ke fakultas atau kamar kos dengan setumpuk buku atau bahkan nihil karena buku yang diinginkan tidak ada. Alasannya hanya dua, sedang dipinjam atau tidak ditemukan. Sekarang, jumlah koleksi memang sudah lebih dari 5 juta buku dan katanya terintegrasi dari semua perpustakaan fakultas. Hal ini rupanya tidak juga sejalan dengan jumlah mahasiswa UI yang semakin tumbuh. Sudah lebih dari 30 ribu mahasiswa jumlahnya. Akhirnya, kekecewaan tetap ada, karena pada katalog elektronik tersebut buku yang diinginkan tersedia, tapi ketika dicari pada rak ternyata tidak ditemukan. Alasannya masih sama, sedang dipinjam atau stock opname. Yang

lebih sedih adalah kalau buku yang kita pinjam ternyata halamannya tidak lengkap alias hilang karena sudah dibegal atau dimutilasi oleh pembaca sebelumnya. Rupanya, masih ada orang yang belum sadar akan nilai dari sebuah buku. Tetap hitam.

Dulu, fasilitas perpustakaan serba terbatas, mulai dari tempat penyimpanan tas (loker), meja untuk membaca, hingga komputer harus berlomba dengan pengunjung lainnya, siapa cepat dia dapat. Sekarang, loker-loker lebih dari cukup, komputer dengan fasilitas internet pun tersedia. Inilah putih. Dulu, perpustakaan UI selalu identik dengan kumpulan buku tua, kusam, sepi, beraroma tidak sedap, dan bahkan acapkali dianggap sebagai sumber penyakit. Kalau mau sakit, datang saja ke perpustakaan. Bahkan ada seorang kawan yang guyon “setan saja takut kok kalau harus ke perpustakaan sendirian.” Sekarang, cobalah melangkah di sekitar perpustakaan. Selain pemandangan danau UI yang menyejukkan, aroma kopi impor merebak dari warung waralaba Amerika ditambah aroma minyak wijen keluar dari resto Korea menggoyang hidung sedikit mengganggu konsentrasi perut untuk berkunjung saat jam makan siang datang. Tidak ada keluh kesah lantaran listrik yang tiba-tiba padam. Suasana pun mendukung untuk bekerja hingga malam hari. Akankah warna putih akan semakin banyak bercerita nantinya?

Epilog

Kristal pengetahuan adalah sebuah simbol luhur atas kreasi seni tingkat tinggi. Di dalamnya terdapat banyak cerita, lakon, dan romansa bagi pengunjungnya. Orang yang memanfaatkan perpustakaan bukan hanya untuk membaca dan menjadi ruang berkumpul untuk menyapa, tetapi untuk menciptakan, menyimpan, dan mendiseminasikan berbagai karya dan karsa ilmu pengetahuan dan teknologi dalam membawa Indonesia menjadi lebih baik. Kitalah yang akan membawa simbol keluhuran ini menjadi simbol yang akan memancarkan energi secara nyata atau simbol yang mati merana. Jangan biarkan perpustakaan UI besar hanya karena nama dan bentuknya tetapi jadilah besar karena maknanya.

Catatan: Walaupun tulisan ini dibuat dalam rangka lomba esai dan tidak menang, buat saya menulis bukan untuk menang, tapi menjadi suatu kebutuhan.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.