FIA KITA – KITA FIA

Pernah dengar slogan ini… Nah, buat sivitas akademika Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, slogan FIA KITA-KITA FIA ini maknanya dalam loh.

KITA selain berarti kamu dan saya bersama-sama, juga merupakan akronim dari 4 kata: Komitmen, Integritas, Transformatif, dan Amanah.

Komitmen: Kesungguhan untuk menjalankan tugas secara bertanggungjawab dengan sebenar-benarnya yang mengedepankan kerjasama dan saling menghargai.

Integritas: Konsistensi antara tindakan dan prinsip yang dijalankan oleh organisasi, bersikap jujur dan mengedepankan kepentingan bersama.

Transformatif: Berwawasan terbuka, mengedepankan perubahan, adaptif, dan inovasi

Amanah: Memegang teguh dan menunaikan kepercayaan yang diberikan organisasi, bersikap melayani, dan peduli.

Ih… dalem banget ya? Betul. Slogan yang sarat makna ini untuk selalu mengingatkan, bahwa dimanapun KITA berada harus selalu ingat KITA.

Perumusan FIA KITA – KITA FIA dibuat 1 tahun setelah FIA resmi berdiri. Untuk mengingatkan siapa tim perumusnya, saya tuliskan ya…

  1. Prof. Dr. Amy Y S Rahayu, M. Si. – perwakilan dari Guru Besar Fakultas
  2. Drs. M. Riduansyah Anza, M. Si. – perwakilan dari Senat Akademik Fakultas
  3. Dr. Lina Miftahul Jannah, M. Si. – duta budaya UI (wakil dari FIA UI)
  4. Dr. Muh Azis Muslim, M. Si. – duta budaya UI (wakil dari FIA UI)

Barulah kemudian ditetapkan oleh SK Dekan. Pembahasannya cukup lama loh.

Yuk, kita lihat kembali diri kita, mencoba untuk bermuhabasah, pengingat diri saya juga untuk mewujudkan FIA KITA-KITA FIA.

Dari Depok untuk Indonesia lebih Baik

Nenek Moyangku memang Orang Pelaut

Pagi ini mencoba membuka beberapa foto perjalanan menyusuri keindahan Indonesia, tentu saja sambil melakukan kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi. Satu daerah yang membuat saya terkenang adalah saat berkunjung ke Kabupaten Halmahera Selatan. Halmahera Selatan terletak di Provinsi Maluku Utara.

Jika melihat peta di atas, kita akan lihat selayang pandang bahwa jaraknya tidak telalu jauh, kan. Akan tetapi, kalau kita jalani, ternyata jaraknya cuma seputar jam tangan aja, kok.

Setelah mendarat di Ternate, pilihan perjalanan untuk ke kabupaten ini bisa ditempuh dengan lewat laut ataupun udara. Lewat laut berarti menggunakan Kapal Feri. Biasanya dari pelabuhan Ternate (Bastiong) pukul 21.00 WIT dan tiba di Pelabuhan Babang pukul 06 WIT . Kembali dari Pelabuhan Babang pukul 10 WIT, dan sampai di Ternate sudah malam tentunya. Kita hanya bisa menyaksikan pemandangan lampu-lampu di pulau. Nah, semua mesti update ya… salah satunya dengan melihat di link ini https://hubla.dephub.go.id/uppbabang/page/news/read/12045/jadwal-pelayanan-kapal-penumpang-rute-bacan-ternate-melalui-pelabuhan-babang-dan-kupal-menjelang-dan-sesudah-idul-adha

Bagaimana jika memilih lewat udara? Dari Ternate ke Labuha Bacan cuma dua kali, itupun tidak pasti. Mesti update cari-cari info. Waktu tempuhnya hanya 45 menit dan selama di udara, kita akan dibawa menyisir gugusan pulau2 kecil . Kita akan melayang di sekitar 10 ribu kaki dengan pesawat baling-baling. Hanya saja, sekali lagi, dulu saat saya mencoba naik pesawat ini, mesti tarik urat dulu dengan pengelolanya. Walaupun kita sudah punya tiket (kami berenam), yang bisa terbang hanya saya dan suami, karena ternyata ada orang yang punya “kuasa” mau naik angkutan ini juga. Hadeuh… akhirnya keempat teman saya harus nambah biaya penginapan semalam, cari tiket kapal laut keesokan harinya, mesti cari tiket baru lagi dari ternate ke Jakarta.

Untungnya, pemandangan yang indah di gugusan kepulauan Indonesia Timur ini bisa menghilangkan sedikit kepenatan. Memancing di antara Kepulauan Ternate dan Tidore begitu menyenangkan. Juga saat berangkat dari Pulau Bacan ke Gane (di Pulau Halmahera) sekitar 3 jam lebih hanya dengan kapal motor dengan 4 mesin.

Hiduplah Indonesia Raya. Nenek Moyangku benar-benar orang pelaut.

Nanti kita bahas lagi, perjalanan mengelilingi Maluku Utara ya.

Dari Depok untuk Indonesia lebih Baik

Hijau Kuning Biru

Kalau ditanya, suka warna apa? Dulu saya akan jawab Ungu Hijau. Ya sepatu, ransel, tas laptop, dan beragam barang serba ungu hijau. Termasuk cat rumah.

Kalau sekarang? Ternyata, walaupun dulu saya suka semua warna kok. Rumah saya aneka warna, ada peach, abu-abu, kuning…

Hijau, Kuning, Biru

Coba perhatikan foto 6 foto di atas, ingin rasanya berlama-lama menikmati beragam keindahan Tuntang Jawa Tengah di pagi hari saat padi menguning. Dengan latar belakang Gunung Merbabu dan Telomoyo, seakan Tuhan menciptakan Tuntang hanya melulu keindahan. Daerah di sekitaran Rawa Pening ini sejak zaman penjajahan Belanda dulu dikenal sebagai tempat yang cantik. Bagi mereka yang pernah naik kereta uap dari stasiun Ambarawa menuju Tuntang pasti mengamininya.

Terima kasih, karena telah menjadikan saya dan keluarga menjadi bagian dari Candirejo Tuntang, mensyukuri segala bentuk ciptaan-Mu. Masya Allah. Semoga kami bisa merawat dan menjaga bumi yang Engkau ciptakan dan titipkan kepada kami.

Dari Depok Tuntang untuk Indonesia lebih Baik. Depok nya dicoret dulu ya, karena sementara unggah via Tuntang.

Kesesatan Kuliner, Menghapuskan Jejak Budaya

Menyaksikan sebuah acara kuis “kecerdasan” di salah satu stasiun televisi beberapa hari yang lalu agak membuat miris. Seorang pembawa acara menanyakan, apakah makanan khas dari papua yang kemudian dijawab oleh peserta kuis papeda. Sang pembaca acara bertanya, memang papeda itu terbuat dari apa? (tidak tepat banget sih pertanyaannya, tapi kurang lebih pertanyaannya seperti ini). Yang jawabannya (juga kurang lebih) dari sagu digoreng pake telor. Jawaban ini kemudian sempat ditertawakan, karena pembawa acara menyebut kalau itu adalah telor gulung.

Pikiran saya langsung menukik pada gerobak pinggir jalan di yang sudah meluas bukan hanya di seputaran Jabodetabek, tapi juga hingga Jawa Tengah, yang banyak menjual telor gulung (tentunya dengan isian beragam, mulai dari otak-otak, sosis, atau bakso ikan) atau model cilor (aci digulung telor). Kadang-kadang di gerobaknya ditulis papeda.

Masalah tidak hanya papeda semata. Sebagai “emak-emak” yang juga bekerja, kadang membeli makanan melalui aplikasi juga saya lakukan. Suatu malam, saya kangen lumpia (kadang ditulis loenpia) khas Semarang yang terbuat dari isian tumisan rebung/bengkoang, telur, dengan variasi udang, ayam, atau lainnya. Dengan saos kental yang rasanya manis dan bawang muda mentah (bawang chung), bisa dipilih digoreng atau basah. Dua-duanya sama enaknya.

Saat sedang bergerilya mencari di sebuah aplikasi dengan kata kunci lumpia basah, yang muncul adalah makanan seperti di samping ini, yang rasanya kok terlihat lebih mirip isian seblak di atas kulit lumpia, dengan isian yang tentu saja yang juga menyimpang dari lumpia basah khas Semarang

Padahal di kepala saya tentang lumpia adalah lumpia semarang yang digulung dengan isian seperti saya tuliskan di atas. Kalau saya, lebih suka isian orisinil, dan hanya dimakan pakai cabe rawit saja.

Kembali lagi kepada papeda. Pengalaman saya mencoba penganan papeda pertama kali di Halmahera Selatan. Dari sekian banyak makanan khas (termasuk sagu bakar) yang disajikan, saya memilih penganan yang seperti lem ini. Cara mengambil papeda ini pun harus digulung dengan bantuan dua kayu (seperti sumpit) dan kemudian diberi ikan kuah kuning dengan potongan ikan yang enak banget (bisa cakalang atau tuna), ditambah beragam makanan khas Indonesia timur lainnya. Kali kedua menikmati papeda adalah di dekat kampus Universitas Pattimura di Ambon. Saat itu, dijamu oleh dosen Unpatti, saya di bawa ke warung sederhana di pinggir jalan. (Kembali) saya menikmati papeda dengan tambahan ikan kuah kuning. Nah, yang ketiga di Jayapura, di sebuah restoran mewah pinggir pelabuhan dengan tambahan ikan kuah kuning dan tumis kangkung dan bunga pepaya. Saya suka rasanya karena langsung menggelincir ke dalam tenggorokan saya tanpa susah mengunyah. Jauh kan dari gambaran papeda alias telor gulung di atas?

Hal yang sama dengan lumpia. Apa yang salah dengan negara ini? Jangan-jangan ke depan, makanan khas ini akan hilang sejalan dengan “kreativitas” yang tidak pada tempatnya.

Dikhawatirkan ke depannya generasi kita tidak tahu lagi yang namanya getuk atau bakpia karena sudah berubah dari aslinya. Mmmmhhh… jadi ingat ada bakpia yang di kukus, padahal bakpia yang khasnya daerah Pathok dipanggang dengan isian asli kumbu kacang hijau manis, walaupun sekarang sudah lebih variasi lagi dengan isian coklat dan keju.

Masalahnya, kalau buat saya, bakpia kukus ini padahal lebih mirip brownish kukus khas Bandung, loh. (Walaupun bakpia kukus yang rasa coklat isi keju ini saya juga suka rasanya).

Nah, ada baiknya membuat nama yang berbeda, sehingga anak-anak gen Z atau siapapun dia tidak tersesat di hutan kuliner daring karena memang mereka tidak paham dengan makanan tradisional. Hargai kebudayaan yang ada agar tidak luntur di makan media sosial.

Semoga pihak-pihak yang terkait bisa segera mencegah hapusnya jejak budaya.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

Black Sticky Rice steam CAKE – Bolu KUkus Ketan HItam – Resep SENDOK MAkaN

Persiapan 15 menit, Kukus 30 menit. Makan <15 menit habis.

Hari minggu iseng-iseng ngajak anakku yang laki-laki untuk bikin bolu kukus ketan hitam. Agak deg-degan, karena ini pertama kali mau coba bolu ketan hitam. Gak pikir panjang, dengan resep standar kue bolu panggang, hanya mentega diganti minyak goreng dan santan, maka maju terus percobaan.

Bahan-bahan:

  1. Telur 4 butir
  2. Gula 7 sdm
  3. SP 1/2 sdt
  4. Perisa vanila 1/2 sdt
  5. Tepung Ketan hitam 14,5 sdm
  6. Santan instan segitiga 1 bungkus (65ml)
  7. Minyak goreng 13 sdm
  8. Garam 1/4 sdt – Bagi saya, semua kue yang pakai santan, wajib ditambahkan garam agar rasanya semakin gurih. masakan yang

Oles loyang dengan mentega. Loyang bebas aja. Kalau semakin lebar, hasil jadinya akan lebih pendek. Panaskan panci kukusan.

Kocok telur, gula, dan SP sampai mengembang. Tidak ada mixer, gunakan blender aja. Masukkan tepung ketan hitam ke dalam kocokan telur sedikit demi sedikit dengan spatula atau sendok plastik. Masukkan garam, vanila, santan ke dalam kocokan dan aduk kembali (tetap pakai spatula aja ya). Terakhir masukan minyak goreng sedikit demi sedikit sambil diaduk.

Masukkan adonan yang sudah rata ke dalam loyang. Letakkan di dalam panci kukusan. Jangan lupa tutup panci ditutup dengan kain lap agar air tidak menetes ke dalam loyang. Kukus selama 30 menit.

Wow… langsung ludes. Komentar suamiku, enak banget. “Wah, bunda hebat”. Kata anakku, “Itu aku yang buat”.

Silakan coba aja, Bunda… dijamin mudah, dan tidak akan gagal.

Hari ini satu pembelajaran dari rumah… b e r h a s i l….

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik – 25 Juli 2021.

BANANA CAKE (Bolu Pisang) atau FRUIT CAKE Resep sendok makan

Punya pisang sisa? bikin aja bolu pisang. Gak perlu pakai timbangan. Ini juga imun booster buat kita loh. Hanya perlu waktu maksimal 45 menit aja.

Caranya:

  1. Siapkan loyang, alasi dengan kertas roti. Gak ada kertas roti? mudah aja, olesi loyang dengan mentega dan taburi dengan tepung terigu. alas dan pinggirannya. Kalau pakai loyang ukuran 20×20 cm, akan tipis hasil sekitar 4,5 cm saja. Kalau pakai loyang 20 x 10 maka akan lebih tinggi hasil akhirnya. Kalau mau pakai cetakan muffin juga bisa. Saya pakai loyang yang 20×20 cm `
  2. Panasan oven dengan suhu 150 derajat.
  3. Cairkan 5 sdm mentega dengan api kecil. jangan sampai mendidih, hanya perlu meleleh saja.
  4. Campur 7 sdm terigu, 1 sdt baking powder, 1 sachet susu bubuk (merek apapun) dalam tempat kering. aduk rata.
  5. Kocok pakai mixer 5 telur, gula pasir 5 sdm, 1 sdt SP kocok sampai mengembang. Kalau gak ada mixer, pakai blender juga bisa kok.
  6. Lumatkan 1 pisang ambon besar (atau 2 pisang ambon sedang atau 4 pisang mas./lampung). Pakai blender atau pakai sendok boleh aja.
  7. Masukkan pisang yang sudah dilumatkan dalam kocokan telor dengan spatula atau mixer kecepatan rendah. tambahkan mentega cair. Tambah garam sejumput (kalau sudah pakai mentega asin tidak perlu pakai garam).
  8. Masukkan sedikit demi sedikit campuran terigu ke dalam adonan telor dan pisang. Cukup dengan bantuan spatula atau mixer kecepatan rendah, hanya agar rata saja.
  9. Mau ditambahan almond cincang, kismis, atau buah kering dalam adonan silakan. Atau taburkan almond atau keju parut di atasny juga enak.
  10. Panggang dalam oven sekitar 30-35 menit.
  11. Kalau tidak mau pakai pisang, tambahkan 1 sdm gula dalam kocokan telor. Gula pasir bisa diganti dengan gula palem.

Selamat mencoba.

Hasil Kajian Kelitbangan di Indonesia dan Kebijakan Kelitbangan

Berikut adalah beberapa hasil kajian terkait kelitbangan di Indonesia:

  1. Kajian Efektivitas Lembaga Penelitian dan Pengembangan di Kementerian / Lembaga yang didanai oleh Knowledge Sector Initiative bekerjasama dengan UI Center for Study Governance and Adminstrative Reform, tahun 2019. Link: Buku Kajian Efektivitas Litbang KL

  2. Ringkasan Disertasi dengan Judul “Transformasi Institusi Penelitian dan Pengembangan di Indonesia. Link:  Ringkasan Disertasi [2]_Lina

3. Policy Brief dengan judul “Meninjau Ulang Keberadaan Lembaga Penelitian dan Pengembangan di Daerah”, Link:  Lina Miftahul Jannah_Policy Brief Litbangda PGAR

Disertakan juga

  1. UU Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Link: UU Nomor 11 Tahun 2019
  2. Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2019 tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional, Link: Perpres Nomor 74 Tahun 2019 tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional
  3. Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2021 tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional, Link: PERPRES_NO_33_2021
  4. Prioritas Riset Nasional, Link: Permenristekdikti_Nomor_38_Tahun_2019_tentang_Prioritas_Riset_Nasional_Tahun_2020-2024
  5. Rencana Induk Riset Nasional 2017-2045, Link: RENCANA INDUK RISET NASIONAL TAHUN 2017-2045 – Edisi 28 Pebruari 2017

Semoga bermanfaat

Design a site like this with WordPress.com
Get started