Statistik Sosial untuk Administrasi Negara

Silakan diunduh untuk kepentingan perkuliahan.

GBPP STATISTIK SOSIAL (LANJUTAN) 2015

Tabel distribusi normal, t-student, dan chi-square

statistik-sosial_pendugaan-parameter dan besaran sampel

Statistik Sosial_Kuliah 2_Uji Non Parametrik 1 Sampel

STATISTIK SOSIAL_Uji Beda Dua SAmpel_2 Kuliah 3

STATISTIK SOSIAL_ANOVA dan Table_F_0_05

STATISTIK SOSIAL_NONPARAMETRIK 3SAMPEL

STATISTIK SOSIAL_Tabel Silang dan Uji Independensi

STATISTIK SOSIAL_Pengujian Simetrik Nominal

STATSOS_Pengujian Asosiasi Asimetrik Dengan Skala Nominal

STATSOS_uji asosiasi ordinal by ordinal.pdf

Permendikbud Nomor 154 Tahun 2014 tentang Rumpun IPTEK serta Gelar Lulusan PT

Setelah membuat resah dunia persilatan perguruan tinggi karena hilangnya cukup banyak prodi pada saat diluncurkan pertama kali, akhirnya keluar juga perbaikan Permendikbud ini, yang mengatur tentang Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Gelar Lulusan Perguruan Tinggi. Walaupun Permendikbud ini diperbaiki, nomor dan tahunnya tetap kok, karena yang diperbaiki hanya Lampirannya saja.  Lampiran Permendikbud ini baru dilaunch 4 Februari 2015

Syukurlah, jadi gak ada prodi aneh-aneh dan beda-beda lagi, paling tidak terstandar termasuk gelar, karena terus terang jadi membingungkan, bukan hanya untuk lulusan, tetapi juga para penggunanya.

Silakan diunduh file berikut:

permendikbud nomor 154 tahun 2014_lengkap surat dan lampiran

yang sudah digabungkan permendikbud, surat edarannya, dan lampirannya. Jadi, membacanya tidak terpisah-pisah.

4 Februari 2015

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Harapan

Sekedar berbagai, hadiah dari suami pada waktu saya ulang tahun… Terus terang… buat saya, tulisan-tulisan dari Abang, membuat saya selalu senyum-senyum sendiri membacanya.
Dan saya baru sadar sekarang… mengapa, hampir setiap menjelang perayaan hari kelahiran, saat itu juga saya sedang berada di luar rumah. Yang saya ingat, hanya pada usia saya 6 tahun, mami menjahitkan pakaian bak puteri berwarna putih dan mengundang teman-teman saya untuk datang ke rumah. Selebihnya? Saya kok tidak pernah ingat ya…

Assalamu alaikum Wr wb.

Sakit bukanlah suatu kebiasaan bagi saya saat Anda
tidak ada. tetapi selalu ada yang menyebabkan saya
kurang merasa fit kalau terkena hujan. Hari Selasa
kemarin memang saya bekerja dari pagi sampai malam,
plus menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Sehari
kemudian saya terkena hujan saat pulang ke rumah.

Saya hanya bisa berharap agar Anda bisa menyelesaikan
tugas di lapangan sebaik mungkin. Mudah-mudahan apa
yang Anda rencanakan dari awal terlaksana semua.

Tentu saja, saya tidak lupa pesan yang harus Anda bawa
ke Jakarta. Sebab saya telah membuat janji dengan
teman-teman untuk menikmati bersama apa yang akan Anda
bawa kelak.

Sementara itu, saya sedang berpikir dan bersiap-siap
untuk membungkus sesuatu menjelang pergantian tanggal
26 dan 27 januari 2001.

Perjalanan

Baru saja saya mengumpulkan kembali, beberapa catatan yang tercerai dari email lama. Salah satunya surat ini, yang dikirim pada 22 Januari 2002 oleh mantan pacar saya…

Selasa. 22 Januari 2002.

Sebuah surat terbuka. Kutulis lewat mail ini. Sebab,
tadi siang, komunikasi lewat telepon tak berjawab.
Entah, dimatikan atau sedang dalam perjalanan. Tapi,
bagiku, tak ada prasangka. Doa keselamatan dalam
perjalanan tetap aku tengadahkan. Tak luput dalam
sekejap pun.

Hari ini. Aku baru saja ke kantor kas berwarna biru di
Arteri. Kucek angka-angka yang tertera di selembar
kertas putih yang baru keluar. Angka dua belas
tertulis di sana. Ya, tinggal 12 ribu.

Tapi aku bukan orang miskin. Aku orang yang kaya. Kaya
akan angan-angan dan keinginan. Siapa tahu suatu saat
angka 12 itu menjadi berlipat-lipat. Dan aku akan
membawamu bepergian jauh dari yang engkau lalui kini.
Dan saat itu kita akan bisa menikmati keindahan alam
Bali, Lombok atau Brastagi.

Angan itu memang belum kesampaian. Toh, tak ada yang
bisa memastikan kapan itu terjadi : kecuali Sang
Pencipta.

Aku berharap saat ini. Engkau bisa menikmati keindahan
perjalanan dari satu pulau ke pulau lain di pinggiran
Pulau Sumatera. Ah, betapa ramainya ombak menyapa
engkau. Sebanyak kerinduan yang selalu melintas di
benak seseorang yang sedang menunggu. Di rumah.

Your dearest,

Lagi-lagi tentang Pajak: Komunikasikan , dong…

Mendengarkan Mbak Inayati membicarakan Earmarking Tax dalam Pekan Seminar FISIP Universitas Indonesia menjadi menarik untuk mempertanyakan tentang pajak yang telah saya bayar. Selama ini, saya bingung karena kalau bicara pajak, pasti hanya Gayus, Dhana, dan kasus-kasus korupsi di bidang perpajakan yang jumlahnya bikin merinding bulu kuduk, sepertinya pajak kayaknya sama dengan setan ya…

Menurut Buchanan, earmarking tax adalah specific tax revenue for specific purposes. Artinya, pajak khusus untuk tujuan khusus. Pajak penerangan jalan umum, misalnya, seharusnya kalau sudah dibayar, lingkungan sekitar kita harusnya tidak ada lagi yang remang-remang atau bahkan gelap. Kalau kita sudah membayar Pajak Kendaraan Bermotor, asumsinya jalan yang kita lewati gak bolong-bolong bahkan berlubang lagi atau moda transportasi nyaman dan cukup untuk digunakan.

Masalahnya, Dinas PU di Banten, misalnya, menurut Mba Inayati malah tidak tahu tentang earmarking tax. Jadi udah kadung membuat program kerja alias menetapkan porsi belanjanya dulu tanpa memperhatikan berapa besar pendapatan.

Nah, kalau pengelolanya saja tidak tahu, bagaimana masyarakatnya bisa peduli mau membayar. Jangan menuntut aja dong, tapi bertanggungjawab. Tapi, siapa yang bertanggungjawab?

Saya ingin, suatu ketika ada slogan yang selalu dapat kita ingat bahwa Ingin tahu kemana pajak Anda, silakan hubungi kami di nomor telepon 500XXX. Pajak bukan sesuatu yang harus ditutupi loh. Ingat Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. Kita harus dorong Keterbukaan Informasi dalam Earmarking Tax.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

NEXT… LANJUT… Gaya Pejabat Saat Menjadi Penyaji

“Lanjut…” ucap seorang pembicara dalam sebuah seminar nasional di Kuningan. “Apanya yang lanjut?” batin saya. “Kan dia yang pegang alat pengendali presentasi?”

Memang lucu melihat seorang pejabat menjadi pembicara. Biasanya, bawahannya yang menjadi asrot alias asisten sorot, yang biasa membantu menjalankan fungsi powerpoint di laptopnya. Jadi, kalau mau mengganti ke slide yang berikutnya, keluarlah kata-kata next atau lanjut. Itulah repotnya kalau panitia seminar hanya menyediakan alat pengendali dan yang bersangkutan harus memainkan alat tersebut sendiri. Kebiasaan next dan lanjut tetap saja ada.

Yang lebih lucu, kalau dia adalah pejabat yang katanya ahli di bidang teknologi informasi, tapi paparannya gak IT banget. Biasa aja…

 Sepertinya, para pejabat itu harus diberi pelatihan lagi deh terkait dengan bagaimana cara membuat paparan. Agar tidak jadi bahan guyonan lagi di kemudian hari.

 

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Padat Merayap, seperti Jalan Tol

Jadual Padat Merayap… Membuat Drop…

12-13 Juli 2014 – Universitas Tadulako @ Palu
15-17 Juli 2014 – Universitas Nusa Cendana @Kupang
23-25 Juli 2014 – Jakarta to Mandailing Natal via darat
26-31 Juli 2014 – at Kampong Hutapuli, Mandailing Natal
1-4 Agustus 2014 – Mandailing Natal to Jakarta via darat
5 Agustus 2014 – Rapat Departemen @ FISIP UI
6 Agustus 2014 – Briefing mahasiswa kegiatan Aplikasi Metode Penelitian (AMP)
8 Agustus 2014 – Rapat@Kominfo Jakarta, periksa lab di Gedung M @ FISIP UI
11 Agustus 2014 – Dimaki-maki dosen pensiunan
12-14 Agustus 2014 – AMP @ Kabupaten Cirebon
14 Agustus 2014 – Depok dan Jakarta, kegiatan IAPA
15 Agustus 2014 – Presentasi @ Kantor Transisi Jokowi-JK
16 Agustus 2014 – kembali ke Kabupaten Cirebon
17 Agustus 2014 – kembali ke Depok
18 Agustus 2014 – Pra Raker Fakultas dan Rapat Departemen @ FISIP UI
19 Agustus 2014 – Rapat Program, RKAT
21-22 Agustus 2014 – Berkantor seperti biasa
25-29 Agustus 2014 – PIMNAS 27 @ Semarang
30 Agustus 2014 – Rapat di Kemenpan (fullday) @ Sudirman
1 September 2014 – 08.30 -09.45 Rapat Perkuliahan @ Kampus UI
10.00 -11.30 Masuk UGD @RS Bunda Margonda,harus rawat inap
11.30-12.15 Tanda tangan paksa pulang
13.50 Tiba di Bandara Soothe
15.00 Boarding to Medan Kualanamu
2-3 September 2014 – Full 2 days @ Medan, Tiba di rumah pukul 22.15.
4 September 2014 – Konsultasi ke dokter, ambil darah lagi @ RS Bunda Margonda
8 Septembet 2014 – Depok-Salemba nginap @Hotel Ibis Budget Menteng
9-10 September 2014 – RB Summit @Hotel JS Luwansa Kuningan

Pantang Menyerah sebelum Tumbang…

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Bake

Kualanamu: the Best Airport in Indonesia

Menyusuri bandara Kualanamu menjadi satu keindahan sendiri. Bandara baru, bersih, sejuk, dan “canggih” menjadi satu pemandangan menakjubkan. Apalagi setelah sebelumnya saya masih terkagum-kagum dengan kereta bandara dari Medan menuju Kualanamu yang sangat “on time”, “on schedule”, dan “on serve”. Pas semuanya. Dari sisi harga, pelayanan, maupun waktu. Rasanya, kalau mau diacungi jempol, entah kepada siapa harus diberikan. Apakah ini program transformasinya Pak Jonan, atau “best practice” agar nantinya semua bandara di Indonesia menjadi standar seperti ini.

Bayangkan, berkali-kali bepergian dan berkali-kali pula menginjakkan kaki di Bandara Soetta menjadi satu kelelahan tak terperi. Dari Depok, minimal 1,5 jam. Itu pun setelah ada tol baru JORR Barat. Sebelumnya, hanya sebuah helaan nafas manakala tiba-tiba melihat tol Jagorawi sejak dari Cibubur sudah berhenti dan berjalan merayap sampai arah Cawang, untuk kemudian bingung menghadapi pilihan, ambil arah dalam kota ataukah Priok. Mendarat di Kualanamu menjadi satu hiburan dan pengharapan akan perbaikan pelayanan bandara di Indonesia. Mau tahu apa yang ada di pikirian saya saat menulis tulisan ini dalam perjalanan melintasi langit menuju Soetta… Akankah segera Soetta terwujud menyenangkan? Mengapa baru sekarang? Kemana saja pemerintah saat pajak yang kita bayar tetap dipungut dan semakin besar? Intinya, terlalu lama pembiaran dilakukan. Tapi sudahlah… toh, maksud saya menulis di sini, bukan untuk menyudutkan pihak tertentu sehingga saya akan terkena pasal pencemaran nama baik melalui UU ITE.

Kembali saya mengingat saat berjalan sendiri menenteng sebuah tas kecil yang berisi laptop, tablet, hape, dan kumpulan kartu-kartu penting saya menuju musholla di ruang tunggu bandara. Tiba-tiba, mini car di dalam bandara berhenti. Dua orang petugasnya menyapa saya “Silakan bu, untuk naik ke atas kendaraan ini?” Saya masih terbengong-bengong sangat tidak menyangka “Why me?” dalam hati saya. “Ibu tidak usah ragu. Ini adalah pelayanan bandara?”ucap petugas di samping pengemudi saat melihat wajah saya yang masih takjub. Mereka mempersilakan saya naik. “Saya dekat saja kok ke musholla”, ucap saya. “Tidak apa-apa, Bu.” Akhirnya saya memutuskan untuk naik ke atas kendaraan kecil tersebut sambil saya bertanya “Mengapa Bapak-Bapak memilih saya? Apa kriterianya? Harusnya kan yang diajak orang yang membawa barang banyak, atau orang yang sakit. Apa saya terlihat sakit?” Banyak sekali ya, pertanyaan saya. Kedua Bapak tersebut hanya tersenyum. “Atau karena saya terlihat loyo?” Sekali lagi kedua Bapak hanya tertawa.Tidak lama sampai di depan musholla. “Alhamdulillah sudah sampai. Selamat jalan, Bu.” ucap mereka.

Ya Rabb, terima kasih karena telah Engkau bantu hamba dengan segala macam kemudahan, kenikmatan, dan kebahagiaan. Apalagi yang bisa hamba sampaikan kecuali ucap syukur tiada henti. Fabiayyi alaai rabbikumaa tukadzdzibaan.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

Juri-Juri Pimnas 2014: Berani

 Baru kali ini, juri bisa punya seragam. Mudah-mudahan bukan karena PDIP mendapat suara terbanyak sehingga juri pun diberi warna merah. Mudah-mudahan artinya seperti warna sang saka, berani…. Berani menyatakan, siapa yang menang, siapa yang kalah. Berani menyuarakan anti korupsi. Berani menjadi contoh dan teladan orang yang kreatif dan inovatif. 

Alhamdulillah, sebagai fotografer dalam tim juri, akhirnya ada juga foto saya. Walaupun, sedih deh, tidak ada foto bersama pak Gubernur dan Pak Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.IMG_5764 IMG_5777 IMG_5778 IMG_5917

Sampai bertemu lagi di Sulawesi 2015…

 

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.