Apakah aku kurang ganteng sehingga kamu tidak suka aku?

Banyak laki-laki yang mengeluarkan pertanyaan “Apakah aku kurang ganteng sehingga kamu tidak suka aku?” karena biasanya ditolak sama perempuan yang dia sukai. Tapi tulisan ini tidak seperti itu. Judul di atas saya ambil dari curahan hati suami saya. Tapi, bukan karena saya tidak suka dia atau karena dia kurang ganteng loh. Suami saya, sampai saat ini masih tidak tergantikan oleh laki-laki manapun di atas muka bumi ini. Disebut ganteng banget, juga gak. Yang pasti, dia adalah orang yang bisa sangat saya andalkan untuk banyak hal, kecuali urusan listrik, otak-atik mesin, dan mengendarai mobil. Mudah-mudahan dia gak baca tulisan ini karena saya khawatir, kalau dia baca, pasti pujian ini membuat dia jadi kurus. Dari pada nanti salah persepsi, mending saya bagi saja ceritanya melalui blog ini.

Setiap pagi, sambil nunggu anak saya siap-siap sekolah, saya duduk sambil nonton TV, berita atau hanya sekedar gosip artis yang gak penting. Biasa lah… kadang perlu juga agar kalau ngobrol dengan siapa saja, jadi nyambung. Kalau suami saya, biasanya duduk di teras, sambil baca koran.

Nah, pagi ini, saat asik menonton siaran gosip pagi, tiba-tiba suami saya datang dari teras dan kemudian duduk di samping saya. “Semalam ayah terbangun jam 1 dan gak bisa tidur lagi. Padahal aku mau kamu, tapi kamu kok tidak suka aku.”

“Apa-apaan sih?” Tanyaku dalam hati. Maksud ayah, apa?” tanyaku penasaran

“Kan ayah pengen tidur, tapi gak bisa juga. Gak tahu kenapa. Makanya ayah bingung, Apakah aku kurang ganteng sehingga kamu tidak suka aku, Tidur?”” curhat suamiku.

Ha ha ha….Saya yang mendengar hanya ketawa tergelak sambil mengucap: “Ayah, ayah…mungkin memang ayah kurang ganteng kali, sampe tidur aja gak suka sama ayah.”

Saya tahu, penyebab utamanya cuma satu. “Pasti gara-gara kepikiran kerjaan ya. Kebanyakan proyek sih…”

“Iya, nih,” ucapnya. Dalam hati saya: Duh… Besok-besok ayah gak perlu jadi orang baik yang susah menolak kalau diminta bantuan. Apalagi kalau hanya membuat capek dan gak bisa tidur.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Penganan tradisional: efisiensi rapat ala MenPANRB

“Benar gak sih, kalau rapat di KemenPANRB (Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi), penganan ringan yang disajikan sederhana?” pertanyaan seperti itu kerap diajukan teman-teman di kampus ketika rapat dan membandingkan penganan yang kami peroleh dengan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 10 Tahun 2014 tentang Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi Kerja Aparatur Negara.

Selain membatasi perjalanan dinas dan rapat di luar kantor demi penghematan Anggaran Belanja Barang dan Belanja Pegawai, dalam Surat Edaran ini juga dinyatakan agar menyajikan menu makanan tradisional yang sehat dan/atau buah-buahan produksi dalam negeri pada setiap penyelenggaraan pertemuan/rapat demi mendorong peningkatan produksi dalam negeri dan kedaulatan pangan.

Masalahnya, betulkah itu dilaksanakan? Beberapa kali rapat di kantor KemenPANRB, memang betul surat edaran ini ditegakkan. Masalahnya, yang disebut makanan tradisional tuh apa sih?

Dari laman http://www.intentionallydomestic.com/ diperoleh penjelasan apa sebenarnya yang dimaksud dengan makanan tradisional. Terjemahan bebas dari tulisan tersebut adalah bahwa makanan tradisional terkait dengan:

  • Mengikuti cara nenek moyang kita memakannya.
  • Mengandung gizi dan nutrisi
  • Memilih makanan terbaik sesuai anggaran, kecocokan dengan zat kimia dalam tubuh seseorang, dan ketepatan cara mengkonsumsi sehingga tubuh kita dapat mengambil manfaatnya.

Sedangkan dari modul pembelajaran 2 di Jurusan Kepelatihan Olahraga Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia yang ditulis oleh Lilis Komariyah disebutkan bahwa makanan tradisional adalah makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat tertentu, dengan citarasa khas yang diterima oleh masyarakat tersebut.

Artinya, kalau kita mau pakai pendefinisian pertama, akan banyak makanan mentah seperti lalapan dengan sambal, soto, nasi uduk, ikan asin, nasi goreng, rendang dan khas padang lainnya, namun perlu diperhatikan bahwa beberapa makanan tersebut misalnya makanan padang tidak boleh dikonsumsi terlalu sering karena kandungan kolesterolnya yang cukup tinggi. Kalau makan soto, repot juga karena berarti harus disediakan mangkok. Bagaimana dengan orang Palembang yang menyantap mpek-mpek sebagai kebiasaan di pagi hari alias sarapan? Padahal banyak orang, kombinasi asam dan pedas itu cukup berbahaya bagi lambung. Selain itu, agak aneh kalo penganan kecil disajikan tidak sesuai waktu. Kue putu mungkin tidak enak bila dimakan saat dingin karena biasanya agak mengeras.

Nah… ini contoh penganan kecil waktu saya rapat di KemenPANRB. IMG20150311085215Hanya kacang dan ubi. Hari yang lain (sebelumnya lupa difoto), dapat pisang rebus (yang dikemas dengan alumninium foil) dan jagung rebus (juga dikemas dengan aluminium foil). Pernah dapat makaroni panggang (pasti pakai susu, keju, dan daging cincang dong) dan dadar gulung. Terus bagaimana dengan paket makan siang kotak yang cepat saji misalnya makanan jepang? Itu kan bukan ciri khas masyarakat kita. Atau, boleh gak bakso diakui oleh kita sebagai makanan khas padahal ini diambil dari makanan warga Tionghoa dan keturunannya? Nah, bakwan malang kan isinya bakso, ada pangsit nya juga…ini kan bukan Indonesia. Sampai batasan mana itu disebut makanan khas Indonesia. Itu yang harus didefinisikan ulang.

Terkait pengemasan dan bahan baku, ada pengalaman yang cukup menarik. Saya pernah tanya kalau dadar gulung ini isinya keju, apakah ada jaminan bahwa itu bukan keju impor dan memang dapat mendorong peningkatan produksi dalam negeri dan kedaulatan pangan? Terus kalau pisang rebus dikemas dengan aluminium foil dan harganya menjadi naik berkali lipat, dan singkong diberikan tambahan keju dianggap juga bagian yang mendorong penghematan?

Memang lucu yang terjadi di negeri ini. Kreatif sih…Yang tidak perlu diatur dibuat kebijakan, yang perlu diatur dibiarkan pura-pura bukan tanggungjawabnya. Yang perlu diatur tuh, jangan sampai bikin rapat yang seharusnya satu hari, disuruh tanda tangan dua hari. Atau, karena kantor di Jakarta, bikin rapat di Bogor atau Serpong demi per diem.

Hadeuh.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Yuk Gunakan Bahasa dengan Tepat [2]

Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa kedua di negeri ini. Itu tidak salah. Hanya saja, ada beberapa hal yang harus diingat. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan menyatakan bahwa: bahasa resmi nasional yang digunakan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan ada yang menyebut, “gak keren ah kalo gak pake bahasa asing, kuno, kampungan” IMG20150421124000#1

Nah apakah ada yang salah pada foto di samping? Perhatikan tulisan di bawah Bank Jatim. Ya, benar sekali. Drive True PBB. Tulisan tersebut saya temui saat melakukan perjalanan dinas ke Kabupaten Banyuwangi. Coba bandingkan dengan gambar berikut ini. IMG20150421124014

Gambar sebelah kanan saya peroleh di tempat yang sama. Ceritanya, gambar tersebut adalah penunjuk arah ke loket Bank Jatim.

Penggunaan bahasa asing, sekali lagi tidak dilarang. UU 24/2009 membolehkan hal tersebut sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 38 bahwa: (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam rambu umum, penunjuk jalan, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum, dan (2) Penggunaan Bahasa Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disertai bahasa daerah dan/atau bahasa asing.

Hanya saja, cobalah pakai bahasa yang tepat. Drive True Drive Thru adalah dua hal yang berbeda. Drive True artinya tepat berkendara, sedangkan Drive Thru (berasal dari istilah Drive Through) artinya  lewat berkendara. Kesalahan kecil tapi berbeda makna. Untuk istilah ini, tentu saja yang benar adalah Drive Thru.

Hanya saja, maksud yang baik ini tetapi kenapa ya harus berbahasa asing. Apakah tidak ditemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia? Sejauh yang saya ketahui, kata tersebut belum ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Saya memang pernah membaca ada sebuah media cetak yang mengganti istilah Drive Thru menjadi Kendara Lewat. Artinya, pelayanan diberikan tanpa orang perlu turun dari kendaraannya. Biasanya digunakan di loket-loket restoran cepat saji. Apakah ini harusnya yang kita pakai kemudian?

Pemerintah sepertinya harus segera mengatur hal ini. Banyak inovasi yang dilakukan namun merujuk pada bahasa asing, sehingga ke depannya pelayanan-pelayanan yang sejenis dapat memperbaikinya dan kita tetap bangga dengan Bahasa Indonesia, sebagai bahasa pemersatu bangsa.

Di luar perdebatan tersebut, saya cukup mengacungkan jempol bahwa ada inovasi pelayanan. Pak Abdullah Azwar Anas memang luar biasa deh. Beliau bukan hanya ganteng loh, tapi mampu membawa Kabupaten Banyuwangi menjadi daerah yang humanis dan memberikan banyak perbaikan dalam pelayanan. Berada di Banyuwangi saya merasa diwongke.

Selamat ulang Tahun Pancasila, 1 Juni 2015

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Comfortable versus Love (antara Kenyamanan dan Cinta)

A perfect relationship starts when you are comfortable with him and goes on when just being with you is enough to make him happy… He patiently listens to what you have to say… He is your best friend and he can understand you deeply, even you unsaid words… He is the perfect man made for you (Neena Gupta: lifelovequotesandsayings.com)

Siang hari yang cerah, dalam perjalanan kembali dari tugas, seorang profesor bertanya kepada Dita (nama ini sudah disamarkan ya…), yang dulu pernah menjadi mahasiswanya.

Mba Dita, apakah memang mba Dita memang mencintai mas Anto (nama ini juga sudah disamarkan)? Tanya si profesor dengan gaya jahil. Anto dulu juga adalah mahasiswa si Profesor. Anto dan Dita saat kuliah adalah teman satu kelas. Oh, ya. Profesor ini sejak masih mahasiswa dikenal sebagai orang yang iseng. comfortable and loveSaya hanya senyum-senyum sambil bilang “nah loh”. Dita terlihat bingung ketika ditanya ini dan bahkan dia bergurau “bukannya prof tadi bilang mau tidur?” Sebelumnya, memang si profesor ini bilang “Saya tidur dulu ya”. Saya yang memang tahu kebiasaan profesor ini menyambung “Tidur aja, mas. Nanti kalau sudah mau dekat rumah, saya akan bangun kan.” ujar saya.Walaupun, saya tahu bahwa ucapan mau tidur itu hanya iseng saja. Dita akhirnya dengan malu-malu menjawab sambil tertawa, “kalau buat saya sih yang penting nyaman dulu, prof. Cinta akan muncul kalau kitanya sudah nyaman.” Jadi kalau dalam bahasa Inggris berarti? Comfortable first, and love next. “Kalau saya bilang saya cinta tapi gak nyaman bagaimana?” lanjut Dita.

Aha… begitu sederhananya, ya. Tapi memang betul. Bagaimana kita bica cinta kalo kita gak nyaman. Makanya, akhirnya yang dilakukan saat pacaran atau taaruf adalah mencari dan mengenal zona kenyamanan yang ada. Berusaha mengenal, apa yang membuat pasangan kita nyaman dan tidak mengganggu kenyamanan kita juga.

Jadi, saya setuju banget sama Miss. Gupta (yang saya cuplik di atas – Terimakasih Miss Gupta atas tulisannya yang sangat dalam). Tinggal sekarang bagaimana kita mendefinisikan cinta dan menyandingkannya dengan kenyamanan.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Batas Kesopanan: antara Pakaian dan Perkataan

Tulisan ini bukan hanya dibuat karena ada kehebohan di FISIP Universitas Indonesia (UI) perihal pengaturan cara berpakaian. Tapi, lebih dari itu., tentang makhluk yang namanya kesopanan.

Dalam KBBI daring yang dimaksud dengan istilah sopan adalah kata sifat yang berarti:

  • hormat dan takzim (akan, kpd); tertib menurut adat yg baik
  • beradab (tt tingkah laku, tutur kata, pakaian dsb); tahu adat; baik budi bahasanya
  • baik kelakuannya (tidak lacur, tidak cabul)

sedangkan kesopanan adalah kata benda yang berarti:

  • adat sopan santun; tingkah laku (tutur kata) yg baik; tata karma
  • keadaban; peradabankesusilaan

Artinya, bicara sopan dan kesopanan ada kaitannya dengan adat, adab, dan susila. Ihh, berat ya.

Bagaimana kesopanan di kalangan mahasiswa?

Siapa yang tidak mengenal seorang Nanang di FISIP. Mungkin bisa dikatakan sebagai sosok yang paling dikenal publik. Sejak pagi hingga malam hari, banyak mahasiswa yang mampir di tempatnya seraya berucap “Nang, berapa semuanya?”, “Nang, gua beli ini dong”, atau “Nang, buruan kembaliannya, gua udah terlambat.”

Kalau sudah begini, saya hanya mengelus dada. Di mana letak kesopanan bahasa dari mahasiswa? Saya sempat menanyakan usia Nanang sekarang dan dia jawab “30-an, mba.” Coba, berapa sih umur mahasiswa di FISIP UI. Rata-rata 20 tahun. Bukankah seharusnya mereka memanggil yang lebih tua dengan sebutan “mas”, “bang”, kak”, atau “pak”. Padahal, saya ingat betul waktu saya masih jadi mahasiswa, dan yang menunggu tempat jualan di koperasi adalah Mang Pendi (a.k.a. Afandi). Kami tidak pernah menyebutnya dengan Pendi saja. Mungkin, itulah lost generation. Hilang semuanya, termasuk tata krama. Gak perlu lah cium tangan dosen. Cukup menyapa saja, atau kalau malas menyapa, berikan senyum sedikit saja.

Bagaimana dengan cara berpakaian? Bagi saya, pakaian itu bukan bicara merek atau harga, yang penting sopan dan tidak mengganggu orang lain. Pakaian mini buat saya tidak masalah, asal dipakai di tempat yang tepat. Kalau di kampus berpakaian mini lantas kemudian mahasiswa lain atau dosennya jadi tidak konsentrasi bagaimana? Jangan lantas berpikiran, salahnya orang yang melihat dan berpikiran negatif. Loh, manusia kan makhluk sosial jadi mau tidak mau dia harus berhubungan dengan orang lain. Kalau mau jadi makhluk yang individu, gak usahlah berkeliaran. Diam di rumah, kerja dari rumah, atau sekolah juga di rumah.

Himbauan cara berpakaian FISIP UI
Himbauan cara berpakaian FISIP UI

Artinya, kalau bicara kesopanan, bukan masalah celana itu robek atau pakaian yang mini. Tapi, gunakan di saat yang tepat. Gak lucu juga kan, pakai pakaian pesta di kolam renang, pakai pakaian renang ke sekolah, atau pakai helm kerja di mal? Lain halnya kalau kita sekolah olahraga, ya bisa menggunakan pakaian renang saat pelajaran berenang. Tapi kalau jam pelajarannya main sepakbola atau bulutangkis masak pakai baju renang?

Apakah mengatur dosen juga?

Kalau mau mengatur mahasiswa, ya atur juga dosennya. Berani gak? Kalau mengajar tidak boleh pakai kaos, tidak boleh pakai sepatu sandal. Loh…kok itu menohok saya banget ya? Yang memang hobi berkaos dan bersandal. Saya ingat, beberapa profesor masih menggunakan sepatu sandal dan memakai jeans. Juga ada dosen perempuan yang memakai hak tinggi tapi modelnya selop atau sandal. Memang sih tidak ada yang berkaos. Hanya saya saja dosen yang sering pakai t-shirt. Apa bedanya sepatu sandal teplek dengan high heels? Beda tambah tinggi aja kan?

Oh ya, terhadap hal ini saya pernah komplain pada saat saya tidak boleh masuk sebuah kantor pemerintah di bilangan Sudirman karena pakai sepatu sandal teplek (anak sekarang menyebutnya dengan flat shoes) padahal ada ibu-ibu yang diperbolehkan masuk padahal bersepatu hak tinggi.  Saya bilang, apa bedanya? Itu namanya diskriminatif. Aturan kan tidak boleh diskriminatif.

Saya sendiri juga tidak pernah melarang mahasiswa memakai kaos atau sepatu sandal, karena saya tidak mungkin melarang mereka padahal saya sendiri melakukannya. Bagi saya yang penting adalah kenyamanan. Termasuk di dalamnya saya mengizinkan mahasiswa makan dan minum di kelas, tetapi tidak boleh berisik. Misalnya, kalau makan kerupuk kan berisik tuh, jadi saya larang. Sekali lagi, buat saya, yang penting tidak mengganggu aktivitas belajar mengajar. Pernah ada satu mahasiswi berpakaian dengan cukup terbuka, maaf, belahan dadanya terlihat, maka saya bilang, “coba pakai phasmina.”

Duh…kalau aturan berpakaian tersebut benar-benar diterapkan di kampus ini… bagaimana ya?

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik.

Yang tersisa dari Reuni SMPN 87 Angkatan 87 – 26 April 2015: Don’t stop here!

Walaupun masih sakit cacar air, saya memaksa untuk jalan juga reuni. Kata dokter, kalau masih baru gak menular. Kalau sudah sembuh baru menular. Ada aja nih penyakit. Tapi, kalau gak datang, kapan lagi moment seperti ini terulang. Kaget, senang, bingung…28 tahun yang lalu akhirnya ketemu lagi. Laksana gado-gado Boplo yang gurih itu, atau seperti soto rujaknya Banyuwangi, mau rujak apa soto sih atau mau soto apa rujak nih? Intinya semua kumpul lagi… Yiiihaaa. Asik. Ada yang masih saya kenal karena dari dulu sampe sekarang wajahnya tetap gak berubah. Dan ada yang tetap gak saya kenal. TATI. Walau akhirnya, ketika wajah Tati saat kelas 1 SMP dimunculkan… barulah saya teringat. Ternyata Tati itu yang seperti itu. Soalnya, beda banget. Ha ha ha… Sekali lagi, maaf ya, Tat.

reuni 87-87
reuni 87-87_26 April 2015

Ada Sumarjo (yang dari dulu selalu ingin dipanggil dengan Johan), Irawan Syahputra (mantan model iklan dan teman belajar di rumah Deswita), Erni “Strawberry” Setyaningsih, Fauziah “Ipau” Hanum (duh…cantik banget emak ini), Elangsari, Evi Roviana (yang dulu montok banget), Lilis (yang pernah jadi Satpam Gramedia, sekarang jadi dosen di USNI), Tontowi alias Toton (yang nakalnya dari dulu gak habis-habis), Sri “JQ” Rejeki dan Yohana “Iyoy” Marga (yang dulu temen SD juga), Muthia dan Jullya (yang dulu kalo sekolah jarang bawa tas), Delisa “Nining” (yang anaknya Bu Waty-guru kelas 1 SD 05), Titik (yang kemana-mana bareng sama Nining), Sri “Tari” Wartini (satu SMA dan satu RW), Zakaria (yang awet tua dari dulu), dan Mufid Tamyizi (satu SMA dan masih tetap kalem). Masih banyak lagi deh, yang kalau ditulis capek juga rasanya.

Guru-guru juga datang, Bu Neneng, Bu Hefni, Bu Yayah, Bu Anis, Bu Tri, Pak Hadits, dan Pak Muchtar. Terima kasih, Bapak/Ibu Guru. Walaupun, saya tidak terlalu ingat, apa yang pernah diajarkan saat SMP, kecuali Pak Muchtar…Soalnya saya kan memang suka menulis dan belajar bahasa Indonesia. Harusnya Pak Muchtar bangga, soalnya saya sering membimbing mahasiswa untuk lomba karya tulis dan beberapa kali juara nasional. Bahkan, sekarang jadi juri…(bukan jurig ya) untuk lomba-lomba yang ada kaitannya dengan penulisan.

guru SMP 87_reuni 87
guru SMP 87_reuni 87_26 April 2015

Kapan ya, kenangan seperti ini terulang… Mudah-mudahan dari reuni ini dapat menghasilkan sesuatu, bukan hanya seperti angin yang berhembus sebentar. Ingin deh berbagi buat murid-murid di SMPN 87. Tapi apa, ya? Saya masih bingung, belum ada ide. Ada yang bisa bantu kasih pencerahan? Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

The Lost History at SMP 87 Jakarta: menjelang Reuni Angkatan 87

6 April 2015

Kekagetan pertama terjadi saat pulang kerja, Rajul – anak saya yang kedua- memberi kabar bahwa teman saya saat SMP yang namanya Tati menelepon. Saya masih berpikir? Who’s Tati? I don’t have a SMP’s friend with Tati’s name. OMG…Jangan-jangan penipuan. Tapi masalahnya, kalau itu penipuan, kok dia kasih nomor telepon ke anak saya.

Saya coba telepon, tidak diangkat… “ah, berarti iseng, nih orang”, saya pikir. Tapi, saya telepon lagi kedua kali, dan

“Hallo…saya Lina. Tadi telepon saya?”

“Iya Lin, ini Tati.”

“Tati mana ya? Sorry banget ya, gua lupa.”

“Tati Sumiati, loe masih ingat gak? Loe Lina Miftahul Jannah yang rambutnya panjang kan?”

“Iya” jawab saya sambil mikir “Why I don’t remember what kind of Tati is? Am I okay?”

“Lin, kita mau reuni ya, tanggal 26 April di Café Mang Uni. Loe dateng ya”

“Oke, insya Allah saya datang. Ntar gua jadwalin dulu. Biasanya gua sering ke luar kota. Di mana tempatnya?”

“Bintaro sektor 3. Oh ya, minta nomor hape loe ya, mau dimasukkan ke WA.”

“Oke ntar gua sms, saya lupa nomor hape yang bisa WA”.

Saya belum punya bayangan… mau reuni SMP. Di Bintaro sektor 3. Di mana lagi itu… terlalu banyak keliling Indonesia, malah gak tahu peta Bintaro.

Terbayang beberapa nama… loh kok yang saya ingat hanya Erni Setyaningsih dan Masronih, Irawan Syahputra (itu pun karena satu SMA), Deswita (waktu kelas 3 sering kerumahnya bareng Eddy dan Maya), Eddy (duh Eddy siapa ya?), Iwan Saputra (yang kalo nulis nama i-one), Fauziah alias Ifau. Otak saya terus memutar dan… sudahlah toh nanti saya pasti dapat mengingatnya.

8 April 2015

Saya ditambahkan oleh Tati dalam Grup WA Alumni 87-87 Kompak.

“Met gabung ibu dise UI, lina Miftahul. @ibu dosen “

“Terima kasih atas undangan gabung nya. Apa kabar semuanya?” Ih…saya kok formal banget ya?

“Lina itu tmn SD gw?” sapa Yohana. “Masih inget gak ya dia sm gw?”

Masih lah … anak kodam kan?

Selanjutnya sahut-sahutan antara teman yang lain nya muncul. Anggota grup terus bertambah dan percakapan semakin menarik. berlanjut, dan terus bertambah. Hanya saja, saya masih tidak percaya, ada beberapa nama yang tidak saya ingat bentuk dan wajahnya, termasuk Tati. Please forgive me…

21April 2015

Terus terang, dengan jujur saya katakan kalau saya minder. Saya bingung, apa yang harus saya tuliskan di grup WA. Ironi ya.

WA membantu saya menyatukan potongan teka-teki yang tersebar. Saya lebih banyak menyimak. Dari sini ingatan saya kembali sedikit demi sedikit. Bagaimana guru-guru saya dulu, siapa teman-teman saya. Dan saya akhirnya merenung… siapa sih saya dulu.

Saat SMP, yang saya ingat pergi sekolah naik angkot, masuk kelas, jajan di kantin saat istirahat, sholat di mushola, pulang sekolah jalan kaki. Sabtu kadang main basket. Selebihnya, belajar gak berlebihan dan saya juga bukan orang yang berprestasi kecuali pernah menang lomba sekolah sekali dan itu kalo gak salah ada hubungannya dengan pidato pendek terkait asbabun nuzul….”Yes, akhirnya, saya ingat kalau saya punya prestasi.”

Seperti yang pernah saya tuliskan di blog ini juga. Banyak guru yang mengajar saya, tetapi yang membekas dan tak lekas hilang adalah Pak Fauzun, Pak Radi, dan Bu Neneng. Yang lainnya… antara ada dan tiada deh. Maaf ya, Bapak dan Ibu Guru. Oh ya, akhirnya ada lagi yang menempel tiba-tiba. Guru agama, yang kalau mengajar lengkap seperti toko emas jalan, karena perhiasannya lengkap betul. Mudah-mudahan tidak salah nama. Bu Kartini. Soalnya saya pernah berdebat dengan beliau terkait imla (dikte dalam tulisan Arab) huruf en, dengan nun dan tanwin. Namanya juga saya… kalau gak komplain, gimana gitu rasanya.

22 April 2015

Sepulang dari Banyuwangi, langsung saya antar bingkisan saya buat para guru. Saya titipkan lewat Mariah di tempat dia kerja. Pulang dari kantor Mariah, saya putuskan langsung ke rumah sakit. Toh, saya tidak mungkin mengejar rapat karena jalan tol macetnya luar biasa. Ketemu dokter yang tempo hari memeriksa anakku. Hasil periksa dari rumah sakit, saya positif VARICELLA… keren banget ya nih penyakit. Nama Indonesianya: CACAR AIR. Sebel…sebel…sebel… (#gayakomarpremanpensiun)

23 April 2015

Saya akhirnya memutuskan menyampaikan info ke Tati kalau saya kena cacar air. Hik…hiks…hiks… pengen datang ke acara reuni. Boleh gak ya???

Khusus buat TATI… AMPUN DAH.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

Kesetiaan = Ibarat Kopi Ditambah Susu

Apa sih kesetiaan itu? seorang mahasiswa saya menyebut bahwa setia itu kalau sang pacar selalu ada untuk dia. Ah, Haddi…kayaknya dia merujuk definisi kesetiaan dari http://www.urbandictionary.com deh. These are the people you can trust to have your back all the time, you can close both eyes when sleeping and they got you covered or turn your back on them after handing ’em a knife or gun and not have to worry they will be tempted to use it on you. They will never abandon you. Apa iya? Bagi saya sepertinya ini terlalu berlebihan deh. Kasihan banget tuh pasangan. Nanti, orang akan menilai kalau kita itu seperti anak lahir kembar siam dong. Masalahnya, kembar siam saja, dengan kecanggihan dunia kedokteran bisa dipisahkan kok.

Konsep kesetiaan itu sendiri kalau menggunakan penilaian kerja Pegawai Negeri Sipil yang dulu (DP3-Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan) adalah kesetiaan, ketaatan, dan pengabdian kepad Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara, dan pemerintah. Pada umumnya yang dimaksud dengan kesetiaan adalah tekad dan kesanggupan mentaati melaksanakan, dan mengamalkan sesuatu yang disetiai dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab. Tekad dan kesanggupan tersebut harus dibuktikan dalam sikap dan tingkah laku sehari- hari serta dalam perbuatan dalam melaksanakan tugas. (Lihat Penjelasan PP No. 10 Tahun 1979 Pasal 4 Ayat (2) Huruf a) Sangat abstrak dan tidak jelas ukurannya.

Jacoby dan Chesnut (1978) menyebut bahwa dalam konteks hubungan personal, loyalty is shown when persons do not undermine others by what they say or do. Intinya, adalah saling mendukung  dan pengertian.

Nah, kalau saya sih setuju dengan pendapatnya Jacoby dan Chesnut. Memang itulah kesetiaan. Jadi setia pada pasangan itu berarti mendukung hal baik yang dilakukan pasangan kita dengan penuh pengertian. Seperti kopi dan susu. Masing-masing bisa eksis, tetapi kalau dicampur…ah nikmat rasanya. Bisa merem melek. Ingat, kopinya jangan ditambah lagi cokelat alias three in one ya, bisa repot nantinya. Kita, pasangan, dan orang ketiga deh. Berat…

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

 

Kecantikan versus Kebenaran

Menyaksikan pemberitaan Tempo edisi 6-12 April 2015 dan 13-19 April 2015, rasa-rasanya gimana gitu. Antara sedih dan gelisah. Mengapa tidak. Pertama, seorang narasumber (dalam hal ini yang akan diberitakan atau dijadikan informan) harus dimintakan informed consent-nya alias kesediaan atau persetujuan. Istilah informed consent ini memang biasanya digunakan di bidang kesehatan untuk menyatakan kesepakatan atau persetujuan pasien atas usaha medis yang akan dilakukan oleh dokter terhadap dirinya. Jadi saya tidak bisa menyalahkan Mba Anindya Kusuma Putri –sebagai obyek berita di sini- sepenuhnya. Mungkin saja, yang bersangkutan tidak tahu bahwa pertanyaan yang diajukan si penanya adalah pertanyaan serius sedangkan dia nya sendiri menganggap pertanyaan guyonan. Oleh karena itu, sekali lagi informed consent menjadi hal yang penting dalam sebuah wawancara.

Kedua, sebagai seorang public figure tentu saja juga harus menjawab semua pertanyaan dengan serius dan santun. Artinya, menjawab jujur dan tidak dibuat-buat menjadi hal yang penting. Ingat loh, namanya figur publik, harus siap jadi berita dan diberitakan. Apalagi, semua orang di dunia ini sudah tahu bahwa ada moto yang dibawa semua ajang beauty pageant contest. Brain, Beauty, dan Behavior. Artinya, bukan hanya cantik, tetapi santun, dan juga cerdas. Menurut Sophia Loren, artis Hollywood tercantik di masanya, beauty is how you feel inside and it reflects in your eyes. It is not something physical, dan menurut Kahlil Gibran, beauty is not in the face; beauty is a light in the heart. Jadi sebenarnya, di dalam beauty itu sudah ada brain dan behavior loh.

Ketiga, kedua orang tua saya selalu bilang “say sorry and thanks”. Jujur saja, keduanya tidak mengucapkannya dalam bahasa Inggris kok, tapi tetap pakai bahasa Indonesia “ucapkan maaf dan terima kasih”. Berterima kasihlah saat diberi dan mengaku salah lah jika engkau salah. Tapi memang kok, mengaku salah saat kita salah adalah memang teramat susah. Padahal banyak orang sukses karena diawali dengan kesalahan. Orang akan menganggap kita satria. Justru orang yang tidak pernah berbuat salah, tidak akan mencoba hal baru dan menjadi lebih baik. Thomas Alfa Edison saja, katanya melakukan 1.500 kesalahan sebelum menjadi penemu bola lampu. Nobody is perfect. Sempurna itu hanya ada di lagunya “Andra and The Backbone”. Jadi, mana yang akan dipilih: minta maaf atau membuat klarifikasi?

Terakhir, suami saya yang seorang jurnalis selalu bangga dengan pekerjaannya dan menyebut media massa adalah salah satu pilar demokrasi. Jimly Asshiddiqie (dalam http://www.medanbisnisdaily.com) juga menyebut bahwa salah satu roh demokrasi adalah kebebasan berekspresi dan itu dekat dengan kebebasan pers. Kalau bicara roh dan pilar artinya pers itu penting loh. Orang tidak akan hidup kalau tidak ada roh, dan bangunan tidak akan berdiri tanpa pilar. Saya setuju dengan keduanya (Bang Yasin dan Pak Jimly). Kebebasan pers yang bertanggungjawab tentunya. Pers harus menyajikan berita dan informasi dengan fakta, obyektif dan tentu saja independen, sehingga masyarakat lebih cerdas dan berubah ke arah yang lebih positif. Yang penting, beritanya tidak bohong dan memihak deh. Capek rasanya menyaksikan figur publik yang sengaja mengundang para kuli tinta hanya untuk menceritakan kegiatan harian mereka yang mungkin sengaja untuk publikasi. Yang benar dibuat salah, yang salah dibuat benar. Kasihan kan kalau masyarakatnya jadi pusing. Cukup yang pusing kepala Putri Bahar aja (menyitir lagu Pusing Pala Barbie).

Inti catatan saya bukan masalah kecantikan atau kebenaran saja, tapi cerminan dari kecantikan atau kebenaran itu sendiri. Boleh lah orang tidak tahu asal daerah lagu Ma rencong rencong (yang saya tahu sih dari Bugis Sulawesi Selatan), jumlah kabupaten/kota yang memang tidak pernah dinyatakan secara resmi berapa jumlahnya saat ini (kecuali waktu saya hitung manual dari data resmi Kemendagri ada sebanyak 403 kabupaten dan 98 kota), atau abad keberapa Candi Borobudur dibangun (dari info http://www.borobudurindonesia.com candi ini dibangun pada Wangsa Syailendra pada tahun 750-825 M artinya abad ke 8-9). Tapi, kalau pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, sepertinya semua anak yang pernah sekolah dasar di Indonesia juga tahu, namanya Wage Rudolf Supratman. Jangan kita menertawai ketika seorang Sarah Palin Cawapres Amerika Serikat dibully gara-gara Afrika disebut sebagai sebuah negara (padahal Afrika adalah benua). Bagi saya cukup wajar seorang Palin lupa, karena Palin kan bukan warga dari salah satu negara di benua Afrika.

Sangat disayangkan saja, kalau orang yang mau mewakili Indonesia dalam ajang internasional tidak tahu (atau mungkin memang benar-benar lupa) siapa nama lengkap pencipta lagu kebangsaan sendiri. Hanya memastikan saja: bukankah orang yang mewakili kita seharusnya tahu tentang apa dan siapa kita? Namanya juga mewakili. “apa kata dunia” (menyitir kalimat sakti dari Bang Naga Bonar dan moto nya Dirjen Pajak).

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik

On 17.49 WIB and still at the office

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.