Temu Penggemar Donal Bebek

Baru saja terima postingan dari mba Veranika Rachman tentang foto 4 tahun yang lalu. Aduh… jadi inget gimana ramenya tuh Jakarta Convention Center.temu penggemar ADB 2012

Kalau mau tahu saya tahun 2012, itu di depan sebelah kiri nomor 2 yang pakai tas selempang. Makanya, kalau Bang David Togatorop bilang mau mengadakan Fun Run, boleh bikin stand. Kalau saya sih pasti ikut pilih lari aja deh, “lari dari kenyataan” aja…. Yang ada baru lima puluh meter udah angkat bendera putih. Gubrak….

Dari Depok untuk Indonesia yang lebih baik

 

Filsafat dan Etika Administrasi

SIlakan diunduh untuk kepentingan perkuliahan di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia.

  1. KONTRAK PERKULIAHAN FILSAFAT DAN ETIKA ADMINISTRASI
  2. Materi Perkuliahan 1 Filsafat dan Etika Administrasi
  3. Materi Perkuliahan 2 Filsafat dan Etika Administrasi
  4. Materi Perkuliahan 3 Filsafat dan Etika Administrasi
  5. Materi Perkuliahan 4 Filsafat dan Etika Administrasi
  6. Materi Perkuliahan 5-Filsafat dan Etika Administrasi

Dari Depok untuk Indonesia lebih baik.

 

Selamat Jalan Profesor Bhen

Kamis, 11 Pebruari 2016
Akademisi penggagas enam fase putaran roda desentralisasi, Bhenyamin Hoessein, wafat. Ia salah satu dari sedikit ahli pemerintahan daerah di Indonesia.
Salah satu persoalan pelik yang terus muncul dalam sistem ketatanegaraan Indonesia adalah hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sentralisasi berlebihan yang dianut semasa Orde Baru dianggap menghilangkan ciri khas daerah, karena sentralisasi lebih menghendaki keseragaman. Era reformasi lahir, desentralisasi membesar, daerah semakin mendapat tempat yang lebih layak dalam hal pembagian kue anggaran, misalnya. Pemilihan kepala daerah juga dibuat bersifat langsung.
Hubungan pusat dan daerah tak sesederhana yang dibayangkan di atas kertas, atau seperti dirumuskan dalam kalimat perundang-undangan. Ada dinamika yang begitu fluktuatif sehingga kadang-kadang perlu pendekatan lain di setiap daerah. Walhasil, perubahan kebijakan pun berlangsung relatif cepat. Perubahan demi perubahan UU Pemerintahan Daerah dan peraturan teknis yang mengikutinya dalam lintasan sejarah ketatanegaraan memperlihatkan betapa peliknya mengatur pemerintahan daerah. Itu sebabnya tak banyak orang yang mendalami secara utuh masalah otonomi daerah di Indonesia.

Satu dari sedikit orang yang berhasil menggeluti bidang ilmu dan hukum pemerintahan daerah di Indonesia adalah Prof. Dr. Bhenyamin Hoessein, SH. Ia percaya pada kekuatan kerangka hukum untuk menggerakkan dinamika desentralisasi.

Selama puluhan tahun, setidaknya sejak 1970, Prof. Bhen –begitu ia biasa disapa murid-muridnya—menggeluti dunia pemerintahan daerah. Ia laksana ‘kamus berjalan’ kebijakan otonomi daerah di Indonesia. Setiap mengajar kepada mahasiswanya di Universitas Indonesia dan beberapa kampus swasta, ia lancar bercerita tentang perubahan-perubahan kebijakan otonomi daerah di Indonesia sejak era kemerdekaan hingga era reformasi, yang ditandai dengan amandemen UUD 1945.

Dan, dunia hukum Indonesia baru saja kehilangan pria kelahiran Tegal, 10 Agustus 1939 itu. Di salah satu ruangan RS St. Carolus Jakarta, Sabtu (06/2) pukul 03.15 WIB, Prof. Bhen menghembuskan nafas terakhir. Ia pergi menghadap Sang Khalik, meninggalkan seorang isteri dan dua orang anak.

Beberapa hari sebelumnya, murid-murid Prof. Bhen datang secara bergantian ke rumah sakit untuk menjenguk. Namun kondisi Prof. Bhen saat itu tak memungkinkan lagi berkomunikasi verbal dengan tamu-tamu yang datang ke rumah sakit. Merekalah yang kini mewarisi ilmu yang diajarkan sang guru selama puluhan tahun. Sebagian dari muridnya pula yang mengantarkan jenazah Prof. Bhen ke pemakaman terakhir di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Ilmu yang diajarkan Prof. Bhen, tentu saja, tak ikut tertanam di dalam pusaranya

Seorang muridnya, Prof. Eko Prasojo, mengenang Prof. Bhen sebagai guru yang memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa di bidangnya, sangat detil dan teliti terhadap kata, konsep, dan kalimat. “Tulisan-tulisan beliau  memancarkan pengetahuan yang mudah dicerna oleh pikiran manusia biasa. Pernyataannya tajam, bagi yang belum biasa kadang kurang pas. Komitmennya pada pengembangan ilmu sangat besar,” kenang Guru Besar Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia itu.

Salah satu karya Prof. Bhen tentang pemerintahan daerah yang merekam perjalanan pemikiran, pandangan dan ilmu yang dia ajarkan adalah Perubahan Model, Pola, dan Bentuk Pemerintahan Daerah: dari Era Orde Baru ke Era Reformasi. Buku ini merekam perubahan-perubahan kebijakan pemerintahan daerah sejak 1974 hingga 2004. Selama rentang waktu itu pula Prof. Bhen terlibat langsung dalam penyusunan payung hukum pemerintahan daerah, UU No. 5 Tahun 1974, UU No. 22 Tahun 1999, dan UU No. 32 Tahun 2004.

Seperti diakuinya sendiri, pergulatan Prof. Bhen pada isu-isu pemerintahan daerah di lingkungan akademik tak bisa dilepaskan dari jasa ahli Hukum Administrasi Negara,Mr  Prajudi Atmosudirdjo. Prajudi-lah yang ‘berjasa membekali ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan masalah-masalah otonomi daerah’.

Menjalani masa kecil hingga SMP di Tegal dan SMA di Jakarta, Bhenyamin Hoessein pada awalnya lulus dalam bidang ilmu politik dari Universitas Nasional tahun 1965. Setelah lulus ia bekerja sebagai pegawai negeri di Lembaga Pertahanan Nasional. Sambil bekerja, ia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan berhasil diselesaikan pada 1970, fokus  dalam bidang hukum tata pemerintahan (tantra). Setahun kemudian, ia diangkat menjadi staf pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Ahli ilmu politik Prof. Miriam Budiardjo, berperan mengajak Bhenyamin mengajar di FISIP. Suatu kali ia menyebut Prof. Miriam sebagai orang ‘yang telah banyak memberikan bantuan dan dukungan terhadap pengembangan karir akademiknya’.

Pada tahun 1974 Bhenyamin juga berhasil meraih diploma administrasi pembangunan dari Institute of Social Studies, Den Haag Belanda. Ketekunan dan fokusnya pada isu otonomi daerah kemudian mengantarkan suami Seha Salim Bouzier itu terlibat dalam berbagai aktivitas yang relevan, mulai dari penelitian hingga seminar dan lokakarya. Bahkan dalam Seminar Hukum Nasional yang diselenggarakan Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) – dulu LPHN—Bhenyamin menjadi narasumber utama dalam topik otonomi daerah. Demikianlah tercatat misalnya dalam dokumentasi Seminar Pembangunan Hukum Nasional VII di Jakarta (1999), dan VIII  di Bali (2003), baik sebagai pemakalah kunci maupun sebagai pemakalah pembanding. Penghargaan atas jasanya bisa dilihat antara lain dari MIPI Award 2012 dari Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia.

Kritik atas Amandemen Pasal 18
Sebagai seorang akademisi, Prof. Bhen selalu berusaha menjaga konsistensi dan independensinya. Karena itu, tak mengherankan ia tak segan melayangkan kritik atas pembentukan norma hukum dalam perundang-undangan jika menurutnya ada kekeliruan. Kritik itu tak hanya disampaikan di ruang kuliah, tetapi juga di forum seminar yang diselenggarakan para pengambil kebijakan.

Sekadar contoh bisa dilihat pada penyelengggaraan seminar ‘Arah Pembangunan Hukum Menurut UUD 1945 Hasil Amandemen’ yang diselenggarakan di Jakarta, Mei 2006 silam. Di forum ini, Prof. Bhen mengkritik keras hasil amandemen Pasal 18 UUD 1945. Pada saat dilakukan amandemen, judul bab yang menaungi Pasal 18 tidak tersentuh. Akibatnya, bab VI tetap berjudul ‘Pemerintah Daerah’, tetapi dalam penerbitan UUD 1945 hasil amandemen judul bab itu berubah menjadi ‘Pemerintahan Daerah’. Penerbitan dari instansi lain akhirnya mengikuti ‘kesalahan’ itu.

Perubahan itu mungkin terkesan sepele. Tapi bagi Prof. Bhen, penggunaan istilah yang berbeda menyebabkan terjadi kerancuan dalam Pasal 18, Pasal 18A, dan Pasal 18B UUD 1945 hasil amandemen. Setelah UU No. 32 Tahun 2004 lahir, kata Prof. Bhen, konsep yang dipakai kian rancu. Ia melakukan kajian khusus tentang perubahan judul Bab VI UUD 1945 dari ‘Pemerintahan Daerah’ menjadi ‘Pemerintah Daerah’. Hasilnya, perubahan itu bukan sekadar kesalahan ketik, melainkan ada nilai historisnya.

Dalam seminar di Jakarta tahun 2006 itu, Prof. Bhen tanpa tedeng aling-aling ‘menyalahkan’ pihak Sekretariat Jenderal MPR yang mengubah judul Bab VI UUD 1945 menjadi ‘Pemerintahan Daerah’. Ini juga membuktikan kejelian Prof. Bhen sebagai akademisi, dan memberi warning agar tidak terjadi masalah di kemudian hari, seperti yang pernah ia khawatirkan saat membahas UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. “Dalam praktek kelak akan timbul banyak konflik antara provinsi dan kabupaten/kota dalam menyelenggarakan urusan wajib”. Sebuah kekhawatiran yang kini terbukti.

Putaran Roda Desentralisasi
Bagi Bhenyamin, desentralisasi laksana roda yang terus berputar. Fase pertama, 1903-1922, desentralisasi bergerak menuju efisiensi. Fase kedua, 1922-1942 bergerak menuju efisiensi dan partisipasi. Pada masa pendudukan Jepang, roda desentralisasi itu dirusak. Setelah Indonesia merdeka (1945-1959), roda desentralisasi kembali bergerak ke arah demokrasi (kedaulatan rakyat). Putaran keempat, 1959-1974, arahnya menuju stabilitas dan efisiensi pemerintahan. Putaran kelima dalam masa berlakunya UU No. 5 Tahun 1974 menuju ke efisiensi (dan efektivitas) layanan dan pembangunan.

Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap dalam Ilmu Administrasi Negara, 18 November 1995, Prof. Bhen menyinggung putaran keenam dimensi tujuan desentralisasi. “Menurut saya, dalam putaran keenam kelak tempat yang harus dituju berupa tempat yang subur dengan demokrasi dan efisiensi. Kedua nilai tersebut sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup bangsa Indonesia.”

Dua puluh tahun sudah berlalu setelah ‘ramalan’ Prof. Bhen itu disampaikan. Puluhan, mungkin ratusan, orang yang dibimbingnya di pascarsarjana, juga sudah menulis tentang otonomi daerah pada umumnya. Kebijakan tentang otonomi juga telah mengalami dinamika selama dua puluh tahun itu. Undang-Undang Pemerintahan Daerah sudah berkali-kali berubah, bahkan dalam waktu yang relatif singkat. Kenapa singkat? UU No. 23 Tahun 2014tentang Pemerintahan Daerah –yang mencabut UU No. 32 Tahun 2004—berlaku mulai 2 Oktober 2014. Hanya dalam hitungan bulan, sudah dua kali Wetini berubah. Terakhir dengan UU No. 9 Tahun 2015.

Dilihat dari kacamata akademik, gagasan tentang enam fase perputaran roda desentralisasi pasti berkembang seiring dengan perubahan kebijakan otonomi yang begitu cepat. Prof. Bhen sudah membuka jalan untuk melakukan kajian lebih lanjut. Apakah kini sudah memasuki fase ketujuh, atau malah mungkin sudah kedelapan? Kini, tinggal bagaimana murid-muridnya mengembangkan ilmu (dan hukum) administrasi negara, khususnya desentralisasi, yang telah ditinggalkan Prof. Bhen.

Ia juga mengakui sifat dinamisnya desentralisasi itu. “Dari perspektif sejarah selalu muncul isu di seputar desentralisasi. Isu tersebut tidak pernah tertuju pada desentralisasi yang telah diterima sebagai doktrin, tetapi mengenai berbagai aspek dinamisnya.”

Kehidupan manusia juga begitu dinamis, beranjak dari satu fase ke fase lain, bergerak terus laksana gelombang laut. Dan gelombang itu harus berujung di tepian. Prof. Bhen juga telah sampai pada tepian kehidupan duniawi di pagi yang hening menjelang waktu Subuh tiba, 6 Februari 2016.

Selamat jalan Prof. Bhen….

Muhammad Yasin

Gunung Nona: antara Keindahan dan Persepsi Lelaki

Mendapatkan tawaran dari kolega untuk mengunjungi Enrekang dari awal tidak pernah saya tolak. Mengapa tidak, cerita tentang keindahan Gunung Nona dan pemandangannya yang seperti di Swiss membuat saya bertanya-tanya “betulkah Enrekang memang indah?”

20151206_054304

Saat tiba di Enrekang, saya tidak bisa menikmati sama sekali keindahannya. Hanya gelap di hampir semua pandangan mata, kecuali ada titik-titik lampu yang juga tidak mampu menggambarkan bagaimana pemandangannya itu indah.

20151206_053529
Bamba Puang dari Depan Rumah Makan Bukit Indah, Enrekang

Setelah ngobrol panjang dengan teman sekamar (yang jenis kelamin jelas berbeda dengan saya), akhirnya kami beranjak ke atas tempat tidur masing-masing. Yes… saya tidur sendirian di atas satu tempat tidur per ukuran besar (bagian bawahnya), sedangkan dua kolega saya plus seorang anak nya tidur di tempat tidur bagian atasnya, dan sang sopir kami (yang asisten dosen di Unhas) tidur di atas ambal. Lengkaplah satu kamar berlima. Untuk menjamin keamanan saya, saya sampaikan pada teman-teman saya bahwa saya akan tidur pakai mukena saja deh. Piss.20151206_072536

Baru saja mulai memejamkan mata, tiba-tiba ayam sudah berkokok. Dengan kaget saya melihat jam, memangnya sudah subuh? Ternyata jam tangan saya baru menunjukkan pukul 23 malam. Ah…dasar ayam Enrekang. Dia gak tahu bahwa ini masih malam.

Saya terbangun ketika alarm hape berbunyi. Dan ayam masih sahut-sahutan tak terputus. Duh… masih ngantuk nih. Jam berapa sih? Saya akhirnya tidur lagi, dan saya terbangun kembali saat adzan subuh berkumandang dari hape saya. Saya dengar, rekan saya sudah di kamar mandi. Akhirnya saya bangun, sholat, dan kemudian mencoba keluar kamar.

Sama sekali tidak ada rasa dingin. Pemandangan di depan tempat kami menginap adalah bukit batu. Saya baru tahu kalau namanya adalah Bamba Puang.

Setelah foto-foto, saya melihat ke bagian belakang. Ah, akhirnya tampak juga Gunung Nona. Dalam bahasa Enrekang disebut Buttu Kabobong. Saya mencoba melihat, mengamati. Kenapa ya Buttu Kabobong ini disebut Gunung Nona. Sampai saya kembali ke Depok, saya tetap tidak mengerti.

20151206_054958
Buttu Kabobong (Gunung Nona)- Enrekang

Berusaha menebak, tapi kok hati kecil saya berontak. Beberapa kolega di kampus yang perempuan pun juga mengernyitkan dahi waktu saya tunjukkan foto gunung ini. Apa ya? Payudara? Kok gak mirip. Ada yang bilang seperti vagina. Saya kok gak setuju. Sama sekali gak ada mirip-miripnya.

Inilah kalau analogi atau perumpamaan yang bermain. Lebih banyak persepsi nya ketimbang menggunakan logico-empirico. Di luar persepsi itu, bagi saya keindahan gunung ini (yang juga dipersepsikan) tidak terbantahkan.

Dari Depok untuk Indonesia Lebih Baik

Beragam Kuliner Enrekang

Akhirnya, setelah menempuh lebih dari 5 jam dari Makassar (berangka 12.30 – 18.15 WITA dengan berkendara familiy car bersama dua orang teman sekantor (Azis dan Teguh) plus anaknya Teguh (Alfatih) kami sampai juga di Rumah Makan Bukit Indah, Mandatte, Enrekang, kepunyaan Pak Djufri, kakak iparnya Teguh. Sayang, gunung yang pemandangannya diceritakan Teguh (gunung nona) sangat indah sudah tidak terlihat.

Selama di sana kami disuguhi beragam penganan manis. kue khas enrekangAda deppa te’tekan (di Toraja dikenal sebagai Deppa Tori) yang terbuat dari gula aren dan wijen di bagian atasnya (mirip rasa kue cucur dan kue gambang betawi), mantri sala (lapisan atas seperti kue talam dikombinasikan dengan srikaya gula aren, dan lapisan bawahnya memakai ketan), dan kue putu (yang beda banget dengan kue putu di Jawa karena lebih mirip ke bugis tapi tanpa isi kelapa+gula, namun rasanya juga manis).

Bagi saya yang hobi penganan asin, favorit saya adalah deppa te’tekan. Mungkin yang membuat rasanya khas karena ada wijennya, sehingga rasanya lebih gurih.

Penangan beratnya juga agak berbeda. Ada nasu cemba, dangke, dan sokko. Nasu cemba yang rasa-rasanya mirip asem-asem iga (hanya saja rasa asamnya diperoleh dari daun cemba – (sejenis tanaman petai/pete tapi batang dan tangkai-tangkainya berduri). nasu cemba

Dangke sendiri mirip dengan dadih diSumatera Barat. Disebut juga keju enrekang, karena sama-sama dibuat dari susu yang dimasak, diberi garam dan getah dari buah pepaya. dangkeFungsi getah ini agar susu mengeras. dan setelah mendidih diletakkan di atas tempurung kelapa dan hanya memerlukan waktu 5 menit pendinginan hingga menjadi keju. Keju Indonesia ini dijadikan lauk makan dengan cara digoreng.

20151206_102234Satu lagi adalah ketan merah disebut sokok yang katanya hanya tumbuh di Desa Salukanan. Disebut sebagai pulut mandotti.

Nah… ini baru sebagian aja. Masih ada kopi kalossi juga.

 

 

TIM PENILAI KOMPETISI INOVASI PELAYANAN PUBLIK 2015 DIDOMINASI AKADEMISI

Sumber: http://www.menpan.go.id/berita-terkini/3071-tim-penilai-kompetisi-inovasi-pelayanan-publik-2015-didominasi-akademisi

24 Februari 2015

JAKARTA – Tim evaluasi kompetisi inovasi pelayanan publik tahun 2015 yang didominasi akademisi menyusun tata cara penilaian proposal yang diserahkan oleh para innovator melalui sistem informasi inovasi pelayanan publik (SiNovik). Kegiatan pre seleksi kompetisi ini dilakukan untuk menyaring inovasi pelayanan publik yang akan dipanggil ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) guna melakukan presentasi.

“Kami juga akan memberikan penghargaan kepada inovator yang hanya lulus sampai tahap administrasi, karena kami menghargai usaha mereka untuk mengikuti kompetisi ini,” ujarnya hanya Deputi Pelayanan Publik Kementerian PANRB Mirawati Sudjono dalam rapat Pre Seleksi Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik 2015, di Jakarta, Selasa (24/02).

Dalam pelaksanaan penilaian, Kementerian PANRB menunjuk 10 anggota tim evaluator yang tertuang dalam SK Menteri PANRB nomor 25 tahun 2015 tentang Tim Evaluasi Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2015. Tim Evaluasi itu terdiri dari Komarudin sebagai Koordinator.

tim reviewer sinovik 2015

Adapun para anggota terdiri dari Deddy Tiksondari (Universitas Hasanudin), Ida Bagus Wyasa Putra (Universitas Udayana), Hardi Warsono (Universitas Diponegoro), Gabriel Lele (Universitas Gadjah Mada), Agus Kusnadi (Universitas Padjajaran), Susi Dwi Harjanti (Universitas Padjajaran), Lina Miftahul Jannah (Universitas Indonesia), Oskar Vitriano (Universitas Indonesia), dan Hartoyo (Universitas Negeri Lampung).

Berdasarkan SK tersebut, tim evaluasi ini bertugas melakukan desk evaluation terhadap proposal inovasi yang diajukan oleh kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dalam kompetisi inovasi pelayanan publik 2015. (bby/HUMAS MENPANRB)

10 Inovasi Unggulan Paparkan Produknya di Hadapan Juri

Penentuan inovasi peradilan terbaik dilakukan melalui rapat pleno dewan juri bersama Ketua MA.
CR19

10 Inovasi Unggulan Paparkan Produknya di Hadapan Juri

Para peserta inovasi peradilan dan dewan juri di gedung MA di Jakarta, Kamis (12/11). Foto: CR19
Ajang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Peradilan Mahkamah Agung 2015 hampir usai. Bertempat di ruang Wirjono Prodjodikoro, gedung Mahkamah Agung (MA) Kamis (12/11), dewan juri melakukan penilaian tahap akhir terhadap 10 inovasi unggulan. Nantinya, dari hasil penilaian ini, dewan juri akan menentukan inovasi terbaik dalam forum rapat pleno dewan juri.

“Dewan juri dipersilahkan untuk menuju ruang Pleno 1 dan 2 untuk rapat pleno dewan juri bersama dengan yang mulia, Ketua MA, Hatta Ali,” ujar Melly Affrisyah, Anggota Panitia Pelaksana Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Peradilan MA 2015.

Sesuai jadwal, hari ini dewan juri melakukan penilaian secara substansi atas presentasi dan wawancara terhadap 10 pengadilan dengan inovasi unggulan. Masing-masing peserta diberikan kesempatan untuk mempresentasikan produk inovasinya selama tujuh menit. Kemudian setelah itu, dewan juri berhak mengajukan sejumlah pertanyaan dengan diberi kesempatan kurang lebih 13 menit.

Berdasarkan pemantauan hukumonline, presentasi dan wawancara terhadap 10 inovasi unggulan berjalan lancar. Salah satunya peserta yang memaparkan presentasi adalah Pengadilan Negeri Klas IA Pekanbaru. Ketua Pengadilan Negeri Pekanbaru H.A.S Pudjoharsoyo secara langsung menyampaikan produk inovasinya yakni menghitung sendiri panjar perkara (E-SKUM).

Sebagai gambaran, E-SKUM merupakan inovasi dari PN Pekanbaru di mana para pencari keadilan dapat mengetahui biaya panjar perkara yang harus dibayarkan secara langsung melalui mesin yang disediakan oleh PN Pekanbaru. Pudjo menjelaskan, inovasi ini lahir karena dilatarbelakangi sistem birokrasi yang berbelit-belit hanya untuk mengetahui biaya panjar perkara.

“Ini untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pencari keadilan dengan ujungnya adalah terciptanya kualitas pelayanan publik di pengadilan agar proses di pengadilan dapat berjalan cepat, sederhana, dan berbiaya ringan,” kata Pudjo.

Menanggapi pemaparan Pudjo, salah seorang dewan juri yang juga seorang Panitera MA, Soeroso Ono, mengajukan pertanyaan. “Keluhan yang sering diajukan pencari keadilan adalah sisa panjar, apakah juga tercover?”.

Juri lainnya, Penggiat Inovasi Institusi Pemerintahan, Lina Miftahul Jannah, turut mengajukan pertanyaan. “Apakah itu dimungkinkan inovasi ini dijalankan dengan aplikasi di handphone?” tanyanya.

Pudjo mengatakan, fitur dalam E-SKUM terdiri dari dua macam. Pertama, fitur tambah biaya. Fitur ini digunakan ketika biaya panjar sudah mulai habis untuk digunakan selama dalam proses peradilan. Ketika proses peradilan sudah selesai dan masih terdapat sisa uang panjar yang belum terpakai, maka dilakukan sistem SMS Gateway.

Melalui sistem ini, pihak yang berkaitan akan diberitahu bahwa uang panjar yang dibayarkan sebelumnya masih terdapat sisa. “Dan rincian tentang biaya yang terpakai itu akan terpampang di dalam E-SKUM ini juga,” jelasnya.

Dijelaskan Pudjo, bahwa E-SKUM ini merupakan embrio yang nantinya akan dikembangkan secara online. Ke depan, E-SKUM ini akan dikembangkan dengan berbasis website yang tujuanya untuk memudahkan para pencari keadilan dalam menghitung biaya panjar perkara dimanapun mereka berada. “Kami sudah menyiapkan aplikasinya,” tandasnya.

Sebagai informasi, dari presentasi dan wawancara itu, dewan juri melakukan penialain terhadap dua komponen utama, yakni komponen presentasi dan wawancara, serta komponen substansi. Pada komponen presentasi dan wawancara, dewan juri melakukan penilaian dengan membagi kedalam dua unsur penilaian.

Dua unsur penilaian itu antara lain, ketepatan waktu, kejelasan penyampaian, dan tata cara penyajian. Unsur penilaian yang kedua, yakni pengetahuan mengenai produk inovasi, alasan pemilihan inovasi, serta evaluasi pelaksanaan dan pengembangan produk inovasi. “Masing-masing diberikan bobot sebesar 10%,” sebagaimana dikutip dari panduan penilaian.

Sementara untuk komponen yang kedua yakni substansi, paling tidak ada empat unsur yang dilakukan penilaian. Antara lain, unsur kebaruan, kebermanfaatan, replikasi, dan keberlanjutan. Dari unsur kebaruan, salah satu poin yang dinilai adalah apakah inovasi ini merupakan ide orisinil atau modifikasi dari yang sudah ada.

Lalu, dari unsur kebermanfaatan, dilihat apakah inovasi itu memberikan kepuasaan bagi pengguna, serta menuntaskan permasalahan pelayanan. Sementara unsur replikasi, salah satu yang dinilai adalah apakah inovasi tersebut dapat direplikasi dengan mudah oleh lingkungan peradilan lain. Dan daru unsur keberlanjutan, salah satu penilaiannya adalah apakah ada potensi untuk diterapkan di satker lainnya.

“Masing-masing unsur tersebut, diberikan bobot sebesar 20%,” sebagaimana disebut dari panduan penilaian.

Sebagai informasi, penilaian tahap akhir ini dilakukan oleh dewan juri yang berjumlah 10 orang yang terdiri dari lima pejabat MA, yakni Prof Takdir Rahmadi (Ketua Kamar Pembinaan MA), Dr Syarifuddin (Ketua Kamar Pengawasan MA), Dr Purwosusilo (Hakim Agung), Nurhadi (Sekretaris MA), dan Soeroso Ono (Panitera MA).

Lalu dua orang mantan pejabat MA, yakni Widyatno Sastrohardjono (Mantan Ketua Kamar Pembinaan MA) dan Atja Sondjaja (Mantan Ketua Muda Kamar Perdata MA). Dan selebihnya dari unsur professional, yakni Prof Eko Prasojo (Guru Besar UI/ Pakar Reformasi Birokrasi Nasional), Erry Riyana Hardjapamekas (Mantan Wakil Ketua KPK), dan Dr Lina Miftahul Jannah (Doktor UI/Penggiat Inovasi Institusi Pemerintahan).

Love for Bapak

Pak, kata orang kemarin itu hari ayah. Wah, seumur Lina sekarang, baru tahu kalau 12 November tuh hari ayah.

Tadi malam, Lina pulang tidak pamitan karena saat Lina lihat Bapak tidur pulas, baru Lina lihat Bapak begitu lelah dan sedih (kalau tidak mau disebut kehilangan berat). Walaupun Bapak berusaha menunjukkan kalau Bapak tuh tegar sekali dan tidak mau terlihat sedih di depan kami, kami tahu bahwa Bapak begitu terguncang. Pak, itu sangat manusiawi, kok.

Pak, kita itu mirip sekali. Sama-sama aquarius. Toh mami, selalu bilang. Kamu ini mirip banget sama Bapak kamu, ya baiknya ya buruknya. Tidak tahu mengapa, bagi Lina, Bapak telah menjadi teladan dan panutan untuk semuanya. Mulai dari kecerobohan, kecuekan berpakaian, nyeleneh, sampai melawan banyak kemapanan. Integritas, kesetiaan, kemandirian, dan semangat berjuang yang Bapak contohkan, Insha Allah terus Lina pertahankan. Mudah-mudahan capaian prestasi Lina yang tidak seberapa ini membuat Bapak dan keluarga banda.

Pak, bukannya Lina juga tidak sedih. Kalau Lina kemudian tidak tampak menangis pun saat mami dulu menghadap Sang Khalik tahun 1997, Lina ingin nampak tegar di depan adik-adik termasuk Bapak,Teramat berat, pak. Terlalu sakit, pak.

Selamat hari Ayah. Terima kasih atas segala inspirasi dan pembelajaran dari Bapak. Bapak dan Mami selalu jadi pahlawan buat Lina. Tuhan tahu yang terbaik untuk ummatnya.

Dari atas KA Sawunggalih Kursi 16A menuju Purwokerto

Selamat jalan, Dek….

Saat saya menulis catatan ini, satu hari setelah kamu dipanggil Sang Pencipta. Saya yakin, kalau kamu membaca tulisan ini, kamu akan tahu, walaupun saya tidak pernah ada di samping kamu, tapi saya selalu ingat bahwa kamu adalah sama dengan saya. Sama-sama anak bapak dan mami. Kalau kita tidak pernah seiya sekata untuk banyak hal, bukan berarti kita tidak saling menyayangi, kan?

Sikap kita berdua seperti bumi dan langit. Tapi, tahukah kamu bahwa bumi dan langit walau berjauhan tetapi tetap terlihat dekat kan?

Banyak yang seharusnya masih bisa kita diskusikan, masih bisa kita bicarakan sebagai saudara. Tapi, memang penyesalan tuh tidak pernah ada di awal, selalu di akhir.

Dek, maaf kalau selalu bilang sama abang kalau kamu itu bandel. Gak pernah mau berobat kalau sakit. Gak pernah mau bicara apa yang kamu rasakan, kecuali saya melihat kamu orang yang keras, mungkin kata orang karena kamu terlahir sebagai leo. Toh, kamu adalah orang yang bertanggungjawab apalagi saat saya sudah pindah rumah.

Lucu juga ya, kalau baru sekarang saya sebut kamu adek. Bukan saya gak mau memanggil itu, tapi kita memang terbiasa hanya memanggil nama. Terakhir kita peluk-pelukan waktu abis sholat idul fitri, ya? Bahkan kita sempat foto-foto. Dan terakhir kita komunikasi via what’s app hanya satu kalimat saja. Selebihnya, bukan saya malas bicara dengan kamu, habis, kita memang sejak kecil selalu berbeda. Walaupun mami sering membelikan baju yang sama, mengajak ke tempat yang sama, tapi entahlah mengapa kita tidak dekat.

Saya sebenarnya iri loh sama kamu. Sejak kecil, kamu selalu dibanggakan karena kamu terlahir pas Indonesia merayakan kemerdekaannya 33 tahun, 17 Agustus. Makanya Dek, kamu diberi nama Titi. Tigapuluh Tiga. Huriyati dari bahasa Arab Huriyah, artinya kemerdekaan. Nah, pas banget kan. Bapak dan Mami memang sangat luar biasa memberikan nama kepada anak-anaknya, semua bermakna sangat dalam. Terus, sejak kamu lahir dan membawa pulang “si montok” ini ke rumah, ternyata kata mami, kamu terlilit tali pusar saat di dalam kandungan. Kata mami dan orang-orang lainnya, kalau terlilit tali pusar saat lahir, pasti jadi anak canti dan pantas pakai pakaian apapun juga. Bikin sirik gak sih? Sedangkan saya?

Dek, saya memang tidak pernah menangis akan kepergianmu. Bukan berarti saya tidak sedih akan kepergianmu. Saya tahu, Sang Pencipta sangat sayang sama kamu. Masak, saya harus bersaing dengan Tuhan dan kemudian melarang Tuhan bertemu dengan ciptaannya? Tuhan tahu, kamu sudah lelah dengan sakitmu.

Dek, untunglah kamu didamping seorang laki-laki yang juga sangat bertanggungjawab, selalu mendampingi hingga kamu pergi. Terima kasih, Frans “Faang Jangkung” Mustafa. Telah menjadi bagian dari kamu, Dek. Telah menjaga kamu sampai ke peristirahatan kamu yang terakhir.

Dek, kamu pasti senang karena sudah bertemu dengan mami. Kamu juga pasti senang karena tidak lagi merasakan sakit. Maafkan saya. Sejarah bahwa kita adalah adik kakak tetap akan sama dan tidak berubah. Sampai bertemu nanti. Selamat jalan, Dek.

Mereka pahlawanku, siapakah pahlawanmu?

“Selamat Hari Pahlawan, Semangat Kepahlawanan adalah Jiwa Ragaku” adalah tema yang diusung pada 2015 untuk memperingati Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November. Peringatan hari Pahlawan bukan hanya dengan upacara bendera dan kemudian mengheningkan cipta. (Saya ingat, terakhir upacara bendera adalah 17 Agustus 1995 di Lapangan Rotunda UI).

Kalau dulu para pahlawan adalah pejuang yang membela tanah air ini melawan para penjajah, saat ini tinggal semangatnya yang harus dipertahankan untuk membela bangsa dan negara ini mengingat hingga saat ini kita pun masih “dijajah” dengan banyak hal.

Mengapa dijajah? Kita belum bisa membebaskan diri kita dengan berbagai kepentingan penjajah, yang notabene bisa saja penjajah itu adalah diri kita sendiri. Saat kita mengagungkan dollar dan menganggap rupiah tidak lebih dari sekadar uang lecek yang dipakai hanya untuk berbelanja ditukang sayur atau membayar angkot karena memang harus dibayar kas maka kita masih dijajah.

Ketika kita lebih senang berwisata ke negara lain dengan alasan di negara ini obyek wisata tidak dikelola dengan profesional, maka kita tidak membela negara ini dengan mengubah pola pikir.

Coba kita sama-sama berpikir, apa yang akan kita dapatkan dengan eksplorasi ke tempat tujuan wisata domestik? Selain menikmatinya, kita bisa ikut memperbaikinya. Masalahnya, apakah kita masih peduli dengan itu semua.

Ketika kita menjual harta bangsa dan menggali membabi buta sumber daya alam, maka kita pantas mempertanyakan, apakah itu sifat kepahlawanan?

Ketika kita lebih senang menyisipkan bahasa asing atau bahkan pernuh berbahasa asing padahal dalam acara nasional, maka kita harus memikirkan kembali di mana letak rasa kebanggaan akan bahasa kita.

Lantas, siapakah pahlawan kita? Di benak saya, pahlawan bukan orang yang berjuang mengangkat senjata dan ketika dia wafat maka tempatnya di Taman Pemakanan Pahlawan. Tapi, dia yang membuat kita harus berpikir, menempatkan, dan bertindak sebagai orang Indonesia. Guru dan dosen yang mengajar dan mendidik tidak hanya untuk mendapatkan sertifikat profesinya, pengusaha kreatif yang terus-menerus membina usaha kecil sehingga menjadi berdaya, aparatur sipil negara yang melaksanakan semua aturan dengan kebajikannya, dan mahasiswa yang tidak hanya memilih kuliah di dalam kelas tetapi menempatkan diri sebagai mahasiswa yang peduli lingkungannya.

Setiap orang bisa mendefinisikan apa itu pahlawan, dan buat saya kita dapat menjadi pahlawan, untuk diri mereka sendiri, untuk orangtua yang tidak lelah mendidik dan memberikan kasih sayang, untuk pasangan yang selalu memberikan dorongan agar kita tetap berkarya, untuk guru-guru yang memberikan pengetahuan, untuk para tetangga yang telah menjadi keluarga terdekat, untuk para sahabat yang setia kepadanya, untuk teman yang pernah tidak sepaham, dan untuk para pemimpin bangsa yang memiliki komitmen membangun bangsa.

Rindu untuk orang-orang terkasih yang telah menjadi pahlawan terbaik dalam hidupku, Bapak, Mami, dan Bang Yasin.

Dari Depok untuk Indonesia yang Lebih Baik